I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Keputusan Hanniel



Evan termenung duduk seorang diri di dalam kamarnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya hari itu. Seluruh hatinya terasa nyeri. Sementara di rumahnya hanya ada dirinya seorang diri.


Matanya kini tertuju pada ponsel yang tergeletak di samping meja tempat tidurnya. Perlahan tangannya meraih ponsel itu.


"Halo.. Ayo kita pergi keluar.. Ada yang ingin kubicarakan.. Aku akan mengirim alamatnya padamu.." seru Evan singkat dan langsung memutus pembicaraan.


**


Suasana malam itu di bar cukup sepi, tak seramai biasanya. Evan tampak duduk seorang diri di pojok ruangan dan hanya di temani dengan sebotol minuman keras di tangannya. Berulangkali laki-laki itu menenggak dan berulang kali juga laki-laki itu menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Ada apa dengan minuman itu?" tegur sebuah suara yang kini duduk tepat disamping Evan.


"Kamu sudah datang.." seru Evan melihat Hanniel duduk disamping dirinya dan menatap ke arahnya.


"Kenapa mengajakku bertemu di tempat seperti ini?" tanya Hanniel.


Evan menatap ke kanan dan ke kiri. "Memang apa yang salah dengan tempat ini? Apa karena lampu disini terlalu gelap? Atau karena disini adalah tempat yang memabukkan?" tanya Evan.


Hanniel diam sejenak menatap wajah Evan. Laki-laki itu menyadari bahwa sepertinya hari itu Evan sedang tertekan. "Berhenti minum, kamu sudah cukup mabuk.." tegur Hanniel.


"Justru itu yang aku butuhkan.." seru Evan cepat seraya menenggak minuman keras itu lagi.


"Aku masih belum cukup mabuk untuk mengatakan semuanya.." seru Evan lagi seraya menenggak habis isi botol di genggaman tangannya yang tadi masih tersisa setengahnya.


Evan menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


"Dengarkan baik-baik yang akan ku katakan.." ucap Evan dan ditanggapi dengan tatapan serius dari Hanniel.


"Beberapa hari yang lalu aku sudah mengungkapkan perasaan ku padanya dan dia langsung menolakku.. Aku tahu alasan sebenarnya dari penolakan yang aku terima.. Semua karena kamu kembali hadir di dalam hidupnya.." ucap Evan dengan nafas terengah.


"Tapi hari ini aku melihatnya menangis dan terlihat begitu pilu.. Orang yang aku sukai jelas-jelas menangis dihadapanku karena hatinya hancur oleh laki-laki lain yang dia sukai.." lanjut Evan.


Sampai ditahap itu Hanniel tak mengerti. Pasalnya dirinya sama sekali tak tahu tentang hal apa yang membuat Fani terluka sampai menangis seperti yang diceritakan Evan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Aku.. Aku bahkan sudah memberitahunya isi hatiku.." sahut Hanniel.


"Vivian, dia datang ke kantor siang ini menemui Fani.. Tunanganmu itu meminta agar Fani melepaskanmu dengan sukarela.." terang Evan.


Untuk sesaat kedua laki-laki itu terdiam dengan isi pikirannya masing-masing.


Tiba-tiba Evan tertawa kecil membuat Hanniel menoleh ke arahnya.


"Apa kamu tahu? Fani masih menyimpan seluruh kenangan kalian berdua di dalam sebuah kotak.. Bahkan hal terkecil sekalipun dia masih menyimpannya.. Lalu siang ini sang tunangan dari laki-laki yang dia sukai sejak lama tiba-tiba datang menemuinya dan meminta dia memutus perasaannya. Apa itu tidak terlalu kejam?" lanjut Evan.


"Lalu apa yang dikatakan Fani?" tanya Hanniel cemas.


"Menurutmu?" Evan balik bertanya seolah-olah meminta Hanniel menebak jawaban itu sendiri.


