I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Cerita tentang mereka



Evan menghentikan laju mobilnya tepat didepan sebuah tempat makan yang berada dipinggiran jalan.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Kania bingung.


"Untuk makan, kamu gak lihat itu tukang nasi goreng? Cepat turun!" perintah Evan.


"Tapi aku gak lapar!" seru Kania berbohong membuat Evan tersenyum kecil.


Jelas-jelas sedari tadi laki-laki itu mendengar bunyi perut Kania yang terus menerus berteriak.


"Baiklah. Karena aku lapar maka aku akan makan, kalau kamu gak mau ya terserah saja!" kata Evan seolah tak peduli.


Namun pada saat Evan turun dari mobil, Kania ikut turun juga dan mengekor dibelakang laki-laki itu.


Sesaat setelah keduanya memasuki tenda berwarna oranye, berbagai bau harum sudah menusuk hidung, membuat Kania memegang perutnya. Namun matanya menatap lingkungan sekitar yang terkesan 'berantakan'.


"Kenapa? Kamu belum pernah makan ditempat seperti ini?" tanya Evan.


Kania menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan itu. Kini kedua tangan Kania tampak sibuk membersihkan meja didepannya dengan tisu.


"Debu.." gumamnya pelan.


Evan mengangkat tangannya memanggil seseorang yang kemudian langsung datang menghampirinya. "Mas, saya pesan nasi goreng ayam satu dan teh panas satu!" serunya pada seorang lelaki muda yang tampak mencatat pesanan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Evan pada Kania.


"Aku mau nasi goreng seafood, jangan pedas dan air putih saja!" ucap Kania.


"Baiklah, tunggu sebentar ya!" jawab si mas yang tadi mencatat pesanan mereka berdua.


"Jangan salah paham ya, tadinya aku gak mau makan tapi karena kamu mengajakku kesini jadi aku terpaksa makan!" seru Kania membuat Evan tertawa.


"Terpaksa? Sejak kapan aku memaksamu untuk ikut makan?" sanggah Evan membuat Kania kesal.


"Kamu benar-benar menyebalkan!" gerutu Kania.


"Kamu?! Hei, aku ini lebih tua dari kamu dan seumuran dengan kakak kesayangan kamu itu!" Evan tampak kesal karena Kania seolah tak sopan padanya.


"Masa bodoh?! Weeee..." Kania menjulurkan lidahnya meledek Evan.


Dengan segenap kekuatan, Evan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, mencoba menekan kekesalannya.


"Hei, ada yang ingin ku tanyakan, ini tentang kakak mu dan Fani!" seru Evan membuka obrolan untuk memuaskan rasa penasarannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua sampai berpisah saat masih SMA dulu?" tanya Evan.


"Kenapa itu lagi sih pertanyaannya? Aku gak tahu. Lebih baik tanya kakak ku saja! Tentang itu pun aku masih penasaran.." jawab Kania.


"Sebenarnya dulu aku pernah berpikir kalau kakak ku mungkin saja akan menikah dengan kak Fani, bahkan saat aku dan kak Fani pergi bermain ke rumah yang baru dibeli orang tuaku, kak Fani pernah bilang 'Kan, nanti kalau kakakmu menikah, jangan lupa undang aku ya!' Terus aku bilang 'aku gak perlu undang kakak, kan kakak pengantin perempuannya!' Aku ingat dengan jelas perkataanku saat itu!" lanjut Kania sembari tertunduk lesu.


"Bukan, selama kuliah kakak ku gak pacaran sama sekali. Tapi memang setelah lulus SMA sikap kakak ku sedikit berbeda. Dia biasanya sering tersenyum atau tertawa, mendadak lebih banyak diam. Aku pernah bertanya apa terjadi sesuatu? Dia selalu diam! Jadi mama menyuruh kakak menemui psikolog yang ternyata itu adalah anak teman mama ku! Anggap saja mereka dijodohkan!" terang Kania.


"Oh iya, padahal sewaktu kakak ku masih sering menelepon kak Fani dan mengobrol sampai larut malam, kakak ku selalu tertawa. Entah kenapa, saat itu aku melihat wajahnya yang terlihat senang. Tapi sekarang dia sudah berubah!" lanjutnya.


