I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Penuh keraguan



Evan berulangkali menghela nafas sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Fani dan membukanya. Laki-laki itu melihat gadis yang disukainya secara diam-diam tengah duduk menyandar diatas tempat tidurnya.


Wajah Fani terlihat sedikit pucat, bahkan gadis itu bersin beberapa kali dan membuat Evan merasa khawatir.


"Sepertinya lebih baik kita pergi ke dokter aja, takutnya flu kamu ini semakin memburuk!" usul Evan yang kini sudah duduk di samping tempat tidur Fani.


Gadis itu memijit hidungnya perlahan. "Gak perlu! Aku hanya butuh tidur, nanti juga sembuh," jawabnya dengan suara yang sedikit sumbang.


"Sayang, ini kamu makan buburnya dulu selagi masih hangat. Terus minum obat penurun demam ya!" ucap sang mama yang masuk kedalam kamar sembari membawa semangkuk bubur yang masih mengepul dan menaruhnya di meja kecil samping tempat tidur putrinya.


"Kamu demam juga? Lebih baik kita kedokter!" seru Evan yang terlihat semakin khawatir.


Tanpa disadari tangan kanan Evan langsung terangkat dan menyentuh dahi Fani yang memang terasa sedikit panas. Mama Fani tersenyum kecil melihat perlakuan Evan pada putrinya.


"Mama pergi mengurus dapur, kalian mengobrollah," seru sang mama tak ingin mengganggu keduanya.


Selepas sang mama pergi, Fani hendak mengambil bubur namun tangan Evan jauh lebih cepat. Tangan kiri laki-laki itu memegang mangkuk bubur sedangkan tangan kanannya memegang sendok sembari mengaduk-aduk.


"Aaa.." seru Evan dengan menyodorkan sesuap bubur ke mulut Fani dan gadis itu langsung melahapnya.


"Pak bos, kedua tangan ku ini baik-baik saja. Kenapa sampai harus disuapi? Seolah kedua tangan ku patah aja," tanya Fani.


"Bukankah memang seharusnya begitu saat memperlakukan orang yang sedang sakit?" sahut Evan sedikit bercanda, membuat Fani menyunggingkan senyumnya.


"Oh iya, sebelum kesini tadi aku sempat bertemu dengan Vivian untuk membahas mengenai kontrak kerja sama," seru Evan sembari tertunduk menatap magkuk bubur di tangannya. Wajah laki-laki itu terlihat ragu dan masih tak percaya dengan kenyataan yang tadi ditemuinya.


"Apa dia sudah menandatanganinya?" tanya Fani bersemangat.


Evan mengangguk.


"Maaf ya karena seharusnya itu menjadi bagian tugas ku tapi kamu yang jadi sibuk megurusnya." Fani terlihat tak enak hati.


"Gak apa-apa. Aku malah merasa bersyukur bukan kamu yang mengurus kontrak kerja sama tadi," jawab Evan sembari menyuap sesendok bubur ke mulut Fani.


"Hah? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Atau dia keberatan dengan isi kontraknya?" tanya Fani bertubi-tubi.


"Tidak ada masalah apa-apa tentang kontrak itu. Dia bahkan menandatanganinya tanpa membaca isi kontrak terlebih dahulu. Hanya saja..." Evan tak melanjutkan kalimatnya.


Laki-laki itu bimbang apakah dirinya perlu memberitahu Fani tentang pertemuannya yang tanpa terduga dengan Hanniel, sosok laki-laki yang berada di foto dalam kotak merah milik gadis di hadapannya.


"Hanya saja kenapa?" tanya Fani penasaran.


"Hanya saja aku khawatir kalau Vivian akan terkena virus dari kamu. Bagaimana kalau sampai dia jatuh sakit coba?" goda Evan yang memutuskan untuk tak mengatakan apa-apa.


Fani tersenyum licik sembari menatap bosnya dengan tatapan tajam. "Hei, jujur aja. Apa kamu menyukai Vivian?" tanya Fani penuh selidik.


