I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Nasihat sang mama



Fani menghapus air mata di pipinya.


"Menangislah jika masih ingin menangis. Mama akan diam disini menemanimu. Biarkan seluruh luka yang ada di hati kamu hanyut dengan air mata.." seru sang mama.


"Ma, maaf Fani membuat mama khawatir.." seru Fani dengan terbata.


"Tahu kamu bisa menangis seperti ini mama justru lega. Setidaknya dengan menangis, beban di dalam hati sedikit berkurang. Lalu, sekarang apa kamu sudah bisa menceritakan pada mama sebenarnya apa yang terjadi?" tanya mama Fani lagi.


"Kemarin, Vivian datang menemuiku di kantor.." Fani memulai cerita.


"Vivian? Tunangan Hanniel?" tanya sang mama.


Fani mengangguk.


"Lalu, apa dia menggertakmu?" sang mama terlihat khawatir.


"Tidak. Kami hanya mengobrol biasa. Dia juga hanya mengatakan kejujuran tentang perasaannya untuk Hanniel. Lalu.." Fani tak melanjutkan ucapannya.


Rasa-rasanya sesuatu tercekat di tenggorokannya.


Gadis itu tertunduk, air matanya kembali terjatuh.


"Dia memintaku untuk melepaskan Hanniel.." lanjut Fani.


Di dalam hati, mama Fani sudah mengira bahwa tangisan putrinya pasti ada sangkut pautnya dengan Hanniel. Karena hanya laki-laki itu yang sanggup membuat putrinya terluka sampai seperti ini.


"Lalu, apa yang kamu katakan padanya?" tanya mama Fani lembut.


"Aku bilang, aku.. Akuu...." Fani tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Sang mama mengelus perlahan punggung Fani. "Apa kamu bilang akan melepaskan Hanniel dan memberi Hanniel pada Vivian?" seru sang mama seolah melanjutkan ucapan Fani yang belum selesai.


Fani menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sang mama.


"Sayang, apa kamu benar-benar akan melepaskannya? Bukannya sekarang kamu tahu perasaan Hanniel yang sebenarnya? Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya sang mama.


"Kali ini sepertinya aku benar-benar akan kehilangan dia, ma.. Takdir sepertinya sejak awal hanya ingin mempermainkan ku.. Sepertinya, sejak awal langkahku dan Hanniel tidak berada di jalan takdir yang sama.. Jika aku terus memaksakan, aku mungkin akan semakin hancur, ma.." jawab Fani.


"Sayang, mama hargai semua keputusan yang kamu buat. Mama juga tidak akan bertanya alasan apa yang membuat kamu mengambil keputusan yang memang menyakiti diri kamu sendiri. Mama hanya ingin mengingatkan. Dalam persolan ini, bukan hanya kamu yang terluka. Hanniel dan Vivian juga memiliki porsi yang sama. Kamu sendiri tahu bahwa hubungan Hanniel dan Vivian adalah sebuah perjodohan. Kamu sendiri tahu jelas perasaan Hanniel untuk siapa. Tidakkah keputusanmu itu akan menyakiti Hanniel?" tanya sang mama.


"Tapi ma.. Jika tidak, aku akan menyakiti Vivian.." jawab Fani.


"Sayang, sejak kapan perasaan Vivian menjadi tanggung jawab kamu? Mama hanya berharap kamu bisa bertanggung jawab dengan perasaan mu sendiri. Hanniel dan Vivian juga harus seperti itu. Biarkan mereka berdua bertanggung jawab dengan perasaannya masing-masing. Vivian, dia harus belajar bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan sesuai keinginannya. Terutama menyangkut perasaan. Hanniel, dia juga harus bertanggung jawab dengan perasaannya sendiri. Apalagi dia seorang laki-laki. Dia harus memiliki keteguhan dan keberanian untuk menentang banyak rintangan di depan, jika dia memang benar-benar menyukaimu.." ucap sang mama.


"Ma, apa Hanniel benar-benar menyukaiku? Apa yang aku ucapkan kemarin itu kesalahan?" tanya Fani.


Sang mama tersenyum kecil.


"Kalau kamu memang menyukainya, jangan pernah melepaskannya, apalagi kamu sendiri tahu perasaan Hanniel yang sebenarnya.." jawab mama Fani.


