
Hansen dan Riri tampak berjalan dengan terburu-buru sesaat setelah keduanya turun dari bus. Nafas mereka berdua sudah tersengal namun ucapan bos adalah segalanya.
Meski lelah karena pekerjaan mereka hari itu tiba-tiba berubah ditambah mereka harus mampir ke pasar untuk membeli perlengkapan yang akan dibawa. Bahkan dua kantong keresek yang cukup sedang benar-benar terasa berat.
Sudah berulangkali Hansen mengusap keringat yang jatuh dari dahi ke pipinya.
"Ri rumahnya yang mana? Aku lupa!" seru Hansen.
"Itu didepan. Ayo semangat! Kita cuma perlu melewati dua rumah lagi!" Riri memberi semangat sambil berjalan cepat meninggalkan Hansen di belakangnya.
"Huft.. Sepertinya aku lebih memilih duduk tenang di kantor sekalipun pekerjaanku banyak ketimbang harus kesana-kemari seperti ini!" gerutu Hansen.
Semakin dekat keduanya dengan rumah Fani, Hansen dan Riri melihat mobil Evan yang terparkir diluar. Keduanya masuk melewati gerbang saat melihat Fani, Evan, Kania dan mama Fani sedang mengobrol di teras menanti kehadiran mereka berdua.
"Telat dua menit!" seru Evan dingin membuat jantung Riri dan Hansen berkedut.
"Evan!" tegur Fani agar tak menakuti Riri dan Hansen yang sudah memasang wajah cemas.
Evan tertawa kecil. "Nanti sebentar lagi kalian cek transferan bonus sudah masuk atau belum. Aku sudah meminta Andre mengirim ke kalian berdua!" ucap Evan membuat rasa takut bercampur cemas hilang seketika berubah menjadi rona bahagia.
"Mau langsung berangkat?" tanya Fani.
"Jelas! Kalau siang akan macet," ungkap Evan.
Evan berjalan ke arah mobil dan membuka bagasi belakang, dibantu Hansen keduanya memasukkan barang-barang dan menatanya dengan rapih agar seluruhnya dapat masuk. Mata Hansen teralihkan pada sosok Kania yang terasa asing baginya.
"Pak bos!" bisik Hansen pelan. "Dia siapa?" lirik Hansen menatap Kania yang masih berbicara dengan mama Fani.
"Dia adik Hanniel!" jawab Evan singkat.
"Hanniel? Laki-laki yang disukai Fani itu?? Lalu kenapa adiknya ada disini?" Hansen hampir saja melupakan nama laki-laki itu padahal kemarin-kemarin ini baru membahasnya.
Evan menghela nafas sambil menatap bawahannya. "Aku mana tahu. Kamu tanya Fani saja. Aku juga baru tahu kalau ternyata Fani dan adik Hanniel menjalin komunikasi baru-baru ini."
"Bos, jangan-jangan adiknya Hanniel sudah memberitahu Fani tentang pertunangan kakaknya itu?" seru Hansen.
"Sepertinya belum. Karena Fani tidak akan mungkin seriang sekarang kalau dia sudah tahu tentang hal itu!" jawab Evan.
"Ayo berangkat!" seru Fani pada Evan dan Hansen yang langsung menghentikan obrolan mereka.
Sebelum pergi Evan menghampiri mama Fani untuk berpamitan. "Tante, jika ada apa-apa langsung hubungi saya ya!" seru Evan sopan.
"Iya. Tante minta tolong juga titip Fani dan Kania ya nak Evan!" ucap mama Fani.
Setelah itu Evan berjalan masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya.
**
Hanniel tampak tak memperhatikan seseorang yang tengah mempresentasikan pekerjaannya di ruang rapat. Laki-laki itu sibuk menatap layar telepon genggamnya sembari tersenyum kecil, membuat semya orang bawahannya disana memperhatikannya dengan bingung.
Bukan tanpa sebab, Hanniel tersenyum setelah sang adik mengirim beberapa foto dirinya yang tengah berlibur ke puncak. Dalam foto itu Kania berpose beberapa kali dengan Fani di dalam mobil.
Jauh di lubuk hati, Hanniel memiliki sedikit rasa iri pada kehidupan sang adik yang memiliki sedikit kebebasan tak seperti dirinya. Kehidupan penuh tanggung jawab dan tak leluasa melakukan hal apa pun.
