
Kania menenggak segelas air putih sampai habis, menyudahi sarapan paginya. Kini perut empat orang yang mengitari meja makan sudah terisi penuh.
"Kak, hari ini hari minggu. Kakak ada niat mau melakukan hal apa?" tanya gadis itu pada Fani yang sejak kedatangan keduanya tak begitu banyak bicara.
"A-aku hanya.." Fani bingung menjawab pertanyaan sederhana seperti itu.
Pasalnya, sedari pagi dirinya begitu bersemangat ingin membereskan rumah dan mencabut rumput di pekarangan belakang rumahnya. Namun, tentu hal seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan dengan keberadaan Kania dan Hanniel dirumahnya.
"Dia berencana membersihkan pekarangan belakang!" seru sang mama.
Kania langsung menoleh ke arah dibelakangnya. Dia mengintip lewat celah gorden yang terbuka.
"Ayooo! Aku mau ikutan!" ucapnya girang sementara Hanniel menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.
"I-ikut nyabutin rumput? Kotorloh!" tanya Fani yang tak percaya.
"Iya kak! Gak apa-apa," jawab Kania mantap.
"Kamu yakin?" tanya Fani lagi.
"Tentu, daripada aku bengong gak ngapa-ngapain! Ayo kak Han ikutan juga!" ajak Kania pada Hanniel.
Hanniel sempat terdiam sebentar dan akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan sang adik.
Tak butuh waktu lama, Fani, Hanniel dan Kania sudah berada di halaman belakang rumah Fani, sementara mama Fani mulai sibuk membuat beberapa camilan didapur untuk ketiganya.
"Kak caranya gimana?" tanya Kania tak paham tentang hal yang akan dilakukannya, karena itu adalah hal yang baru baginya.
"Ini, kamu cabut begini saja. Kebetulan tadi malam hujan kecil jadi mudah untuk mencabutnya!" terang Fani seraya mempraktekkan didepan Kania.
Hanniel yang melihat arahan singkat Fani langsung berjongkok di samping Fani dan mulai mencabuti rumput tanpa banyak bicara.
Laki-laki itu terus sibuk melakukan hal yang baru baginya, Fani yang berada disampingnya justru fokus memperhatikannya diam-diam.
Lekuk wajah itu adalah yang paling dirindukannya. Bentuk hidung yang mancung, bibir yang tipis. Benar-benar siluet sempurna yang sulit dilupakannya.
"Kenapa terus melihatku?" tanya Hanniel pelan. Tatapan laki-laki itu kini fokus menatap Fani yang tengah menatapnya, membuat Fani terlihat gugup.
"Apa ini sudah benar?" tanya Hanniel mengalihkan pembicaraan.
Fani langsung mengalihkan pandangannya ke arah bawah, melihat tangan Hanniel yang terlanjur kotor dengan tanah.
"Hmm.. Sudah benar.." jawabnya singkat.
Fani menggigit bibir bawahnya pelan. Ada hal yang ingin dia tanyakan. Namun, mungkinkah dirinya menanyakan hal itu?
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Hanniel seolah bisa membaca pikiran Fani.
"E-hmmm.. A-apa Vivian tahu kamu datang kesini?" tanya Fani pada akhirnya.
"Gak.." jawab Hanniel singkat.
"Apa dia masih belum tahu kalau kamu dan aku teman satu sekolah sewaktu SMA?" tanya Fani lagi.
Hanniel mengangguk. "Aku hanya melanjutkan ceritamu saja!" ucapnya.
"Apa maksud kamu?" Fani tak mengerti.
"Bukannya sewaktu acara pertunangan kemarin kamu berpura-pura tak mengenalku?" tanya Hanniel, menatap Fani tajam.
"I-itu..."
"Sudahlah, sepertinya memang lebih baik seperti ini. Jika Vivian tahu, maka dia juga akan tahu tentang kisah dibalik novel yang kalian buat itu," ucap Hanniel santai.
Fani memundurkan tubuhnya kebelakang, terkejut mendengar ucapan Hanniel barusan. 'Dia tahu, novel itu menceritakannya!' batinnya.
"Kenapa kamu terlihat kaget? Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku sudah membacanya?" tanya Hanniel.
"Hmm.. Kurang lebih aku sudah membayangkan akhirnya akan seperti apa," jawab Fani sedih.
"Kamu belum tahu dan belum menjalani akhir kisah itu, jadi bagaimana bisa kamu memutuskan akhir novel itu hanya dengan membayangkannya saja?" tanya Hanniel.