"Jika aku memaksa. Bagaimana dengan Vivian?" seru Fani.


"Menurut mama, Vivian hanyalah tokoh tambahan dalam cerita kamu dan Hanniel. Tapi mama yakin, Vivian.. Dia akan menjadi tokoh utama dalam cerita hidupnya sendiri di waktu yang tepat.." jawab sang mama.


Dirinya hanya harus lebih berani mengutarakan perasaannya. Dirinya adalah tokoh utama dalam cerita ini. Jika dirinya menyerah begitu saja, bukankah judul kisah hidupnya harus dirubah?


"Aku mengerti, hanya saja aku sudah terlanjur berjanji. Aku tidak ingin melanggarnya. Biarlah, apa yang memang seharusnya menjadi kepunyaan ku, maka akan tetap kembali padaku. Jika bukan, maka memang tidak ditakdirkan.. Saat ini aku hanya menyerahkan semuanya pada takdir.." ucap Fani.


"Baiklah.. Semoga kamu mengambil keputusan yang tetap. Memang benar, jika Hanniel memang yang ditakdirkan buat kamu, maka dia akan kembali ke kamu dengan jalannya sendiri.." timpal sang mama.


Fani mengusap air matanya lagi dengan punggung tangannya. Beban di dadanya kini tak seberat sebelumnya. Sang mama adalah tempat cerita terbaik untuk dirinya.


"Ya sudah, anak cantiknya mama jangan nangis lagi.. Biar takdir yang mengurusnya.." ucap mama Fani seraya membelai lembut kepala putrinya.


**


Fani berjalan di koridor kantor dengan semangatnya yang sudah kembali, meski hanya sedikit. Bekerja juga adalah tanggung jawabnya. Masih tetap harus menyibukkan diri selama beberapa hari kedepan sampai luka di hatinya perlahan terobati.


"Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Hansen di ikuti Riri yang berdiri disebelahnya.


"Hmm.. Jangan khawatir.. Hari minggu kemarin, aku sudah banyak beristirahat.." jawab Fani sembari menaruh tas selempang kecil berwarna hitam di atas meja kerjanya.


"Syukurlah jika kamu baik-baik saja.. Melihatmu seperti dua hari yang lalu, membuat ku takut untuk menghubungimu.. Aku pikir kamu juga butuh me time.. Aku takut jika aku mengganggumu.." seru Riri.


"Terima kasih.." jawab Fani seraya tersenyum kecil.


Saat ketiga orang itu masih berkerumun, Andre datang menghampiri ketiganya.


"Karena disini masih baru ada kalian bertiga, nanti tolong beri tahu yang lain.. Kalau ada laporan yang perlu di tanda tangani, tolong taruh di meja ku.. Pak bos hari ini gak masuk kerja.. Jadi mohon bantuannya.." terang Andre memberi pengumuman.


"Kenapa dia gak masuk kerja?" tanya Fani.


"Sakit.. Sejak semalam kata kakaknya demam.." jawab Andre.


"Kalau gitu aku tinggal ya.. Tolong jangan lupa sampaikan pada yang lainnya.." ucap Andre lagi seraya berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


Fani duduk di kursi sembari termenung memikirkan kondisi Evan. Perlukah dirinya datang menemui laki-laki itu? Tapi, sebagai seorang teman memang harus saling peduli.


Waktu berlalu tak terasa cukup cepat. Fani di tengah kesibukkannya mengedit naskah yang sudah menumpuk, masih sempat-sempatnya melirik jam di dinding hingga berulang kali.


Tepat jam makan siang dimulai, Fani langsung berjalan cepat menuju ke arah lift, tanpa memperdulikan Riri dan Hansen yang menatapnya bingung.


Pintu lift terbuka lebar, Fani langsung masuk kedalamnya. Gadis itu langsung menekan tombol satu tingkat di atas lantai yang sedang dia pijak.


Fani keluar dari lift sedikit terburu-buru.


"Andre, apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Fani pada sekertaris Evan yang tampak pusing menghadapi tumpukkan laporan di atas meja.


Wajah Andre cukup terkejut melihat kedatangan Fani.


"Hmm sebenarnya ada.. Aku perlu mengirim setumpuk laporan ini kerumah pak bos.. Apa kamu bisa membantuku?" tanya Andre.


"Tentu!" sahut Fani cepat.