I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Mimpi atau kenyataan?



Fani terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari sudah sangat terang. Gadis itu merentangkan kedua tangannya ke atas, merasakan bahwa tubuhnya sudah jauh lebih baik.


Matanya melihat ke arah baskom kecil berisi air dan lap, yang berada di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Mendadak gadis itu teringat apa yang dilihatnya samar-samar tadi malam.


Fani langsung bergegas keluar dari kamar dan mendapati Kania tengah membantu menyiapkan beberapa peralatan makan di meja makan.


"Kania?" seru Fani nyaris tak percaya. Berarti wajah yang dilihatnya samar tadi malam itu benar wajah Kania dan dirinya sama sekali tidak sedang bermimpi.


Namun heran melihat Kania berada di rumahnya. Bukan tanpa sebab, sudah cukup lama mereka tak saling berkomunikasi lagi.


"Kak Fani sudah bangun?" tanya Kania sembari tersenyum manis.


Fani berjalan menghampiri Kania dan menatap gadis itu dengan seksama. "Kamu kenapa bengong?" tanya sang mama.


"Kamu datang kapan? Apa semalam kamu menginap disini dan mengkompresku sepanjang malam?" tanya Fani bertubi-tubi.


Kania tersenyum kecil. "Iya kak, semalam aku menumpang tidur di kamar kakak. Terus tiba-tiba kakak menggigil kedinginan, jadi aku pikir perlu mengkompres dengan air hangat agar demamnya turun."


"Te-terima kasih.." seru Fani yang masih merasa belum bisa lepas dari rasa terkejutnya.


"Nah, ini masakan yang terakhir sudah matang! Ayo Kania makan!" ucap mama Fani dan Kania langsung duduk dengan raut wajah yang bahagia. Gadis itu melahap habis seluruh sarapan paginya hingga bersih tak bersisa.


"Nambah lagi kalau masih kurang, jangan malu-malu!" seru mama Fani.


Sementara itu Fani terlihat sesekali mencuri pandang ke arah Kania tanpa Kania sadari. Fani hanya merasa ada yang salah dengan kedatangan Kania ke rumahnya.


**


"Tante, kak Fani aku pulang dulu ya!" seru Kania berpamitan.


Wajah Kania hari ini tak semuram hari kemarin. Suasana hatinya terasa jauh lebih baik setelah menginap disana.


"Biar kakak antar sampai halte bus!" seru Fani sembari pergi meninggalkan sang mama yang masih berdiri di pintu depan rumah.


Kedua gadis itu berjalan perlahan dan Kania tiba-tiba memeluk erat tangan kanan Fani.


"Kenapa? Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Fani.


"Apa aku harus memiliki masalah dulu untuk menginap dirumah kakak?" Kania balik bertanya.


Fani tertawa kecil. "Mama ku bilang semalam kamu menangis. Apa kamu bertengkar dengan keluargamu?" tanya Fani lagi dengan raut wajah yang berubah serius.


Kania menggeleng. Keduanya mengobrol sembari terus melangkahkan kaki.


"Aku hanya merasa sesak setiap berada dirumah. Aku ingin menghirup udara sejenak di rumah kakak!" terang Kania.


Fani terdiam tak bertanya apa-apa lagi. Dirinya tahu persis kondisi keluarga mereka seperti apa. Memiliki kedua orang tua yang cukup keras dan sedikit egois pasti sangat menyesakkan.


"Kalau begitu, sering-seringlah main kerumah kakak," timpal Fani pada akhirnya, membuat Kania semakin mengeratkan pelukannya dilengan Fani.


"Oh iya kak, tolong kakak jangan salah paham. Sewaktu kakak datang ke rumah waktu itu, kakak ku masih tidur karena kak Han selalu bekerja sampai larut malam," cerita Kania.


Fani hanya tersenyum kecil. Dia tahu persis sifat Kania. Gadis itu selalu berusaha sebaik mungkin agar dirinya tak memiliki prasangka buruk terhadap sang kakak.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Fani pelan.


"Seandainya aku mengatakan kalau kak Han sedang tidak baik-baik saja, apa kak Fani akan percaya?" tanya Kania menatap Fani dengan tatapan sedih.


Fani tak mengatakan apa-apa karena tak tahu apa yang harus dia katakan.


"Jangan khawatir, kak Han baik-baik saja. Tadi aku hanya bercanda!" seru Kania berbohong.


"Sudah kakak duga kamu hanya bercanda. Kakak gak percaya dengan ucapan mu tadi," timpal Fani sambil tertawa kecil.


"Kenapa kakak gak percaya kalau aku bilang bahwa kakak ku sedang tidak baik-baik saja?" tanya Kania.


