
Hanniel duduk disebuah bangku kayu di taman belakang rumahnya. Malam itu dirinya merasa sedikit gelisah, apalagi jika bukan tentang sang adik semata wayangnya.
Sang papa yang baru saja mengambil minum di dapur, tak sengaja melihat punggung putranya. Dilihatnya dalam diam sang putra tampak menghembuskan nafasnya dengan berat beberapa kali.
"Kamu kenapa malam-malam begini belum tidur?" tanya sang papa yang memutuskan untuk menghampiri sang putra.
"Pa!" Hanniel sedikit terkejut melihat kemunculan sang papa yang tiba-tiba.
"Kenapa dengan wajahmu? Kok merengut begitu? Apa terjadi sesuatu?" tanya sang papa sambil duduk disamping Hanniel.
"Aku hanya mengkhawatirkan Kania. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya!" jawab Hanniel lesu.
"Papa juga mengkhawatirkannya, tapi papa tahu dia itu gadis yang pintar! Hanya saja papa sedikit mengkhawatirkanmu!" seru sang papa.
"Hari ini adalah hari pertunangan kamu, termasuk hari bahagia dalam hidup kamu. Tapi, kenapa hari ini kamu terlihat lebih sedih?" tanya sang papa.
"Aku gak kenapa-kenapa!" jawab Hanniel singkat.
"Kamu yakin setelah melihatnya datang di acara pertunanganmu tadi, kamu baik-baik saja?" tanya sang papa lagi.
Kali ini kedua mata pria paruh baya itu menatap lekat sepasang mata putranya. Bibir Hanniel tak mampu menjawab pertanyaan yang sederhana seperti itu.
"Apa kamu masih menghubunginya?" selidik sang papa.
"A-akuuu.." Hanniel tampak ragu menjawabnya.
"Jangan khawatir. Disini hanya ada kamu dan papa, sedangkan mama kamu sudah tidur," seru papa Hanniel.
Hanniel mengangguk. "Baru saja aku menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Kania, tapi yang menjawab panggilan telepon ku adalah Evan!"
"Evan? Apa itu laki-laki yang datang bersamanya tadi?"
Hanniel mengangguk lagi. Entah kenapa hari itu perasaannya carut-marut tak menentu. Terlalu banyak yang dipikirkannya.
"Kamu pasti kecewa. Disini papa juga merasa bersalah. Papa diam-diam sering memperhatikanmu. Kamu yang dulu lebih sering tertawa tapi sekarang, kamu lebih banyak diam."
Hanniel menatap sang papa dengan wajah lusuhnya.
"Jika seandainya papa mengijinkanmu untuk memilih antara gadis itu dan Vivian, kamu akan memilih yang mana?" tanya sang papa dengan raut wajah serius.
Lagi, bibir Hanniel terkunci rapat.
Pria paruh baya itu mengangkat tangan kirinya dan merangkul pundak sang putra.
"Setiap orang tua pasti ingin setiap anaknya bahagia. Papa juga sudah tua. Jika setiap hari harus melihatmu menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan pilihanmu, itu membuat papa sedikit tertekan. Jadi..." sang papa tak melanjutkan kalimatnya.
Tangan yang mulai keriput itu mengelus lembut punggung sang putra.
"Pilihlah jalanmu sendiri. Jika kamu menyukainya, kejarlah! Buatlah keputusan untuk hidupmu sendiri!" seru sang papa.
"Jika aku melakukan hal itu? Bagaimana dengan mama dan Vivian? Aku tak ingin menyakiti keduanya."
Sang papa tersenyum kecil. "Ternyata benar kamu memang masih menyukainya!"
"Pa, aku..." kata-kata Hanniel terhenti seolah tenggorokannya tercekat.
"Hanniel, papa beritahu kamu. Terkadang manusia perlu memikirkan dirinya sendiri sebelum memikirkan orang lain. Apa kamu mengerti?" tanya sang papa dan Hanniel menjawabnya dengan anggukkan kepala.
**
Ditempat lain di waktu yang sama, Evan tampak mengemudikan mobilnya di sepanjang jalan tanpa tahu kemana dia harus pergi. Berulangkali laki-laki itu menghubungi Kania, namun sama sekali tak dijawab.
Sampai dirinya teringat tempat khusus saat gadis muda itu biasa kabur. "Rumah Fani!" gumam Evan.
