
Fani sudah tiba di depan pintu masuk taman yang dihiasi oleh bunga-bunga. Saat gadis itu hendak melangkahkan kakinya, tangan Evan tiba-tiba memegang tangannya.
Laki-laki itu terus menatap Fani dengan tatapan yang sulit untuk ditebak.
"Kenapa?" tanya Fani bingung karena merasa Evan tak ingin dirinya melangkah lebih jauh kedalam sana.
"Gak apa-apa.." Evan melepas tangan Fani dengan berat.
Akhirnya keduanya melangkah masuk kedalam, melewati jalan yang dibuat seperti lorong dipenuhi dedaunan hijau dan bunga yang merambat.
Fani tak henti-hentinya berdecak kagum. Belum lagi, saat gadis itu tiba dikebun. Dimana disana berjejer kursi dan juga meja yang dilapisi kain berwarna putih serta sebuah vas bunga di setiap meja.
Tak ada kesan mewah, lebih terlihat sederhana namun elegan. Matahari sore yang sudah mulai memancarkan cahaya keemasan, menambah indah kebun itu.
Namun, mata Fani menangkap seseorang yang dikenalinya tengah berdiri sendirian di pojokan kebun, dibawah pohon. Raut wajahnya seolah ia sedang kesal dengan sesuatu.
"Kania?" gumam Fani, membuat Evan langsung menoleh.
Fani langsung menghampiri Kania yang bahkan tak sadar akan kedatangannya. "Kania!" panggil Fani membuat Kania sedikit tersentak.
"Kakak.." Gadis itu tak terlihat terkejut melihat Fani berada disana karena Hanniel telah memberitahunya bahwa Vivian mengundang Fani.
"Kamu kenapa ada disini? Apa kamu juga mengenal Vivian?" tanya Fani sembari tersenyum. Saat itu Fani tak menyangka jika ternyata Kania juga mengenal Vivian.
"I-ituuu.. Akuuu..." Kania terbata. Gadis muda itu terlihat bingung untuk menjelaskan keberadaan dirinya disana. Bahkan Kania melempar pandang pada Evan agar membantunya, tapi Evan sama sekali tak menggubrisnya.
"Fani!" panggil Vivian yang ternyata berada dibelakangnya. Vivian dengan balutan gaun berwarna merah tua datang menghampirinya dengan wajah yang sangat ramah.
"Senang sekali kalian berdua bisa hadir di acara pertunangan ku!" ucap Vivian pada Evan dan Fani. Senyum lebar jelas terpancar di wajahnya.
Namun, tiba-tiba Vivian menyadari bahwa Kania sedang berada disana sebelum dirinya tiba. "Apa kalian saling mengenal?" tanya Vivian.
"Kami..." Fani tak melanjutkan kalimatnya saat Vivian berkata lebih mendahuluinya.
"Perkenalkan, ini Kania. Adik dari calon tunanganku, Hanniel!" Vivian memperkenalkan Kania, membuat Kania dan Evan langsung menatap Fani berbarengan.
Fani mundur kebelakang beberapa langkah. Gadis itu terus menatap Kania yang kini menundukkan kepala karena merasa bersalah.
Belum selesai rasa terkejutnya, Vivian kini tampak menunjuk seorang laki-laki yang berada cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang. Laki-laki itu terlihat memunggungi ke empat orang yang sedang menatapnya dan sibuk dengan pembicaraannya di telepon genggam.
Dari ke empat orang itu, hanya tatapan Fani yang terlihat memiliki makna cukup dalam. Tatapannya seolah mengisyaratkan kerinduan, cinta, bahagia, ketulusan, penantian, kekecewaan dan rasa sakit hati.
Matanya tampak sayu menatap Hanniel yang kini berjalan ke arahnya. Begitu juga dengan kedua netra laki-laki itu tak henti menatap dirinya.
Kini keduanya sudah berdiri berhadapan. Vivian yang berada disamping Hanniel langsung menggandeng tangan kanan Hanniel, membuat Fani menggigit bibir bawahnya pelan.
Berusaha mengumpulkan seluruh tenaga, Fani mengangkat tangan kanannya dan Hanniel yang tak berhenti menatap Fani menyambut tangan gadis itu.
