I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Jalan mulai terbuka



Hari yang menegangkan telah tiba. Fani mengambil ijin pulang lebih cepat dari biasanya. Gadis itu masih belum sempat memilih pakaian mana yang akan dikenakannya di acara pertunangan Vivian sore nanti.


"Ma!" panggil Fani dari dalam kamar.


Sang mama yang merasa di panggil langsung bergegas membuka pintu kamar putrinya. Betapa terkejut wanita paruh baya itu saat melihat beberapa dres dengan berbagai motif berjejer di atas tempat tidur.


"Banyak sekali!" seru sang mama sembari berjalan mendekati putrinya.


"Ma, tolong bantu pilihkan satu untuk acara nanti!" pinta Fani.


"Menurut mama semuanya cantik-cantik dan lagi kamu ini cantik, jadi pakai apa saja ya pasti cantik!" puji sang mama.


"Mama nih.. Aku jadi semakin bingung!" gerutu Fani sambil memeluk erat sang mama dengan manja.


"Hmmm.. Bagaimana kalau yang ini saja? Sederhana dan warnanya cantik!" seru mama sembari mengambil sebuah dres berwarna merah muda.


"Apa cocok untukku ma?" Fani tampak ragu.


"Tentu, warna seperti ini akan membuat kulitmu terlihat semakin putih!" mama Fani bersikeras.


"Baiklah! Aku pakai pilihan mama!" Fani langsung mengambil dres itu dan membereskan dres-dres yang lain.


"Aku mau mandi dulu ma!" seru Fani yang langsung bergegas keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi.


Selang tak berapa lama, Evan yang baru saja sampai dirumah Fani langsung mengetuk pintu rumah gadis itu dan mama Fani yang tahu Evan akan datang dengan sigao membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


"Ayo masuk-masuk. Fani baru saja sedang mandi!" seru mama Fani.


"Ah iya tante, sepertinya saya datang terlalu cepat!" jawab Evan sopan.


"Tante bingung, orang lain yang bertunangan tapi dia yang senang sekali!" seru mama Fani sembari tertawa kecil.


Didalam hati Evan tampak mulai gelisah. Hanya saja dengan sekuat tenaga laki-laki itu berusaha menutupinya.


"Tante, malam ini apa Fani boleh menginap di tempat ku?" tanya Evan memberanikan diri.


Mama Fani tampak mengerutkan keningnya.


"Tante jangan khawatir, kakak ku sedang berada di rumahku!" lanjut Evan.


"Tapi Fani tidak bilang akan menginap dirumahmu!" ucap mama Fani.


"Tante ada yang ingin Evan ceritakan. Apa saya boleh menceritakannya dengan berbisik?" tanya Evan lagi.


Mama Fani memajukan kepalanya ke arah Evan, sementara laki-laki itu mulai sibuk bercerita dengan suara yang pelan. Mendadak raut wajah mama Fani berubah pucat.


"Kalian sedang apa?" tanya Fani saat melihat sang mama dan temannya saling berbisik dengan wajah serius.


Evan yang melihat ke arah Fani langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat menyadari bahwa Fani hanya mengenakan handuk berwarna biru muda untuk menutupi tubuhnya.


"Kamu cepat ganti baju sana. Evan sudah menunggumu dari tadi!" seru mama Fani seolah mengusir putrinya. Fani mau tak mau meninggalkan kedua orang itu.


"Jika kamu tahu tentang hal itu, kenapa kamu tidak melarang Fani untuk datang ke acara pertunangan Vivian?" tanya mama Fani.


"Tadinya saya juga berpikir begitu tante. Tapi setelah saya berunding dengan kak Lein, saya berubah pikiran. Saya merasa ucapan kak Lein benar, bahwa Fani cepat atau lambat akan tahu tentang kehidupan Hanniel sekarang! Cepat atau lambat, dia akan menghadapi hal yang membuatnya terluka!" jelas Evan.


Kini mama Fani seolah mengerti alasan mengapa Evan ingin agar Fani menginap di rumahnya.


"Kamu tunggu sebentar, tante akan berbicara pada Fani agar malam ini menginap dirumahmu!" mama Fani langsung bangkit berdiri dari sofa.