"Karena kakak mu memiliki segala hal dalam hidupnya!" jawab Fani pelan.


"Kak, bagaimana jika kakak ku hanya terlihat memiliki segala hal dalam hidupnya padahal dia sendiri sebenarnya tidak sedang hidup di dunianya?" sahut Kania dengan raut wajah yang terlihat sedih seolah mengisyaratkan sesuatu, membuat Fani termenung.


'Jangan menengok kebelakang! Kakak tunggu di dekat halte!' isi pesan singkat itu.


Tak lama, sebuah mobil CR-V brwarna hitam melewati keduanya. Orang didalam mobil itu menatap Fani melalu kaca spion mobilnya.


"Kak, cukup antar sampai disini saja! Kakak cepat kembali ke rumah. Kakak kan masih sakit. Lagi pula tinggal belokan itu kok langsung sampai ke halte bus!" seru Kania.


"Baiklah, kamu hati-hati ya!" seru Fani menghentikkan langkah kakinya sementara Kania terus berjalan.


Hati Kania terasa berdebar karena khawatir takut sang kakak akan memarahinya. "Kak!" sapa Kania begitu masuk kedalam mobil CR-V hitam yang tadi melintas melewati dirinya dan Fani.


Hanniel tak menanggapi panggilan adiknya. Dirinya langsung tancap gas melajukan kendaraannya di jalan raya.


"Apa kakak marah karena aku menginap dirumah kak Fani?" tanya Kania was-was.


"Gak. Bukan itu. Kamu harusnya memberitahu kakak kamu sedang berada dimana. Kamu membuat mama papa cemas," terang Hanniel.


"Huft.. Kalau begitu aku harus bersiap dimarahi mama papa.." gumam Kania pelan.


"Semalam kakak bilang kalau kamu sedang menginap dirumah Joyce. Jadi jangan sampai salah bicara!" ucap Hanniel.


"Makasih kak! Kakak memang yang terbaik!" Kania langsung kembali bersemangat.


"Oh iya, kenapa kakak bisa tahu aku ada disana? Padahal semalaman aku mematikan ponsel ku!"


Mendengar kalimat itu, Hanniel langsung menjentik pelan kening adiknya. "Karena kamu adik kakak!" jawab laki-laki itu singkat.


Kania bisa tertawa lega mendengar itu, namun tetap saja ada satu hal masih mengganjal di hatinya. 'Apakah mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memberikannya selagi suasana hati kakaknya terlihat baik?' batin Kania.


"Kak.." panggil Kania lirih.


"Kenapa?"


Kania mengambil sesuatu dari dalam tas selempang hitamnya. "Ini.." Kania menyodorkan sebuah amplop putih tertulis nama 'Hanniel Adrian Wijaya' disana.


"Apa itu?"


"Sebelumnya maaf, karena aku baru memberi ini ke kakak sekarang. Sewaktu kak Fani memberikan undangan sebulan lalu, kak Fani menitipkan ini untuk kakak," jelas Kania.


"Apa kamu tanya itu apa?" tanya Hanniel lagi.


Kania menggelengkan kepalanya. "Aku hanya menerimanya begitu saja, karena aku sadar kalau itu bagian dari privasinya kak!"timpal Kania berbohong. Padahal dirinya tahu apa yang ada didalam amplop itu karena mendengar pembicaraan Evan dan mama Fani semalam.


"Tapi sepertinya hanya surat biasa!" lanjut Kania lagi.


"Oh.." Hanniel seolah tak peduli dengan amplop putih yang diberikan Kania dan menaruhnya begitu saja di dashboard mobil.


"Kak, sepertinya kakak punya saingan ya." Kania mulai memberanikan diri memancing sang kakak.


"Saingan? Maksudnya?" Hanniel masih tak mengerti.


"Sepertinya ada seseorang yang menyukai kak Fani. Kakak harus mulai berhati-hati!" goda Kania.


Hanniel baru mengerti. "Gak ada hubungannya dengan ku!" sahutnya dingin.


"Tapi, apa benar dia sakit?" tanya Hanniel kemudian.


"Iya, semalam badannya demam sampai menggigil dan aku mengkompresnya semalaman," terang Kania.


Mendadak gadis itu menyadari ada sesuatu yang salah. "Tunggu! Kakak tahu darimana kak Fani sakit?" tanya Kania.


"Kemarin kakak sempat ikut Vivian untuk tanda tangan kontrak kerja sama dengan atasannya dan 'seseorang' yang kamu maksud itu adalah orang yang kakak temui kemarin," jelas Hanniel.


"Wuah, ternyata saingan kakak cukup berat!"


Hanniel menatap sinis ke arah adiknya. "Jangan berbicara yang aneh-aneh!" tegurnya.