I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Mengenang Kenangan



Malam sudah semakin larut namun mata Kania masih belum bisa terpejam. Jantungnya tak berhenti berdebar saat mengingat tentang satu sosok laki-laki bernama Evan.


Entah bagaimana sikap laki-laki itu mampu membuatnya terkesan. Bukan tanpa sebab, Evan adalah laki-laki kedua setelah sang kakak yang memperlakukannya dengan baik, meski terkadang Evan bersikap acuh tak acuh padanya karena dirinya adalah adik dari Hanniel, yang kini menjadi saingannya.


"A-aku tidak mungkin menyukainya.." gumam Kania pelan lalu gadis itu menarik selimut tebalnya menutupi seluruh tubuh serta wajahnya.


Sementara di tempat lain, Fani pun mengalami hal yang sama. Gadis itu terus membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata yang masih terbuka.


Rasa kantuk sama sekali tak terasa. Seolah dirinya telah menenggak puluhan cangkir kopi.


Dadanya terasa berdebar tak karuan, terlebih saat mengingat percakapannya dengan Hanniel di mobil siang tadi.


"Saat seperti ini, jadi ingat sewaktu aku menjemputmu dulu!" seru Hanniel membuka percakapan diantara keduanya yang sebelumnya begitu hening.


"Aku ingat, saat kamu datang menghampiri mobilku, kamu langsung tanya, 'aku duduk dimana ya?' Aku benar-benar merasa ingin tertawa setiap mengingatnya!" lanjut Hanniel sembari tersenyum kecil.


"Aku tanya begitu karena di kursi ini, penuh dengan kertas-kertas.. Kalau aku duduk dibelakang nanti dikira gak sopan.." sahut Fani tak mau kalah.


"Ahh.. Benar juga.." Ucap Hanniel.


"Aku pikir kamu sudah lupa.." gumam Fani pelan. Gadis itu mengatakan hanya untuk dirinya sendiri, namun laki-laki disebelahnya mendengar.


"Mana mungkin aku melupakannya.." sahut Hanniel. Ucapan laki-laki itu berhasil membuat Fani menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut.


"Aku juga masih ingat saat kita berdua mengobrol di lorong dekat lab biologi. Hanya kita berdua. Waktu itu kamu bilang, nilaimu jelek sekali dan dapat ranking tiga dari bawah. Hampir gak naik kelas.. Aku lumayan kaget.. Padahal aku membantu kamu belajar hampir setiap malam.." lanjut Hanniel membicarakan kenangan mereka berdua.


"Kamu baru tahu kalau aku ini bodoh?" tanya Fani seraya cemberut.


"Psttt.. Aku kan udah sering bilang, kamu itu gak bodoh, kamu itu malas.." ucap Hanniel seraya tertawa kecil.


"Apa bedanya bodoh dan malas, toh hasilnya sama aja.."


"Beda dong.. Kalau bodoh, kamu gak akan bisa sekalipun sudah berusaha.. Tapi kalau malas, asal kamu rajin, maka kamu pasti bisa.. Contohnya.. Hmm.... Kamu sering tidur dikelas sewaktu guru kasih penjelasan.. Kamu juga sering gak fokus tiap aku jelasin soal-soal.."


Fani tersenyum kecil mendengar penuturan Hanniel tentang dirinya.


"Sebenarnya, masa-masa sekolah dulu jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang, terasa lebih hidup di waktu itu ya.." ucap Hanniel, membuat Fani untuk kesekian kalinya terkejut.


'Apa yang sebenarnya ada dipikiran Hanniel? Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya?' batin Fani.


"Apa maksud kamu?" tanya Fani seolah meminta penjelasan lebih dari kalimat yang di ucapkan Hanniel.


"Maksudku, kehidupan masa-masa saat kita masih sekolah dulu jika dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang, sepertinya masa dulu lebih menyenangkan.. Sayang, waktu berlalu terlalu cepat.." Jelas Hanniel.


"Apa kehidupanmu sekarang membosankan?" tanya Fani dengan polosnya, disambut sebuah senyuman oleh Hanniel.


"Just a little bit.." jawab laki-laki itu singkat.