"Ma, cantik gak?" tanya Fani dengan raut wajah riang.


Mama Fani tak menjawabnya. Wanita paruh baya itu terdiam mematung melihat betapa cantik putrinya dengan tatapan sedih.


"Cantik! Sangat cantik!" puji mama Fani tak bersemangat.


"Kalau begitu pilihan mama adalah yang terbaik!" Fani mengacungkan dua jempol miliknya.


"Oh iya sayang, malam ini bagaimana kalau kamu menginap dirumah Evan saja?" seru sang mama.


"Loh kenapa?" Fani tampak bingung.


"Tadi Evan bilang katanya kakaknya ingin bertemu denganmu. Kalian kan sudah lama tidak mengobrol. Jadi menginaplah disana untuk satu malam ini!" terang mama Fani berbohong.


"Kak Lein? Baiklah!" Fani langsung setuju.


Gadis cantik itu tak tahu apa yang akan dihadapinya sebentar lagi, atau memang tak pernah terbayangkan bahwa senyumnya mungkin sebentar lagi akan menghilang.


"Evan!" panggil Fani pada Evan yang saat itu masih duduk diruang tamu rumahnya dan sibuk menatap telepon genggamnya.


Evan menengadahkan kepalanya menatap Fani dan laki-laki itu takjub melihat kecantikan Fani. Riasan wajah gadis itu terlihat tidak berlebihan, sangat pas di wajahnya.


"Jelek ya?" tanya Fani saat melihat Evan yang menatapnya tanpa berkata apa-apa.


Evan tersenyum. "Menurutku cantik kok! Sering-seringlah berpakaian seperti ini!" puji laki-laki itu.


"Waduh.. Hahahaha.." Fani tertawa kecil. Gadis itu sebenarnya tidak terbiasa mengenakan dres seperti itu. Biasanya, dirinya hanya memakai pakaian kasual yang santai.


"Karena aku sudah cantik, yuk capcus pergi!" seru Fani yang langsung menggandeng tangan Evan tak sabaran.


"Tante, saya dan Fani pergi dulu ya!" seru Evan berpamitan pada mama Fani yang saat itu berdiri dibelakang Fani.


Raut wajah wanita paruh baya itu tampak sedih bercampur khawatir. Mama Fani tak berkata apa-apa, namun matanya terus menatap Evan. Seolah berkata 'tolong jaga Fani ya'. Dan Evan yang tampak mengerti dengan maksud dari tatapan itu menganggukkan kepalanya.


"Kamu ganti mobil baru?" tanya Fani saat melihat sebuah mobil SUV berwarna putih berada didepan rumahnya.


"Oh bukan, ini mobil kak Lein! Mobil ku sedang masuk bengkel,"sahut Evan saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Loh kenapa? Bukannya beberapa hari yang lalu saat dipakai pergi ke puncak baik-baik saja?"


"Kemarin ku pakai pergi ketemu klien ternyata mesinnya agak panas. Terus lama-lama mesinnya mati. Siang tadi kak Lein menghubungi bengkel dan langsung deh dibawa pergi!" cerita Evan.


"Tapi tadi pagi kamu masih pakai mobil itu?"


"Masih, kan baru rusaknya pas ketemu 'calon klien' siang tadi di luar!"


"Pantas aku tadi ke ruangan kamu, tapi kamu gak ada. Apa ada kerjasama baru?" tanya Fani yang mulai penasaran.


"Oh, tentang itu. Aku hanya mewakili papa bertemu seorang teman lamanya. Tapi, teman papa ku itu sempat bilang ingin menjadi sponsor untuk salah satu novel terbaik yang akan launching!"


"Wah itu berita baik!" Fani turut senang.


"Sebenarnya, aku sedang memikirkan untuk mengenalkanmu dan Vivian pada beliau. Kebetulan kalian kan sedang bekerja sama membuat novel. Harapan ku sih kalau novel kalian lah yang mendapat sponsor dari beliau. Lumayan untuk promosi novel atau tambahan souvenir pembeli!" terang Evan.


"Aku sih setuju-setuju aja selama pak bos yang mengurusnya!" jawab Fani senang.