"Mendengar ceritamu, kenapa aku merasa kamu seperti tidak begitu menyukai Vivian?" tanya Evan penasaran. Bukan tanpa sebab, laki-laki itu selalu merasa Kania bersikap acuh tak acuh pada calon kakak iparnya.


"Bukan begitu. Kak Vivian juga orang yang baik, aku tak mungkin membenci atau tidak menyukainya. Hanya saja..." Kania tak melanjutkan kalimatnya.


"Hanya saja kenapa?" tanya Evan lagi.


"Hanya saja aku selalu berpikir bahwa kak Vivian bukanlah pasangan yang tepat untuk kakak ku!" jawab Kania pada akhirnya.


"Bukan pasangan yang tepat? Bukankah mereka terlihat serasi? Keluargamu dan keluarga Vivian sama-sama keluarga kaya raya. Kakakmu pintar, Vivian juga begitu. Dimana yang kurang tepat?"


"Menurutku hanya kak Fani yang cocok dengan kakak ku. Kakak ku pintar dan kak Fani tidak terlalu pintar, kakak ku selalu disiplin dan kak Fani selalu ceroboh dan berantakan. Aku pikir sifat dan sikap mereka yang bertolak belakang itu jauh lebih sempurna. Mereka seolah bisa saling melengkapi satu sama lain. Bahkan, kakak ku selalu tertawa kecil saat kak Fani membuat lelucon konyol atau hanya mengeluh tentang tak bisa mengerjakan soal matematika yang begitu mudah. Hal seperti itu nyaris tak pernah dilakukan kak Vivian. Saat bersama kak Vivian, kakak ku selalu memasang wajah serius. Membuat ku tertekan saat bersama mereka!"


"Kudengar kakak mu pernah meminjamkan sejumlah uang pada Fani saat masih SMA. Apa benar?"


Kania menganggukkan kepala. "Tapi, kak Fani sudah membayarnya. Tunggu! Kamu tahu darimana??"


"Mama Fani yang menceritakannya. Lalu, hutang yang kedua katanya belum dibayar, berapa jumlahnya?" tanya Evan lagi.


"Itu bukan hutang. Aku dan kakak berpikir untuk membantu biaya pengobatan papa kak Fani yang waktu itu dirawat. Jadi itu sama sekali bukan hutang. Bahkan yang kak Fani anggap hutang saat pinjam ke kakak ku sewaktu SMA, kakak ku sama sekali tak pernah mengingatnya. Dia tulus membantu kak Fani!"


"Iya, jadi berapa nominal yang kamu dan kakakmu beri saat papa Fani masuk rumah sakit?" tanya Evan penasaran.


"Delapan juta! Sebenarnya waktu itu kak Fani hanya berniat meminjam dua juta, tapi kakak menyuruhku mengirim delapan juta!" jawab Kania.


"Murah hati sekali kalian.." ucap Evan setengah kesal karena dengan sikap 'baik' seperti itu membuat Fani semakin sulit melupakan Hanniel.


"Sebenarnya aku merasa bersalah dengan kak Fani. Aku pernah bercerita kalau mama ku kurang suka kak Han dekat dengannya," seru Kania murung.


"Apa alasannya?"


"Mama selalu bilang kalau kak Fani tidak berada di level yang sama dengan kak Han."


"Maksud mama mu itu masalah ekonomi keluarga Fani yang tak seperti keluargamu?"


Kania mengangguk membenarkan, membuat Evan tersenyum kecut.


Laki-laki itu berpikir, bagaimana bisa seseorang menilai orang lain berdasarkan materi semata? Apakah itu pantas? Apa sepenting itu harta kekayaan untuk keluarga Hanniel dan Kannia?


"Sekarang pertunangan kak Han sudah berjalan sesuai dengan keinginan mama ku, berarti itu tandanya sebentar lagi kehidupanku yang akan terusik..." gumam Kania sembari menyeruput pelan minuman yang sudah berada diatas meja.


"Maksudnya?"


"Mama ku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya pada kakak ku dan Vivian!" jawab Kania membuat Evan memandangnya dalam kebisuan.