I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Bersenang-senang



Hari sudah menjelang siang dan matahari bersinar semakin terang, namun entah mengapa tidak terasa menyengat. Sangat berbeda ketika berada di ibu kota.


Evan tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam miliknya. Sesekali laki-laki itu tampak memijit-mijit keningnya. Tubuhnya membelakangi Fani dan tiga orang lainnya yang tampak sibuk menceburkan diri di sebuah sungai kecil demi menangkap ikan. Tak jarang ke empat orang itu berteriak-teriak saat berhasil menangkap seekor ikan.


"Aku dapat!" teriak Kania sambil mengangkat ikan hasil tangkapannya.


"Ihhh aku belum dapat sama sekali loh!" seru Fani kesal. Padahal sedari tadi kedua tangannya sudah sibuk menyusuri pinggiran sungai dan menyingkap beberapa bebatuan.


"Kasihan Fani! Lihat aku saja sudah berhasil menangkap lima ekor!" timpal Hansen dengan bangga.


"Jangan sombong! Aku yang menangkap tujuh ekor saja tetap kalem!" ejek Riri.


"Diam!" teriak Fani kesal mendengar ucapan-ucapan temannya itu. "Kalian jangan ada yang menangkap lagi. Biar aku yang tangkap. Aku belum sama sekali loh! Menyebalkan!" gerutunya membuat ketiga orang disana tertawa.


"Kalian masih lama disana?" tanya Evan yang baru menyelesaikan kesibukkannya tadi. Hanya laki-laki itu yang seluruh tubuhnya masih kering dan tampak rapih.


"Tunggu dulu. Aku belum mendapat ikan satu pun!" timpal Fani kesal.


Evan melirik ke sebuah ember hitam berukuran sedang yang berada di dekatnya. "Bukannya ikan di ember sudah lumayan banyak?"


"Itu hasil tangkapan mereka!" timpal Fani lagi. Gadis itu masih sibuk membungkukkan tubuhnya ke air.


Evan tertawa kecil. "Astaga. Sama saja itu. Kamu sudah di dalam air kurang lebih dua jam loh. Nanti sakit!"


"Aku masih penasaran!" Fani pantang menyerah.


"Kamu sih lucu, Fan. Tadi ikan sudah di tangan malah kamu lepas!" seru Riri sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ihhh habis geli, licin-licin gitu! Terus aku takut digigit!" Fani tak mau mengalah.


"Kalau gitu sih sampai tahun depan juga kamu gak akan bisa tangkap ikannya!" sahut Evan yang juga tertawa.


"Kamu daripada bawel disitu, lebih baik turun kesini bantu aku! Tangkap satu ikan saja nanti aku naik!" pinta Fani dengan wajah memelas.


Mau tak mau Evan menggulung lengan baju tangan panjangnya yang berwarna hitam. "Kalian pergilah dulu, bawa ikannya ke dapur untuk makan siang kita. Aku nanti menyusul setelah mengurus anak kecil ini dulu!"


Riri, Hansen dan Kania pergi meninggalkan mereka berdua. Meski didalam hati, Kania merasa tak suka dengan kedekatam Fani dan Evan.


"Hanya menangkap satu ikan ya!" Evan mengingatkan dan Fani langsung mengangguk.


Evan mulai menyusuri setiap pinggiran sungai didekat tempat semula dia berdiri, di ikuti oleh Fani yang berdiri tepat di samping kanannya. "Ini ada, dekat batu. Coba kamu tangkap. Aku bantu halangi dari sebelah sini!" seru Evan.


Fani menjulurkan tangannya dengan sedikit bergetar membuat Evan menyunggingkan senyumnya melihat tingkah konyol Fani yang terlihat menggemaskan. "Dapat!" teriak gadis itu senang.


"Okay, tugasku selesai! Ayo naik ke atas!" seru Evan sembari memegang lengan Fani yang sibuk memegang seekor ikan.


"Coba dari tadi kamu bantu aku! Aku pasti sudah dapat banyak!" seru Fani sambil tak henti-hentinya tersenyum lebar.


"Gimana? Memegang ikan gak segeli itu kan? Terus kamu juga gak di gigit kan?" tanya Evan.


