
"Ehmm.. Aku bertemu dengannya untuk kedua kali disebuah tempat makan. Saat itu hanya ada kami berdua. Aku menghampirinya dari belakang, sedang dia saat itu masih hanya menampakkan punggungnya. Lalu, aku memanggil namanya pelan dan dia langsung berbalik menatapku! Itu adalah kali pertama ku setelah sembilan tahun tak pernah memanggilnya," ucap Fani.
Vivian memajukan tubuhnya dengan wajah serius. Menurutnya kisah Fani begitu menarik. Cinta sepihak dimasa lalu yang masih belum usai.
"Apa kalian membicarakan masalah yang selama ini menjadi akar dari perpisahan kalian berdua?" tanya Vivian hati-hati.
"Kami sama sekali tak membicarakan itu, karena baru aku ingin memulai, dia sudah mengatakan bahwa semua itu sudah berlalu. Mendengar itu aku memahami satu hal, bahwa waktu telah merubah aku dan dia menjadi pribadi yang asing satu sama lain!"
"Jadi setelah kalian bertemu pun dia tetap tidak memberitahumu alasan kenapa dia pergi begitu saja?" tanya Vivian.
"Hmm.. Dia sama sekali tak mengatakan apa-apa."
"Lalu, bagaimana dengan akhir kisahmu itu? Apa akan berakhir bahagia atau..." Vivian tak melanjutkan kalimatnya.
"Terus terang aku sendiri pun bingung. Pada dasarnya kisah ku sama sekali belum dimulai." sahut Fani dengan mata yang sedikit nanar, membuat Vivian mengeluarkan selembar tisu dari dalam tasnya.
"Jika kisahku pada akhirnya memiliki akhir yang bahagia, maka kebahagiaan itu hanya untuk ku, tapi untuk seorang gadis yang kini berada disampingnya, itu akan menjadi akhir yang menyedihkan. Aku tak ingin seperti itu. Jika diberi pilihan, aku mungkin akan memilih untuk akhir yang menyedihkan. Setidaknya, kisah menyedihkan itu biar aku saja yang memilikinya tanpa harus melukai yang lain!" ucap Fani sedikit terisak.
Dirinya tak pernah menyangka akan berkata seperti itu dihadapan Vivian. Bahkan Vivian pun tak menyadari bahwa 'seorang gadis' yang dimaksud Fani adalah dirinya.
"Sepertinya, aku mulai mengerti. Tapi jika kamu memilih untuk memberikan kisahmu sendiri akhir yang buruk, tidakkah kamu berpikir bahwa apa itu yang benar-benar kamu inginkan? Apa kamu tidak ingin berjuang sekali lagi untuk mendapatkan hatinya? Aku pikir selama dia belum terikat tali pernikahan, kamu masih bisa mencobanya!" seru Vivian.
Perkataan itu membuat Fani menatap Vivian dengan perasaan serba salah. Jika Vivian tahu bahwa laki-laki yang dimaksud adalah Hanniel, mungkinkah dirinya masih bisa memberi semangat pada Fani untuk memperjuangkan cintanya.
"Aku hanya tak ingin memberikan luka di hati orang lain. Toh, dia sudah memilih gadis itu dan aku hanyalah sepenggal cerita pendek dalam masa lalunya yang sudah berlalu!" sahut Fani.
"Sudah sejak lama sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini. Apa yang membuat mu begitu menyukai laki-laki itu?" tanya Vivian.
"Entahlah, mungkin karena saat itu dia satu-satunya teman sekolah yang memperlakukan ku dengan baik dan tulus. Dia tidak pernah sekali pun mengolok-olok kekuranganku dan dia selalu memiliki cara untuk membantuku. Mungkin karena itu aku menjadi sangat menyukainya!" jawab Fani.
"Kekurangan?" Vivian tak mengerti maksud dari kata itu.
"Maksud ku, aku tak terlalu pintar. Aku selalu membutuhkan bantuannya untuk mengerjakan tugas sekolah setiap harinya," terang Fani.
"Uh.. Ceritamu seolah berputar dalam kepalaku. Manis sekali hanya dengan sekedar membayangkannya saja!" Vivian tampak kagum.