Evan terdiam sejenak. Dalam hati laki-laki itu merasa bahwa sepertinya Fani tak begitu peka terhadap perasaan dirinya.


"Wah kalau begitu berarti sebentar lagi dia akan menikah?" tanya Fani sambil tersenyum bahagia karena mendengarnya.


Evan menatap Fani lekat-lekat dengan tatapan yang berubah sendu. 'Mungkinkah senyum itu akan terus mengembang saat tahu siapa sosok laki-laki yang menjadi calon tunangan penulis kesukaannya?' batin Evan.


"Apa calon tunangannya ganteng? Karena Vivian kan cantik, sudah selayaknya dia mendapat yang terbaik!" seru Fani lagi.


"Hmm.. Tapi tidak lebih ganteng dari ku!" sahut Evan mencoba bercanda.


Mau tak mau Fani tertawa mendengar celotehan si bos. Namun, mendadak raut wajah Evan berubah serius.


"Fan, apa kamu pernah menyebutkan nama Hanniel di depan Vivian? Dan apa kamu yakin ingin meneruskan pembuatan novel itu?" tanya Evan.


"Aku tak pernah sekalipun menyebut namanya, karena entah kenapa aku merasa lebih baik untuk tak sembarang menyebut namanya ke orang-orang, jadi yang tahu namanya hanya kamu. Oh iya, kenapa aku harus menghentikannya? Itu kan mimpi ku sejak dulu!" sahut Fani.


Sungguh sangat menyiksa untuk Evan karena dirinya tak bisa mengungkap alasan yang sebenarnya pada Fani.


"Aku hanya berpikir kalau ceritamu dan Hanniel sama sekali belum memiliki akhir yang jelas. Bisa di anggap menggantung begitu saja. Sedangkan dibagian belakang setiap novel akan memiliki bab terakhir? Jika ceritamu saja belum usai, apa yang akan tertulis di bab terakhir novel itu?" tanya Evan dengan mimik wajah serius.


Fani menggigit bibir bawahnya pelan, "Aku tahu, bahwa cerita ku dan dia terputus begitu saja tanpa kejelasan. Hanya saja, aku percaya bahwa setiap kisah pasti akan memiliki akhir."


**


Langit sudah berubah semakin gelap dan Kania melihat jam di layar telepon genggamnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dari kejauhan, mata gadis itu menatap sang kakak yang terlihat melamun didalam ruang kantornya memandangi lembaran kertas cerita yang belum memiliki judul ditangannya.


Ingin berjalan mendekat, namun hatinya ragu. Kania seolah tak ingin mengganggu lamunan kakaknya, dan ingin membiarkan sang kakak untuk sejenak memiliki dunianya sendiri.


Gadis itu perlahan berjalan menjauh dan keluar dari bagian belakang mall, dimana mall itu milik keluarga dan dikelola oleh sang kakak dan dirinya.


Kania menatap sejenak jalanan yang masih cukup ramai. Sesaat gadis itu tertunduk menatap sepasang kakinya yang menginjak pinggiran trotoar disebuah halte bus.


Entah apa yang dipikirkannya sampai termenung begitu lama. Bahkan saat sebuah mobil bus di depannya sudah selesai memasukkan penumpang yang tadi berdiri di sekitarnya, dirinya masih terdiam.


"Mbak, mau masuk gak?" tanya sang supir bus pada Kania.


Kini tanpa ragu Kania melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus. Ini adalah pengalaman keduanya naik angkutan umum. Dimana yang pertama kali adalah ketika dirinya kabur dari rumah saat masih berusia tiga belas tahun.


Selama perjalanan, tak hentinya Kania menikmati pemandangan malam yang dia susuri seorang diri. Sampai saat mata gadis itu melihat sebuah halte pemberhentian dimana dulu dia pernah turun disana.


"Pak, saya turun disini!" seru Kania.


Mobil bus segera berhenti dan Kania langsung turun. Gadis itu menghela nafas dalam. Bagaimana bisa kedua kakinya membawanya kembali kesana?


"Apa aku harus melanjutkan langkahku berjalan kerumahnya?" gumam gadis itu pelan.