Kedua orang itu langsung berjalan menuju dapur yang ternyata sudah mengepul. Hansen terlihat sedang membersihkan ikan dengan Kania yang berdiri disampingnya.


"Semua, tepuk tangan yang meriah. Fani berhasil mendapat ikan!" seru Riri bertepuk tangan di ikuti oleh semua orang yang berada di dapur, termasuk bu Diah.


"Iya nih aku senang sekali meski cuma dapat satu ekor!" timpal Fani sambil menyerahkan ikan itu pada bu Diah.


"Ikan-ikan ini mau langsung dimasak?" tanya Fani.


"Kamu memang gak lapar?" Hansen balik bertanya. Laki-laki itu tahu bahwa sang teman memiliki nafsu makan yang cukup lumayan.


"Hahhaa.. Masih tanya aja.. Jelas aku sudah mulai lapar!" jawab Fani.


"Kak, lihat ikan ini. Besar banget!" kata Kania sambil menunjukkan ikan yang sedang dibersihkan Hansen.


"Aku juga bingung kenapa ikan yang kita tangkap kok gendut-gendut ya? Padahal mereka tinggalnya disungai!" seru Hansen.


Evan yang berdiri dibelakang Fani tampak saling melempar pandang dengan bu Diah sambil tersenyum kecil. Ukuran ikan yang cukup besar bukan tanpa sebab.


Ikan-ikan tersebut sudah dipersiapkan oleh pak Dirman beberapa jam sebelum Fani dan kawan-kawan turun ke sungai. Pak Dirman bahkan sudah menumpuk bebatuan di tempat yang agak jauh dari tempat Fani dan kawan-kawan menangkap ikan agar ikan-ikan itu tidak kabur mengikuti aliran air.


"Bu, memang sungai dibelakang vila ini selalu dipenuhi ikan-ikan?" tanya Fani pada bu Diah.


Evan memberi anggukkan kepala pada bu Diah yang menatapnya.


"Iya, non. Kadang banyak, kadang juga sedikit," ucap bu Diah berbohong.


"Wah tinggal disini menyenangkan ya. Mau ikan tinggal tangkap disungai!" seru Fani.


"Tinggal tangkap disungai??" seru Evan mengulang kalimat terakhir Fani barusan.


"Kamu lupa kejadian tadi? Kamu baru dapat ikan setelah dua jam lebih berada didalam sungai! Dan yang kamu tangkap itu hanya satu ekor, itupun masih memerlukan bantuanku!" sindir Evan membuat Fani memonyongkan bibirnya.


Obrolan serta tawa mereka terus berlanjut. Kepulan asap disertai harum ikan bakar semakin membuat perut bergetar.


Pak Dirman dan bu Diah tampak menyantap makan siang bersama dengan Evan dan yang lainnya. Fani tanpa sadar menatap Evan yang menyantap makan siang dengan begitu lahap seraya mengobrol dengan pak Dirman.


Gadis itu tak pernah berpikir sebelumnya bahwa seorang laki-laki yang berasal dari keluarga kaya raya bisa memperlakukan orang lain dengan begitu luar biasa tanpa memandang status sosialnya. Evan yang setiap hari selalu bersikap tegas dan sedikit dingin pada karyawan, dihari itu mampu bersikap santai.


Sikap dan ucapannya berbanding terbalik saat laki-laki itu berada dikantor. Bahkan Hansen dan Riri kini sudah mulai bisa memulai candaan kecil pada sang atasan.


Sepasang mata Kania yang duduk didepan Fani terus menyoroti Fani yang sedang menatap Evan. Gadis muda itu tampak memiliki kekesalan yang dipendamnya dalam hati.


Hanya mencoba percaya bahwa apa yang di ucapkan Fani padanya tadi pagi adalah suatu kesungguhan. Meski, sedikit keraguan masih menyita disudut hati dan pikirannya melihat sorot mata Fani ketika menatap Evan.


Sorot mata yang terlihat penuh keraguan. Sorot mata yang tulus dan apa adanya. Sorot mata yang membuat Kania khawatir bahwa posisi sang kakak laki-laki di hati Fani akan tergeser oleh kehadiran Evan.