I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Bertemu dengannya



Evan memarkir mobilnya diparkiran sebuah restoran berkonsep taman yang berada ditengah-tengah ibu kota. Fani memperhatikan bahwa Evan berulangkali menghembuskan nafas berat. Laki-laki itu terdiam dan tak turun dari mobil sekalipun mesin mobil sudah dalam keadaan mati.


"Kenapa?" tanya Fani pada akhirnya.


"Fan, aku mau jujur.." seru Evan tiba-tiba. Wajahnya serius.


Jantung Fani berdegup kencang, khawatir jika Evan akan mengatakan rahasia lain tentang Hanniel yang belum dirinya ketahui.


"Didalam sana, ada seseorang yang kamu temui kemarin. Aku tahu, kemarin kamu dan orang itu tidak bisa berbicara apa pun. Maka dari itu, sekarang mengobrollah dengannya. Bicarakan apa yang memang ingin kamu bicarakan!"


Lidah Fani terasa kelu. Jika saja hari seperti ini datang lebih cepat, mungkin dirinya akan bahagia. Tapi sekarang, hatinya mulai ragu.


Hanniel telah memiliki seseorang dalam hidupnya sekarang, sedangkan dirinya hanyalah sebagian kecil kisah masa lalu yang tak memiliki arti apa-apa.


"Van, aku.." Fani tak dapat melanjutkan kalimatnya. Dia merasa bingung harus berkata apa.


"Kamu selalu mengatakan bahwa kamu ingin sekali bertemu Hanniel, kamu juga pernah datang kerumahnya tapi dia tidak mau menemuimu. Sekarang, kamu bisa leluasa mengobrol dengannya. Dan, tempat ini kebetulan tidak terlalu ramai."


"Kamu tahu darimana kalau aku pernah kerumahnya?" tanya Fani.


"Mama kamu yang cerita. Sudah cepat sana. Temui dia. Aku akan pergi setelah kamu masuk kedalam!" Evan memajukan tubuhnya ke arah Fani dan membuka pintu mobil disamping gadis itu.


Saat itu, dalam pikiran Evan, hanya berharap bahwa Fani akan segera menyelesaikan urusannya dengan Hanniel. Saat semua sudah beres, laki-laki itu ingin mengutarakan perasaan yang selama ini dipendam dalam diam.


Fani turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Melewati jalan setapak yang di penuhi rerumputan kecil berjejer rapih di kanan dan kiri. Restaurant itu terlihat tidak begitu ramai, padahal sudah jam makan malam.


Fani masuk terus kedalam sembari kedua matanya mencari sosok Hanniel ditempat itu. Laki-laki yang dicari ternyata sedang berdiri menyandarkan bahu kirinya pada sebuah tiang bangunan restaurant, membelakangi Fani yang tengah menatapnya dari kejauhan.


Punggung itu, adalah punggung yang sama seperti yang pernah dilihatnya sembilan tahun lalu. Saat itu kepala sekolah telah selesai menyampaikan pidatonya dihari terakhir ujian nasional.


Seluruh murid yang tadinya berkumpul, langsung menyerbu keluar aula, begitu juga dengan Hanniel. Laki-laki itu terlihat berjalan bersama ketiga orang teman sekelasnya menaiki tangga untuk kembali ke kelas.


Fani yang baru keluar dari aula, hanya dapat melihat punggung Hanniel yang semakin menjauh, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal ataupun salam perpisahan.


Namun, kali ini berbeda. Fani berjalan perlahan mendekati Hanniel dalam kebisuan.


Gadis itu mengakui bahwa jantungnya masih memiliki debaran yang sama seperti dulu. Tak ada yang berubah, meski hatinya telah patah berkali-kali.


"Hanniel.." Nama itu terucap dengan semburat rindu bercampur kekecewan.


Hanniel tak langsung membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu sempat terdiam sesaat, menyadari sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.


Kini, keduanya saling berdiri berhadapan. Dua pasang mata itu saling menatap dalam kesunyian.


Hanniel tak bisa menyembunyikan rasa gugup dalam dirinya. Bahkan, bibirnya tak mampu berucap saat menatap sosok Fani, gadis yang disukainya sekarang berada tepat dihadapannya.


"Hanniel.." panggil Fani lagi sembari mencoba menahan air matanya agar tak menyeruak keluar.