"Fani mengatakan pada Vivian kalau dia akan melepaskan seluruh perasaannya padamu.. Dia sudah menyerah.. Dan alasan konyol yang membuatnya mengatakan hal itu adalah karena rasa kasihan dengan Vivian.. Fani tidak ingin menyakiti Vivian.. Sekalipun dia sebenarnya semakin terluka dengan keputusannya.." terang Evan.


Hanniel terdiam. Laki-laki itu tampak bingung dengan urusan percintaannya. Pasalnya, kisah masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih dan membuat dirinya terhimpit diantara kedua kisah itu.


"Han.. Kita berdua sama-sama laki-laki.. Tidak kah kamu berpikir untuk melakukan sesuatu? Bertindak dan mengambil keputusan apa yang memang kamu inginkan.. Kamu pernah bilang kalau kamu menyukai Fani, kenapa kamu tidak memperjuangkannya? Sebelum kamu benar-benar kehilangannya.." nasihat Evan.


"Aku mengerti.. Kalau begitu aku pergi.. Ada urusan yang harus aku urus.. By the way, thanks buat masukannya.." seru Hanniel seraya berlalu pergi meninggalkan Evan.


**


Vivian belum ingin memejamkan mata. Rasa-rasanya rasa kantuk tak berada di dalam dirinya. Gadis itu terus menekukkan tubuhnya seraya duduk di atas tempat tidur. Menyandarkan dagu pada kedua lututnya.


Lama, gadis itu diam termenung. Isi pikirannya saling bertarung. Perasaan tentang tindakannya yang seolah semena-mena siang tadi terus mengganggunya.


Bagaimana bisa dirinya hanya memikirkan dirinya sendiri? Bagaimana bisa dirinya hanya memikirkan perasaannya sendiri?


Tapi..


Jika dirinya tidak egois, rasa takut semakin melambung tinggi. Jika harus bersaing secara adil dengan Fani, Vivian sadar dirinya akan kalah bahkan sebelum garis start dimulai.


Gadis itu seolah memastikan pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan baik-baik saja selama memiliki Hanniel di sampingnya, sekalipun perasaan dan pikiran laki-laki itu tidak tertuju untuknya.


Dalam lamunan yang tak berujung, terdengar bel rumah berbunyi. Vivian tersadar dan langsung keluar dari kamar. Jantungnya berdegub cukup kencang tatkala melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi.


Dengan tangan sedikit bergetar, Vivian memegang gagang pintu rumah dan menariknya. Sesuai dugaan, Hanniel datang menemuinya.


Raut wajah laki-laki itu terlihat dingin saat menatapnya. Sementara Vivian mencoba tersenyum seraya menyembunyikan kekhawatiran dan rasa takutnya.


"Kenapa tidak memberitahuku dulu jika ingin datang kemari? Apa kamu sudah makan malam?" tanya Vivian lembut seolah tidak terjadi masalah apa pun diantara mereka.


Vivian berjalan ke arah dapur dan menuangkan air putih kedalam gelas. Sementara Hanniel terus berdiri menatap Vivian dengan tajam.


"Lebih baik kita putus!" ucap Hanniel dengan suara lantang dan terlihat serius.


Mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan sang tunangan, Vivian diam mematung. Hal yang sangat dia benci kini terjadi.


"Vi, lebih baik hubungan kita di akhiri. Hubungan ini hanya menyiksa kita berdua. Dan lagi, kamu tahu betul aku sudah menyukai orang lain. Hubungan kita untuk ku hanya sebatas keterpaksaan. Aku sama sekali tidak pernah menyukaimu.." terang Hanniel.


Vivian merasa seluruh dunia yang sudah dibangunnya sejak lama, runtuh seketika. Sekujur tubuh gadis itu tiba-tiba bergetar. Air matanya jatuh.


Vivian berjalan menghampiri Hanniel yang sedari tadi menatap ke arahnya.


"Siapa yang merasa tersiksa? Aku?" tanya Vivian dengan balas menatap tatapan Hanniel.


Sekalipun pertahanannya runtuh, gadis itu mencoba mengutarakan keinginannya. Berharap agar Hanniel mau tetap bersamanya.