"Bahagia sekali! Kamu sedang melihat apa?" tanya Vivian yang merasa penasaran dan langsung menghampiri Hanniel yang tengah duduk seorang diri selepas rapat berakhir.
Mendengar suara yang dikenalnya, Hanniel langsung mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke saku celana.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Hanniel.
"Oh, aku membawakanmu makan siang sekaligus ingin mengajakmu mencoba jas untuk acara pertunangan nanti!"
Mendengar itu raut wajah bahagia Hanniel sirna seketika, digantikan dengan raut wajah serius. Laki-laki itu menatap Vivian. "Sepertinya aku tidak bisa ikut. Sore nanti aku ada urusan di luar. Kamu pilihkan saja!" ucapnya membuat Vivian menyinggungkan senyum dengan terpaksa.
"Apa tidak bisa dibatalkan?" tanya Vivian dengan penuh harap.
"Gak bisa. Pertemuan kali ini sangat penting!" ucap Hanniel tanpa keraguan.
"Atau bagaimana kalau mencoba jasnya besok saja?" tanya Vivian lagi.
"Aku menginap di luar malam ini, besok sore mungkin baru kembali. Kamu pilihkan saja. Aku ikut pilihan kamu!" jawab Hanniel yang tampaknya memang tak tertarik mengurus acara pertunangannya sendiri.
Dengan penuh kecewa Vivian tak berkata apa-apa lagi tentang hal itu. Justru dia tertarik dengan pertanyaan pertamanya tadi yang belum di jawab Hanniel.
"Kamu tadi sedang melihat apa di ponsel? Seperti senang sekali!" seru gadis itu.
"Foto adikku. Dia sedang bermain ke puncak!" ucap Hanniel singkat.
"Sendirian?" tanya Vivian lagi.
"Gak, dia pergi bersama teman-temannya!" Hanniel berbohong.
"Beruntung sekali Kania memiliki kakak yang penuh perhatian seperti kamu, sampai-sampai terkadang aku iri dengannya! Dia mendapat perhatian penuh darimu!" timpal Vivian.
"Aku gak sebaik yang kamu pikir! Dan lagi dia adikku, mana mungkin aku tak memperhatikannya. Aku hanya sedang memberinya ruang untuk bernapas!" ucap Hanniel.
Terdiam sejenak, Vivian memandang wajah Hanniel. Laki-laki itu terlihat tampan, bahkan setelah dua tahun sejak pertemuan pertama mereka.
"Kalau begitu, aku pulang ya. Aku takut mengganggu pekerjaanmu!" ucap Vivian dan Hanniel hanya menanggapinya dengan sebuah anggukkan kepala tanpa menghentikan langkah kaki gadis itu yang mulai menjauh darinya.
Banyak pasangan di luar sana seolah tak ingin berpisah satu sama lain apalagi saat mendekati hari bahagia mereka. Tapi Hanniel dan Vivian berbeda.
Hanniel semakin menjaga jarak dengan Vivian seolah lebih baik agar mereka tak saling bertemu. Dan Vivian merasa peka dengan hal itu.
Entah bagaimana topik obrolan di antara mereka berdua seolah semakin tipis saja. Dengan sulit Vivian membuka percakapan namun dengan mudahnya Hanniel memutusnya. Selalu berulang begitu saja.
Keraguan mulai muncul di hati Vivian bahkan dengan sedikit prasangka buruk. Tapi cinta di hatinya membuatnya ingin tetap bersama dengan Hanniel. Dan kesabaran adalah jalan satu-satunya.
Saat akan menutup pintu, Vivian melihat sebentar ke arah Hanniel yang kembali sibuk menatap layar telepon genggamnya. Herannya wajah laki-laki itu tampak riang kembali.
Sekilas ucapan bi Ijah menelisik kedalam pikirannya. 'Mungkinkah benar itu foto Kania atau...' batin Vivian.
Demi hari pertunangan mereka, Vivian memilih untuk diam meski puluhan tanda tanya bersarang di pikirannya. Berharap dengan membiarkannya berlalu dirinya tak akan pernah kehilangan Hanniel.
Tapi mungkinkah takdir sejalan dengan keinginannya itu?