Fani termenung mendengarnya. 'Sebenarnya apa yang terjadi selama ini pada Hanniel? Dan.. Waktu berlalu terlalu cepat?? Aku justru merasa, waktu berjalan terlalu lambat, sampai detik dimana aku bisa bertemu denganmu lagi..' bisik Fani dalam hati.


"Han, kalau waktu bisa diputar ulang? Apa kamu akan membalas pesan dariku di hari itu? Sewaktu pertama kali aku kirim pesan ke kamu untuk berkenalan.." tanya Fani sekaligus menjelaskan maksud pertanyaannya.


Tanpa ragu Hanniel langsung membalas pertanyaan itu. "Tentu, aku akan membalasnya sama seperti waktu itu.."


Lagi, Hanniel tersenyum, kali ini senyumnya cukup lebar.


"Atas dasar apa aku harus takut? Setidaknya saat-saat itu, dengan mengobrol denganmu, aku bisa menghabiskan hari-hariku dengan lebih berwarna.." jawab Hanniel.


Mendengarnya, bibir Fani terasa terkunci. Selama percakapan mereka saat itu, Fani merasa Hanniel tak begitu dingin padanya, tak seperti saat keduanya pertama kali bertemu belakangan ini.


Fani memilih bungkam dan tak berbicara apa-apa lagi. Gadis itu merasa takut jika perasaannya pada Hanniel yang sudah susah payah ditekan, kembali hadir hanya karena obrolan ringan di antara mereka.


Fani jelas tak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan Hanniel dan Vivian. Dia tak ingin Vivian terluka, karena bagi Fani, dirinya tahu betul rasa pahit dari luka itu.


**


Fani tampak sibuk dengan pekerjaannya siang itu, bahkan sesekali gadis cantik itu memijat pelan dahi dan pelipisnya. Bahkan kedua matanya ia kerjap-kerjapkan beberapa kali demi mengusir penat.


"Fani!" seru Hansen setengah berteriak, mengejutkan dirinya.


"Astaga Hansen.. Pelan-pelan aja sih manggilnya.. Aku sampai kaget.." gerutu Fani dengan wajah kesal.


"Jangan salahkan aku. Aku dari tadi sudah memanggilmu berulang kali tapi kamu tetap tidak menyahut. Silahkan tanya Riri.." Hansen membela diri.


Mata Fani menoleh ke arah Riri yang tengah duduk tak jauh dari tempat Hansen berdiri dan Riri menanggapinya dengan anggukan kepala beberapa kali, tanda membenarkan ucapan Hansen.


"Kalau gitu, ada apa? Kenapa mencariku?" tanya Fani tak mempersoalkan kejadian tadi lagi.


"Aku barusan dari kantor pak bos, dan coba tebak apa yang kulihat disana?" tanya Hansen bermain tebak-tebakan.


Fani dan Riri sontak melempar pandang sembari berpikir dan menerka. Namun tak satupun dari keduanya yang buka suara.


Akhirnya, Hansen yang terlihat menggebu-gebu membocorkan apa yang baru saja dilihatnya.


"Sainganmu ada di kantor pak bos.. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal penting.." celetuk Hansen bersemangat.


"Saingan??" tanya Fani tak mengerti dengan arti kata itu.


"Apa Vivian maksudmu?" tanya Riri yang bisa menangkap maksud Hansen.


Fani berjalan menghampiri Hansen dan memukul pelan bahu lelaki itu. "Saingan-saingan.. Jangan bicara sembarangan.." tegur Fani.


"Apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya Riri penasaran.


"Aku juga gak tahu. Tadi ingin menguping, tapi Andre keburu mengusirku.. Hahaha.." sahut Hansen seraya tertawa kecil.


"Hei, apa Vivian tidak menghubungimu kalau dia akan datang kemari? Apa novel kalian sudah selesai?" tanya Riri bertubi-tubi membuat perasaan Fani sedikit gusar tanpa sebab.


"Dia tidak memberitahuku akan datang kemari.. Mungkin mereka membicarakan hal penting lainnya.." sahut Fani.


Baru saja bibir Fani tertutup, terdengar Andre memanggil namanya. "Fan, kamu di panggil ke ruangan pak bos.."


Fani, Riri dan Hansen tampak saling melempar pandang sebelum pada akhirnya kaki Fani melangkah pergi dari sana.