"Ya?" jawab Hanniel singkat.


Entah mengapa, kini untuk membuka sebuah percakapan biasa terasa sangat sulit. Padahal dulu, keduanya bisa dengan mudah mencari bahan obrolan untuk setiap malam.


"Duduklah.." seru Hanniel pada akhirnya.


Fani mengikuti ucapan Hanniel dan duduk tepat didepan laki-laki itu.


Hanniel menyodorkan sebuah buku menu makan pada Fani dan gadis itu hanya menerimanya lalu menaruhnya tanpa membukanya sedikit pun.


Kini, keduanya kembali saling menatap.


"Apa kabarmu selama ini baik?" tanya Fani penuh kecanggungan.


"Hmm.. Kamu?" tanya Hanniel dan Fani menjawabnya dengan sebuah anggukkan kepala.


"Ehmm.. Selamat atas pertunanganmu dan Vivian! Aku ikut bahagia!" ucap Fani lega karena dirinya akhirnya mampu mengucapkan kalimat itu tepat didepan Hanniel.


Hanniel terdiam, tak ada ucapan terima kasih atas ucapan selamat yang diberikannya. Seolah dia memang tak ingin membicarakan tentang acara pertunangan kemarin.


"Aku dengar dari Vivian, kalian sedang mengerjakan sebuah novel bersama. Apa itu berjalan dengan lancar?"


"Ehm.. Sampai saat ini semuanya masih berjalan lancar!"


"Aku sudah membacanya. Aku harap kamu dan Vivian bisa segera menyelesaikan novel itu."


"Aku juga berharap seperti itu.."


Kalimat itu begitu saja mengakhiri pembicaraan diantara mereka berdua. Kembali sunyi.


"Kamu dan Evan..." Hanniel tak melanjutkan kalimatnya. Dirinya tampak ragu untuk bertanya, namun Fani seolah tahu apa yang ingin ditanyakan padanya.


"Aku dan Evan adalah teman sejak kuliah. Sekarang dia adalah atasan tempat ku bekerja!" terang Fani.


"Oh iya, bagaimana dengan Kania? Apa dia sudah pulang ke rumah?" tanya Fani.


"Sudah, pagi tadi aku menjemputnya. Tolong sampaikan ucapan terima kasih pada Evan. Maaf, semalam aku dan Kania telah merepotkannya!" ucap Hanniel.


"Baiklah, nanti aku akan menyampaikannya!" sahut Fani.


"Han.." panggil Fani lirih.


"Ya?"


"Apa kamu masih membenciku?" tanya Fani memberanikan diri untuk menanyakan apa yang menjadi ganjalan hatinya selama ini.


"Aku tidak pernah membencimu!" jawab Hanniel singkat.


"Kalau gitu, apa kamu masih marah sama aku?" tanya Fani lagi.


"Untuk apa aku marah sama kamu?" Hanniel balik bertanya.


"Lalu... Waktu SMA dulu....." Fani tak melanjutkan ucapannya.


"Aku punya banyak hal yang tak bisa ku ceritakan. Dan lebih baik untuk tidak membicarakan hal yang sudah berlalu!" timpal Hanniel.


'Hal yang sudah berlalu!' Mendengar kalimat itu, dada Fani terasa sesak. Pasalnya, selama ini semua hal di masa lalu selalu berharga baginya, tapi ternyata untuk Hanniel, itu hanyalah 'hal yang sudah berlalu'.


'Sia-siakah aku masih menyukai dan bahkan menunggumu? Tapi kamu tidak salah, sebab kamu sama sekali tidak pernah memintaku melakukan hal seperti itu! Akulah yang dengan sukarela melakukannya!' batin Fani.


Tiba-tiba ponsel Hanniel berbunyi, Fani bisa menebak jika itu adalah panggilan telepon dari Vivian. Menjawab panggilan telepon itu, Hanniel pergi meninggalkannya sendirian.


Saat Hanniel menyudahi pembicaraan di telepon genggamnya dan kembali menghampiri tempatnya tadi, Fani sudah tak berada disana. Gadis itu memilih pergi daripada terus menatap punggung yang telah membuatnya terluka.


"Cepat atau lambat, suka gak suka, aku mungkin akan bertemu denganmu lagi, sama seperti sekarang!" gumam Hanniel pelan.