I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Prasangka buruk



Evan terus menatap Fani dari pintu. Gadis itu terlihat biasa saja dengan keberadaan Hanniel disekitarnya. Lalu, bagaimana dengan perasaannya?


"Fan, mama kamu bilang minta tolong aku ambilkan mangga!" seru Evan seraya berjalan ke arah pohon mangga indramayu yang tampak berbuah lebat.


Pohon mangga itu terletak disudut pekarangan, bersebelahan dengan pohon durian yang masih kecil.


"Kamu mau manjat pohon?" tanya Fani.


"Hmm.. Kamu siap-siap dibawah terima buahnya ya. Bisa?"


"Apa gak lebih baik pakai kayu aja? Kalau kamu naik takut jatuh!" Fani tampak khawatir.


"Lama, lebih baik petik langsung aja! Oh iya, kamu daripada nyabutin rumput, lebih baik ikut aku naik ke atas!" seru Evan pada Hanniel membuat Fani dan Kania saling melempar pandang.


Jauh didalam pikirannya, Fani merasa tak enak hati. Biar bagaimana pun dua laki-laki yang kini sedang bersiap untuk memanjat pohon mangga dihadapannya, mereka adalah laki-laki yang berasal dari keluarga kaya raya. 'Apakah mereka bisa melakukannya?' batin Fani khawatir.


"Kak, jangan mau kalah sama orang itu!" teriak Kania pada Hanniel.


Kini Hanniel dan Evan sudah berada diatas pohon. Pohon mangga itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi, hanya setinggi atap rumah Fani namun, buahnya sangat lebat dan terlihat sudah cukup umur untuk dipetik.


"Van, sebelah sini!" seru Fani seraya menunjuk segerombolan mangga yang terlihat mulai menguning.


Kania melihat keakraban antara Fani dan Evan langsung menarik Fani pergi dari tempatnya.


"Kak, tukeran tempat. Kakak bantu kakak ku. Biar monyet yang diatas sini aku yang bantu!" seru Kania pada Fani.


"Hei! Siapa yang kamu bilang monyet hah?!" teriak Evan dari atas sana. "Kalau aku monyet, berarti kakak mu orang utan?" lanjut Evan dengan nada bercanda.


Mau tak mau Hanniel yang berada di atas pohon bersama dengan Evan, hanya berbeda dahan, tertawa. Kania yang melihatnya langsung lega. Setelah sekian lama, akhirnya dirinya bisa melihat sang kakak tertawa seperti itu.


Fani yang berada di bawah, sejajar dengan Hanniel pun senang karena melihat senyum manis terlukis diwajah Hanniel, yang sebenarnya sudah lama tak dilihatnya. Tanpa disadari, sebagian kecil hatinya masih mengharapkan laki-laki itu.


"Fan.." panggil Hanniel pada Fani.


Gadis itu tampak terdiam sejenak. Dia terlihat ragu bahwa yang barusan didengarnya itu benar-benar nyata. Hanniel memanggil namanya!


"Ya?" sahut Fani pada akhirnya.


"Aku mau lempar mangganya, apa bisa kamu tangkap?" tanya Hanniel.


"Oke.. Siap!" sahut Fani bersemangat seolah lupa dengan tangisannya semalam.


Ke empat orang itu tampak sibuk dengan aktivitas yang sedang dilakukannya, sampai tak sadar jika waktu jam makan siang sudah tiba.


Kania yang sudah lapar bergegas mencuci tangannya lewat kran yang terpasang di sudut bagian luar rumah Fani. Sementara Fani yang sudah terlebih dulu mencuci tangannya, langsung berjalan ke arah meja kecil di pelataran belakang rumahnya karena telepon genggam miliknya berbunyi.


Fani mengambil telepon genggamnya yang berada di atas meja dan menatap layarnya lekat-lekat. Mata gadis itu menatap ke arah Hanniel yang sedang mengobrol dengan Evan. Entah apa yang sedang kedua orang itu bicarakan.


"Ha-halo Vivian!" sapa Fani ramah sekaligus mencoba agar suaranya tak terdengar bergetar.


"Fani... Apa kamu sedang dirumah? Apa hari ini kamu sedang sibuk?" tanya Vivian.


