
Fani termenung seorang diri di meja kerjanya. Bahkan gadis itu tak menyadari jika ada seseorang yang telah mengamatinya sejak tadi.
Gadis itu terus menatap layar komputer yang sudah mati dan mengingat pembicaraannya dengan Vivian siang tadi.
"Vi.. Aku.." Fani tak melanjutkan ucapannya.
Sedikit perasaan bersalah berkelebat di dalam hatinya. Namun dirinya juga merasa bingung. Kenapa dirinya yang harus merasa bersalah.
Mencintai seseorang bukanlah kesalahan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur hatinya sendiri, karena cinta hanya akan datang begitu saja, tanpa disadari.
'Lantas, apa perasaan ku tidak berharga?' batin Fani.
"Sejak awal aku mengenal Hanniel, aku tahu perasaannya bukan untukku. Aku tahu, dia hanya menjalani hubungan ini karena mengikuti keinginan mamanya. Tapi, meski begitu aku merasa bahagia. Itu cukup untukku.. Aku sama sekali tak mempermasalahkannya.." ucap Vivian pelan.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena tidak memberitahumu sama sekali. Sebenarnya, aku baru bertemu dengannya lagi, tepat saat hari pertunangan kalian. Selanjutnya, aku dan dia sama sekali tidak ada hal istimewa yang terjadi. Masalah perasaan Hanniel, aku sama sekali tak mengerti. Tentang hal yang terjadi di antara kalian, lebih baik kalian bicarakan berdua.." ucap Fani dengan lembut.
"Aku mengerti.. Lalu bagaimana dengan perasaanmu padanya? Bukankah selama ini kamu selalu menunggunya? Kamu masih menyukainya bukan?" tanya Vivian.
Fani tersenyum simpul.
"Perasaanku bagaimana, sepertinya tidak terlalu penting. Lagi pula, aku sudah terbiasa tanpa kehadirannya. Semua kisahku dan dia sudah menjadi masa lalu. Yang sudah berlalu biarlah. Dengan mendengarmu mengatakan 'aku sungguh-sungguh menyukainya', aku pikir itu cukup menjadi alasan untukku melepasnya. Aku tak mungkin terus menerus menggenggamnya. Dia dan aku memiliki takdir masing-masing yang harus dijalani dan mungkin tak akan pernah menjadi 'kami'. Aku mendukungmu. Aku akan melepasnya. Jangan khawatir.." jawab Fani dengan bersungguh-sungguh, meski hatinya terasa nyeri.
'Aku akan melepasnya..'
Kalimat itu terus terngiang didalam kepalanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Fani menangis sesenggukkan.
Hansen dan Riri yang berada di dekat gadis itu nampak cukup terkejut mendengar isak tangis Fani yang semakin menjadi. Riri berjalan menghampiri temannya itu dengan rasa khawatir.
"Fan, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Riri lembut.
Fani yang mendengar itu langsung memutar tubuhnya ke arah kanan dan dengan cepat kedua tangan gadis itu memeluk erat pinggang Riri.
Riri yang masih tampak bingung mengelus pelan kepala Fani seraya memberi isyarat pada Hansen yang terdiam terpaku di tempat duduknya menyaksikan keduanya. Untung saja Hansen cukup pintar dalam menangkal isyarat mata Riri.
Laki-laki itu langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mencoba menghubungi sang atasan.
Tak butuh waktu lama bagi Evan untuk sampai diruang kerja Fani. Laki-laki itu sempat terdiam mematung tatkala melihat dan mendengar tangisan gadis yang disukainya terkesan begitu memilukan.
"Kalian semua pergilah beristirahat dulu sebentar.." perintah Evan pada beberapa pegawainya yang kebetulan berada disana.
Fani masih menangis sesenggukkan seraya membenamkan wajahnya pada perut Riri. "Fan, ada Evan.. Lebih baik kamu mengobrol dengannya.. Barangkali bisa mengurangi beban yang ada di hati kamu.." ucap Riri.
Perlahan Fani melepaskan pelukannya dan Riri langsung pergi meninggalkan kedua orang itu disana. Suasana mendadak hening. Hanya ada air mata Fani yang masih jatuh menetes tak kunjung berhenti.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan lembut.