Entah mengapa Fani merasa kalimat barusan memiliki maksud yang tak dirinya mengerti.
"Maksud ku, kita ini hidup di dunia yang penuh kejutan! Ada hal-hal yang kamu pikir mungkin akan terjadi, tapi yang terjadi justru sebalikmya. Ada hal-hal yang kamu pikir tidak mungkin untuk terjadi, tapi bisa saja pada akhirnya itu sesuai dengan harapanmu!" ucap Hanniel.
"Apa maksud kamu?" tanya Fani, seolah mulai mengerti tentang arti dari kalimat panjang itu.
Gadis itu hanya ingin tahu kenapa Hanniel berkata seperti itu, seolah sedang memberinya sebuah harapan kecil untuk bertahan. Padahal, sejak semalam dirinya terus berpikir untuk mulai melepaskan.
"Gak ada maksud apa-apa. Hanya, anggap saja aku sedang memberimu sedikit masukan untuk novel itu, karena setidaknya aku adalah bagian dari cerita itu.." sahut Hanniel santai sembari tersenyum kecil melihat Fani yang terus menatapnya.
"Kenapa kalian berdua ada disini??" tanya Evan yang saat itu baru datang kerumah Fani.
Laki-laki itu cukup terkejut melihat keberadaan Hanniel disana, terlebih saat dirinya menyaksikan kedua pasang mata Hanniel dan Fani saling beradu pandang.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Kania yang langsung berdiri dan berkacak pinggang dengan wajah ketusnya.
"Hei anak kecil, aku memang biasa datang kesini. Lah kakakmu? Aku sepertinya baru pertama melihatnya berkunjung kerumah ini!" sindir Evan.
Fani melirik ke arah Hanniel dan mendapati wajah Hanniel berubah kesal. Menyadari hal itu, Fani langsung menghampiri Evan, tak ingin ada pertengkaran di antara kedua laki-laki itu.
"Apa kak Lein sudah pulang?" tanya Fani ramah.
"Hmm sudah.." jawab Evan singkat.
"Lalu, kamu kesini naik apa? Bukannya mobil mu di bengkel?" tanya Fani lagi.
Tangan Evan mendadak terangkat dan menjentik kening Fani pelan. "Orang bengkel sudah mengantarnya pagi tadi, jadi langsung ku pakai kesini. Aku takut kamu merindukan ku kalau sehari tak bertemu!" seru Evan seolah ingin memanas-manasi Hanniel.
Fani tahu maksud terselubung itu dan buru-buru memukul pelan perut Evan. "Apaan sih kamu ini!" bisik Fani pelan.
Evan tertawa sembari memegang tangan Fani yang tadi memukul perutnya. "Mereka berdua mau membantumu?" tanyanya.
Fani mengangguk. "Daripada kamu diam berdiri seperti ini, lebih baik ikut bantu-bantu."
"Kamu gak lihat aku pakai kaos warna putih?" tanya Evan.
"Terus?"
"Kotor dong.. Ehmm kalau gak, baju ku yang ku taruh disini masih ada kan?" tanya Evan lagi.
"Ada, ambil sendiri dilemari ku!" timpal Fani.
Evan tak berkata apa-apa lagi dan langsung berbalik pergi. Hanniel yang mendengar itu langsung menatap Fani dengan tatapan yang sulit diterka.
Dirinya tak pernah berpikir bahwa sepertinya hubungan Fani dan Evan sangat dekat.
"Tante, Hanniel datang lagi kapan?" tanya Evan pada mama Fani.
"Pagi tadi sewaktu jam sarapan. Kurang lebih jam delapan!" jawab mama Fani.
"Dia bicara apa saja, tan? Apa Fani dan Hanniel mengobrol berdua?" tanya Evan penasaran.
Mama Fani menggeleng.
"Semalam Fani menangis. Dia bahkan sudah berniat melupakannya, tapi pagi ini Hanniel malah datang kesini. Setelah sekian lama, mereka bisa bertemu lagi. Tapi tante bingung, apakah ini sebuah kebahagiaan ataukah sebuah kutukan?" ucap mama Fani.
"Kamu, apa baik-baik saja melihat mereka bersama seperti sekarang?"" tanya mama Fani pada Evan.
Evan tersenyum kecil. "Toh mereka hanya menjalin hubungan pertemanan yang biasa. Dan lagi, saya masih belum memiliki hak apa pun untuk protes."