Dari jauh, lampu mobilnya menyoroti seorang gadis yang tampak berjongkok menyender di luar gerbang seorang diri.
"Ternyata benar kamu disini!" seru Evan seraya menghampiri Kania.
Kania menatap wajah Evan dengan mata yang masih basah.
"Percuma kamu berjongkok disini semalaman, dia tidak ada dirumah ini!" seru Evan dingin.
"Lalu, kak Fani dimana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kania dengan suara yang parau.
"Fani menginap di tempat ku dan kamu lebih baik cepat pulang. Kakak kesayanganmu mengkhawatirkanmu!" ucap Evan.
"Gak mau!" sahut Kania sedikit berteriak membuat Evan menatap ke kanan dan ke kiri. Bukan tanpa sebab, laki-laki itu takut jika warga disana akan salah paham.
"Gak perlu teriak-teriak! Ini sudah malam, semua orang sudah beristirahat!" tegur Evan tegas.
"Habis kamu menyuruhku pulang!" seru Kania tak mau kalah.
Evan menggertakan giginya sembari menggaruk kepala bagian belakang yang tak terasa gatal. Dirinya kesal dan juga benar-benar bingung menghadapi sifat keras kepala Kania.
"Kalau begitu tidurlah disini. Aku mau pulang dan beristirahat. Merepotkan saja!" gertak Evan.
Tubuh Evan baru berbalik hendak meninggalkan Kania, namun tangan gadis itu memegang pergelangan tangannya membuat langkah kaki Evan terhenti.
"Jangan pergi. Temani aku!" pinta Kania dengan wajah yang memelas, tangisannya pecah.
"Kalau kamu ingin aku menemanimu, baiklah. Tapi aku punya persyaratan!" sahut Evan.
"Apa itu?" tanya Kania sembari sesenggukkan.
"Kamu harus patuh mendengarkan ucapan ku dan tidak membantah!" ucap Evan.
Baru Kania akan membuka mulut, Evan sudah keburu melanjutkan kalimatnya.
"Tenang, aku tidak akan menyuruhmu pulang kerumah. Sekarang cepat berdiri dan masuk kedalam mobil!" lanjut Evan.
Baru hendak akan melangkahkan kaki, Evan sudah menghentikannya.
"Beri aku nomor telepon kakakmu!" pinta Evan dan Kania langsung memberikannya tanpa berkata apa-apa.
"Kamu masuklah kemobil terlebih dahulu, aku akan menghubungi kakakmu!" perintah Evan.
Begitu Kania masuk ke mobil dan menutup pintu, Evan langsung menghubungi Hanniel. Laki-laki itu berjalan ke depan mobil dan menatap Kania dari luar.
"Aku sudah menemukan adikmu, tapi dia tidak ingin pulang, jadi aku akan membawanya ke tempat yang aman untuk beristirahat!" ucap Evan begitu Hanniel mengangkat telepon darinya.
"Terima kasih. Apa dia baik-baik saja? Dia belum sempat makan malam soalnya," tanya Hanniel khawatir.
Evan masih menatap Kania namun dengan mengernyitkan dahi. Betapa berat malam itu harus dilaluinya. Masalah Fani sudah membuatnya sakit kepala ditambah kini dirinya harus menjaga seorang gadis muda yang keras kepala.
"Aku mengerti, aku akan memberinya makan! Tapi, aku melakukan ini tidak gratis. Aku ingin kita berdua bertemu tatap muka hanya berdua saja. Ada yang perlu dibicarakan!" ucap Evan dingin.
"Baiklah. Nanti beritahu aku alamat tempat menginap Kania, besok pagi aku akan menjemputnya, setelah itu aku akan menemuimu!" jawab Hanniel.
Setelah mendengar itu, Evan langsung memutus pembicaraan dan masuk kedalam mobil. Dia melihat ke arah Kania sambil menghembuskan nafas berat.
Tubuhnya mendekati gadis muda yang kini duduk disampingnya dan menatap gadis itu cukup dekat, membuat debar jantung Kania semakin cepat.
"Dasar anak kecil, memakai sabuk pengaman saja tidak bisa!" gumam Evan sembari menarik sabuk pengaman yang berada disisi kanan Kania dan laki-laki itu langsung menjauhkan tubuhnya dari Kania.