"Apa.. Emmm.. ada hubungannya dengan Vivian?" tanya Evan hati-hati.
Fani mengangguk pelan seraya menatap kedua mata atasannya yang kini berjongkok dihadapannya.
'Sudah ku duga..' batin Evan.
"Lalu.. Emm.. Kalau boleh tahu, apa yang kalian bicarakan?" tanya Evan ragu.
"Aku melepaskannya.." sahut Fani disela isak tangisnya.
"Aku benar-benar melepaskannya.." Fani memperjelas kalimatnya.
Mendengar itu, Evan sepertinya paham apa yang di bicarakan kedua gadis itu siang tadi.
"Dia.. Dia bertanya padaku, apa aku masih menyukai Hanniel? Aku ingin menjawab dengan lantang bahwa benar aku masih menyukainya. Tapi suara ku tercekat di tenggorokan.. Terlebih.. melihat wajah Vivian, aku tak ingin melukainya.." terang Fani seraya terisak dan tesendat-sendat.
"Jadi, dia sudah tahu tentang hubungan kedekatan kamu dan Hanniel di masa lalu?" tanya Evan datar tanpa rasa terkejut.
Fani mengangguk.
"Aku sudah berulangkali berkata pada diri sendiri bahwa aku ingin melepasnya dan aku terus meyakinkan diri ku sendiri dengan kalimat itu. Tapi aku tak pernah membayangkan bahwa kalimat itu terasa begitu menyakitkan saat terucap dengan penuh kesungguhan. Kali ini, aku mungkin akan benar-benar kehilangan Hanniel.." lanjut Fani seraya mengusap air mata di pipinya.
"Kenapa kamu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatimu? Bukankah kamu menolak ku karena perasaanmu masih tertuju untuknya? Sekarang, hanya karena satu pertanyaan dari Vivian, kamu melepasnya begitu saja.. Kamu yakin tak ingin memperjuangkannya sekali lagi?" tanya Evan dengan berat hati.
Fani menatap Evan dengan kedua matanya yang basah.
"Bukan berarti aku mendukungmu.. Ingat, aku baru beberapa hari yang lalu mengutarakan perasaanku padamu.. Aku hanya berlapang dada dan menerima penolakan itu. Hanya saja, aku sedikit keberatan jika kamu menolakku karena Hanniel sementara hubungan mu dan laki-laki itu tidak kamu perjuangkan. Bukankah itu sedikit merendahkanku?" celoteh Evan guna memecah rasa sepi.
Fani menundukkan kepalanya menatap ubin di bawah kakinya.
"Tapi bukan hanya aku yang menyukainya.. Vivian juga memiliki hal seperti yang aku rasakan.. Aku tak ingin dengan egois merampas kebahagiaan orang lain.."
"Kebahagiaan siapa yang kamu maksud? Hanniel? Vivian?" tanya Evan.
Fani terdiam. Dirinya tahu betul perasaan Hanniel yang sebenarnya pada dirinya. Namun, saat telah mengetahui semua itu, seolah keadaan tiba-tiba memporak-porandakan segalanya.
"Fan, anggap saja aku sebagai pelengkap cerita dalam kisahmu dan Hanniel. Anggap saja aku sebagai seseorang yang kurang lebih mengetahui tentang isi cerita kamu dan dia di masa lalu. Entah itu yang pernah kudengar dari mu atau yang tertulis dalam novel mu dan Vivian ataupun atas ucapan yang pernah Hanniel bicarakan denganku. Aku pikir jika kamu menyerah begitu saja, bukan hanya kamu yang tersakiti. Ada hati lain yang juga mungkin merasakan sakit. Tidakkan kamu pernah berpikir tentang perasaan Hanniel?" tanya Evan.
"Apa maksud kamu?" tanya Fani bingung.
"Aku mendengar dari mama mu bahwa katanya Hanniel telah mengutarakan isi hatinya padamu.. Bukan kah itu sudah menjelaskan apa yang selama ini kamu tunggu dan harapkan? Dan setelah keinginanmu terwujud kamu justru ingin melepaskannya.. Bukankah itu hanya akan menyakiti banyak hati?" terang Evan.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Fani dengan air mata yang kembali menetes.