Vivian tampak mengelus pelan punggung tangan Fani dengan raut wajah prihatin. Gadis itu menyadari bahwa sejak awal kisah mereka dimulai, Fani telah menjatuhkan seluruh hatinya untuk laki-laki itu.
"Kamu beruntung memilikinya.." ucap Fani pelan.
"Maksudmu Hanniel?" tanya Vivian.
Fani menganggukkan kepalanya. "Karena begitu, kamu harus menjaganya dengan baik!"
Vivian mengerutkan keningnya mendengar kalimat itu. Pada dasarnya dirinya ada seorang psikolog. Dia mengerti betul letak keseriusan seseorang dari raut wajahnya.
Menurutnya, wajah Fani sekarang menampakkan bahwa gadis dihadapannya itu terluka dan kecewa. Namun kalimat terakhir yang didengarnya itu seolah menasihati agar dirinya menjaga Hanniel disisinya dengan baik.
"Aku harap kamu juga seberuntung aku.." ucap Vivian yang terlalu bingung harus berkata seperti apa.
"Jika.. Hmm.. Maksudku, jika kamu sudah memutuskan tentang akhir kisah mu itu, kamu bisa memberitahuku. Tapi saranku, lebih baik kamu benar-benar memikirkannya dengan baik. Cintamu, perasaanmu, tidakkah lebih baik kamu mencoba berjuang sekali lagi? Maksudku, kini setelah sembilan tahun kalian berpisah akhirnya takdir mempertemukan kalian kembali. Bukankah itu namanya sebuah kesempatan? Aku pernah membaca sebuah buku, disana tertulis bahwa 'keajaiban' milik siapa pun yang terus berusaha!" ucap Vivian yang mendukung Fani sepenuh hati.
"Bagaimana jika dia memang tidak menyukai ku? Bukankah itu sia-sia?" timpal Fani.
"Apa dia pernah mengatakan bahwa dia tidak menyukaimu? Bahkan jika dia pernah mengatakan hal itu, hati dan pikiran manusia masih bisa berubah!" seru Vivian antusias.
"Lalu bagaimana dengan 'seorang gadis' yang kini bersamanya? Jika aku berjuang maka aku akan melukainya. Aku akan menjadi orang egois dan jahat untuk gadis itu!"
"Jika kamu tidak berjuang maka kamu juga tetap menjadi egois. Egois untuk dirimu sendiri! Kamu sudah menyukainya hampir empat belas tahun lamanya, sedang gadis itu mungkin tak sebanding denganmu! Waktu yang kamu habiskan dengan laki-laki itu juga pasti lebih banyak dari yang gadis itu lalui. Dan aku percaya bahwa laki-laki tidak mungkin bersikap baik hanya dengan menggunakan otaknya, dia pasti juga menggerakkan hatinya. Jika tidak, mana mungkin dia berbuat banyak hal untuk mu!" ucap Vivian panjang lebar.
"Seandainya, jika kamu di posisi gadis itu, apakah kamu mau memberikan Hanniel padaku? Jika aku berjuang mendapatkan Hanniel, bukankah kamu akan terluka? Kamu pasti akan membenci ku! Kamu pasti mengutuk ku!" timpal Fani dengan menatap kedua netra Vivian dalam-dalam membuat Vivian tak lagi bisa berkata-kata.
"Lihat, kamu pun terdiam. Jika aku memperjuangkan perasaan ku sendiri serta mengesampingkan perasaan orang lain, maka aku adalah orang yang kejam. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang seperti itu!" seru Fani.
Vivian balik menatap kedua mata Fani yang tampak berkaca-kaca, seolah yang Fani ucapkan barusan adalah benar-benar tertuju untuknya.
"Aku benar-benar kagum padamu! Selama aku hidup, aku menemui banyak orang dengan sifatnya masing-masing, tapi kamu adalah satu yang membuat ku tak bisa berkata-kata. Banyak orang lebih baik melukai orang lain, tapi kamu lebih memilih untuk membiarkan dirimu sendiri terluka!" puji Vivian yang merasa kagum dengan kebesaran hati Fani untuk merelakan orang yang disukainya begitu saja.
"Aku hanya mulai merasa lelah dan ingin beristirahat," sahut Fani dengan menyunggingkan senyum tipis pada raut wajah yang lesu.