"Fani.." ucap Fani dengan sedikit bergetar memperkenalkan dirinya seolah itu adalah perkenalan pertama mereka.
"Hanniel.." ucap Hanniel singkat.
Mereka berdua sampai tak menyadari bahwa mereka masih tetap tak melepaskan genggaman tangan itu sampai Kania yang berdiri di belakang Vivian pergi dari sana dengan sedikit terisak.
Obrolan mereka berakhir saat MC memulai acara pertunangan. Evan dan Fani duduk bersebelahan bersama dengan tamu lainnya. Keduanya tetap diam.
Sesekali, Evan mencuri pandang ke arah Fani yang terus menatap Hanniel dari tempatnya duduk sekarang.
Entah kenapa.
Air mata menetes disudut matanya dan terjatuh di sudut bibirnya yang sedang menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat Hanniel memasangkan sebuah kalung di leher Vivian.
"Fan.." panggil Evan lembut.
"Aku baik-baik saja.." jawab Fani.
Meski berkata begitu, air mata tak lantas berhenti dan gadis itu menyekanya beberapa kali.
"Kita pulang saja!" ajak Evan dan Fani mengiyakan ajakan itu.
Keduanya bangkit berdiri dan berjalan melewati tamu lainnya dengan tak henti tangan Evan yang terus menggenggam tangan Fani. Saat keduanya berjalan melewati lorong penuh dedaunan, di ujung lorong tampak Kania tengah berdiri seolah sedang menanti mereka berdua.
"Kalian mengobrollah. Aku akan menunggu di dalam mobil!" seru Evan sembari berjalan melewati Kania begitu saja.
"Kenapa kamu berdiri disini bukannya didalam sana?" tanya Fani sembari berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kak aku minta maaf!" Kania langsung menangis terisak, membuat air mata Fani kembali menyeruak.
"Kenapa kamu menangis? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena kakakmu sudah selangkah menuju kebahagiaannya?" tanya Fani dengan terisak.
Kania tak bisa berkata apa-apa, tangisan membuatnya sulit untuk berbicara.
"Kenapa kamu harus meminta maaf? Kalau kakakmu bahagia, aku juga!" ucap Fani lagi.
"Kamu, cepatlah masuk kesana. Nanti kakakmu mencarimu. Kakak juga sudah mau pulang!" seru Fani lagi.
Kania menuruti ucapan Fani. Dengan langkah pelan, gadis itu berjalan meninggalkan Fani yang terus menatapnya seraya tersenyum kecil.
Begitu masuk kedalam mobil, Evan tak henti menatapnya dalam diam.
"Aku mohon cepat pergi dari sini!" seru Fani dan tangisannya pecah.
Seluruh air mata yang sedari tadi ditahannya meluap keluar. Mendengar permohonan putus asa Fani, Evan langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Anehnya, saat melihat Fani menangis, hatinya terasa seperti teriris. Pasalnya, dia selalu berusaha sebaik mungkin untuk membuat Fani bahagia dan tertawa tapi Hanniel, laki-laki yang berada dalam kehidupan masa remaja Fani justru memberi duri.
Saat dirasa jalanan cukup lengang, tangan kiri Evan mengelus pelan kepala Fani. "Menangislah, tak perlu menahannya. Terkadang air mata mampu meluruhkan luka!" ucap laki-laki itu lembut.
Fani menatap Evan dengan mata yang penuh dengan air mata. Mulut gadis itu terkunci. Nafasnya tersengal karena isak tangisnya yang semakin menjadi.
Kini, Fani paham maksud dari pertanyaan yang ditanyakan Kania dan Evan beberapa hari lalu.
Tapi, masih bisakah dirinya kecewa pada Evan dan Kania saat kedua orang itu sudah berusaha untuk menjaga hatinya agar tak terluka?
"Evan, terima kasih!" ucap Fani sedikit terbata.
Fani sadar Evan melakukan sebaik yang dia bisa untuk memberi kode sebelumnya, namun dirinya yang terlalu bodoh untuk memahaminya.
Pertanyaan Kania saat di puncak berkelebat dalam pikirannya.
'Bagaimana jika kakak ku sudah memiliki seseorang dalam kehidupannya sekarang?'
Jawaban yang mungkin terucap akan terasa begitu menyakitkan.