"Hmm.. Aku dirumah.. Memang kenapa? Apa kamu memerlukan bantuanku?" tanya Fani.


"Kak Han, ayo makan!" teriak Kania dengan suara keras memanggil sang kakak yang masih mengobrol dengan Evan di dekat pohon mangga.


Fani, yang tak menyangka Kania akan berteriak seperti itu langsung menutup bagian bawah telepon genggam miliknya, berharap Vivian tak mendengarnya.


Namun sayang, di tempat lain, Vivian tampak mengerutkan keningnya. Gadis itu merasa telah mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.


"Maaf, Vi.. Kalau hari ini sepertinya tidak bisa.." ucap Fani gugup.


"Baiklah.. Sepertinya kamu memang sedang banyak tamu ya?" tanya Vivian.


"I-iya.. Hanya beberapa teman kerjaku sedang berkumpul!" jawab Fani berbohong.


"Okelah kalau gitu.. Selamat menikmati hari minggu mu.. Nanti kita atur jadwal bertemu lain hari ya.." ucap Vivian ramah.


Setelah mengucapkan itu, Vivian langsung memutus pembicaraannya dengan Fani. Sedikit termenung memikirkan 'Mungkinkah aku salah dengar? Kenapa suaranya terdengar akrab?' batin Vivian yang masih terduduk di sofa ruang tamu apartemennya.


"Sayang! Kalau kamu sudah selesai menelepon, sini bantu mama didapur!" ucap mama Vivian memanggil putrinya.


Panggilan itu membuat Vivian langsung meluncur kedapur.


"Mama kenapa datang kesini di hari minggu? Apa papa sedang tidak dirumah?" tanya Vivian.


"Papa mu sedang bertemu koleganya. Mama malas di rumah sendirian!" sahut sang mama.


Mata wanita paruh baya itu sesekali melirik ke arah putrinya yang berdiri disebelahnya sibuk mencincang daging untuk membuat baso.


"Sayang, apa hubunganmu dan Hanniel baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya itu hati-hati.


"Hmm.. Kami baik-baik saja.. Memang kenapa ma?" tanya Vivian.


"Tidak, hanya perasaan mama saja mungkin sedikit tidak enak.. Setelah mendengar ceritamu semalam masalah Hanniel yang tak ingin cepat-cepat menikah, mama merasa apa mungkin terjadi sesuatu dengan kalian berdua.." terang mama Vivian jujur.


Vivian sedikit termenung. Sebenarnya perihal itu, bukan hanya sang mama yang merasakan, tapi dirinya juga. Namun, dirinya lebih memilih untuk menyimpan seluruh pikiran negative hanya dalam kepalanya. Tak ingin berburuk sangka.


"Bukannya semalam aku sudah bilang, kalau Hanniel masih merasa waktu pacaran dua tahun masih terlalu singkat. Dia ingin agar kita berdua lebih saling mengenal lagi."


"Sayang, apa kamu yakin hanya itu masalahnya? Mama hanya merasa bahwa kamu terlalu menyukai Hanniel, sedangkan dia apa mungkin memiliki kedalaman perasaan yang sama denganmu?" seru sang mama dengan hati penuh keraguan.


"Kenapa mama bicara seperti itu?" sahut Vivian.


"Sebenarnya mama sudah dilarang papa untuk tak mengatakan ini padamu."


"Apa itu?" Vivian tampak penasaran.


"Kemarin mama melihat teman yang sedang bekerja sama denganmu membuat novel sedang berbicara dengan adik Hanniel. Mama tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Hanya mama melihat dengan jelas bahwa Kania dan perempuan itu menangis. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Lagi, Vivian tertegun. Ucapan sang mama mengingatkan pertemuan Fani dan Kania saat di acara pertunangannya. Keduanya tampak akrab, seolah sudah lama saling mengenal.


"Itu mungkin hanya perasaan mama saja. Jangan khawatir, kami baik-baik saja. Dan lagi, jika seandainya Hanniel tak menyukaiku, cukup aku saja yang menyukainya! Dan kedepannya, setiap hari aku akan mengajarinya cara untuk menyukaiku!" sahut Vivian optimis seraya memeluk sang mama dan mencium pipinya.