I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Pertengkaran sengit



Kania langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke bantal dan menangis sejadi-jadinya.


Dirinya hanya berharap bahwa air mata dapat membawa pergi seluruh kekesalannya. Dirinya juga berharap jika tangisannya dapat memberi kebahagiaan untuk sang kakak. Meski itu rasanya sangat mustahil.


"Aku harus berjuang!" gumamnya sembari bangkit dari atas tempat tidur dan pergi keluar kamar.


Kania langsung membuka pintu kamar sang kakak tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dilihatnya sang kakak tengah duduk didepan meja sembari memegang lembaran uang pecahan seratus ribu rupiah dan sebuah kertas.


Hanniel tampak kaget melihat Kania menyerbu masuk ke kamarnya tanpa permisi. "Sudah ku bilang ketuk pintu dulu, jangan asal masuk!" tegur Hanniel.


Kania menghampiri Hanniel dan membuka laci meja yang biasanya terkunci rapat. Diambilnya beberapa barang yang ada didalam sana.


"Apa maksud dari semua barang-barang ini?" tanya Kania sembari menangis dan menunjuk ke setiap barang yang ada di atas meja.


Ada sebuah undangan pernikahan berwarna hijau, sebuah kotak musik dan telepon genggam yang sudah usang.


"Hei, kalian ke.." Belum sempat sang mama menyelesaikan kalimatnya, Hanniel sudah keburu menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Kotak musik itu!" Kania menunjuk sebuah kotak musik berbentuk bulat dengan sebuah boneka didalamnya. "Itu adalah hadiah dari kak Fani saat ulang tahun kakak yang ke tujuh belas tahun. Undangan itu, adalah undangan yang diberi kak Fani sebulan lalu. Ponsel itu, adalah ponsel yang pertama kali kakak pakai saat kakak dekat dengan kak Fani!" lanjut Kania setengah berteriak, membuat nafasnya tersengal-sengal.


"Lalu kenapa?" tanya Hanniel mencoba untuk bersikap tenang.


"Kalau kakak gak suka sama kak Fani, kenapa kakak masih menyimpan semua barang-barang ini?" tanya Kania sambil berteriak histeris.


Hanniel menghela nafas dalam. "Kalau kamu berpikir begitu baiklah, kakak akan membuangnya!"


"Hanniel buka pintunya atau papa akan dobrak!" seru sang papa dari luar.


Mau tak mau Hanniel terpaksa membuka pintu kamarnya dan kedua orangtuanya kaget melihat wajah Kania penuh dengan air mata.


"Ada apa ini?" tanya sang papa.


"Gak ada apa-apa!" sahut Hanniel datar.


"Kalau gak ada apa-apa kenapa adikmu menangis seperti ini?" tanya sang mama.


Tiba-tiba dengan suara lantang dan keras Kania berteriak, "Kakak jahaaaaaat! Kakak adalah laki-laki paling bodoh di dunia!"


"Hei! Jangan bicara kasar seperti itu ke kakak mu!" tegur sang mama membuat Kania semakin marah.


"Kenapa gak boleh? Apa hanya mama dan papa yang bisa bersikap seenaknya dirumah ini?" timpal Kania berteriak.


"Plak!" sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kanan gadis itu.


Hanniel langsung menarik tangan Kania mundur kebelakang sementara dirinya maju di depan Kania, berusaha melindungi adik kesayangannya. Dengan tatapan tajam, laki-laki itu menatap sang mama penuh kemarahan.


"Dasar anak gak tahu sopan santun!" seru sang mama yang mulai tersulut emosi.


Hanniel semakin kesal mendengar sang mama justru memarahi Kania. "Tentang sikap Kania bukankah mama dan papa harusnya bertanya kepada diri sendiri? Bagaimana seorang anak bisa bersikap seperti itu? Mungkinkah aku sebagai orang tua memberi contoh yang buruk? Karena anak biasanya mencontoh apa yang dilihatnya di rumah!" seru Hanniel dengan nada sedikit tinggi.


"Kamu kenapa membela dia? Sikap dia itu salah!" seru sang mama dengan nada bicara yang juga meninggi.


Hanniel menatap sang adik yang terus menangis dan memegang pergelangan tangan gadis itu lembut. "Memang sikap dia salah. Lalu, apa sikap mama sudah benar?" tanya Hanniel dengan nada yang tak kalah tinggi.


Melihat pipi kanan Kania mulai memerah, Hanniel semakin kesal. "Apa sebuah tamparan bisa langsung memperbaiki sikap buruk Kania?! Kalau mama ingin marah, cukup pakai suara dan tangan gak perlu ikut bicara!"


**


Pukul delapan malam, Evan baru kembali ke apartemennya. Saat akan masuk, laki-laki itu menyadari bahwa ada seseorang disana.


"Kak?" panggil Evan.


"Hei kamu sudah pulang?" tanya kakak perempuan Evan yang bernama Lein.


"Hmm.. Kakak sedang apa malam-malam masih di dapur?" tanya Evan sembari menghempaskan tubuhnya duduk d atas sofa.


"Tempatmu ini berantakan sekali! Melihat piring-piring kotor menumpuk membuat tangan kakak gatal!" ucap Lein.


Sambil mengelap kedua tangannya yang basah dengan kain lap kering, wanita muda berambut panjang kecoklatan itu datang menghampiri Evan.


Mata Lein langsung tertuju pada balutan perban di tangan kanan sang adik. "Kamu habis bertengkar?" tanyanya.


"Bukan. Aku hanya sedikit kesal hari ini. Jadi aku menonjok meja kerjaku!" jawab Evan santai seolah itu hal yang biasa.


"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Lein dengan lembut.


"Bukan. Aku hanya kesal dengan diriku sendiri," sahut Evan pelan sembari menghembuskan nafas berat.


"Oh iya, suami kakak gak ikut kesini?" tanya Evan mengalihkan pembicaraan.


"Dia sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu sendiri sejak kepergian mama, papa kita memilih pergi berjalan-jalan tanpa mau mengurusi perusahaan," terang Lein.


Mendengar kata 'mama' Evan tertunduk lesu. Mendadak laki-laki itu ingat malam dimana dirinya selama enam hari berturut-turut tidur dirumah sakit. Bahkan Fani pun ikut membantunya mengurusi sang mama yang jatuh koma.


Evan membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas pangkuan sang kakak. "Dua tahun sudah berlalu, tapi aku masih tetap merindukannya!" seru Evan pelan.


Dengan lembut Lein membelai rambut Evan. "Meski mama sudah tidak ada, tapi kamu masih punya kakak! Ada banyak orang yang menyayangi kamu. Kamu jangan lupa hal itu!"


Evan tersenyum kecil. Rasanya sangat tenang memiliki sang kakak yang selalu berada disampingnya.


"Kak, ada yang ingin aku ceritakan!"seru Evan.


Laki-laki itu langsung menceritakan permasalahan yang sedang dia hadapi terkait Fani.


"Aku merasa bersalah karena mengenalkannya pada Vivian dan membuat mereka berdua bekerja sama," ucap Evan dipenghujung cerita.


"Menurut kakak kamu hanyalah perantara takdir agar mereka bertemu. Pada dasarnya setiap orang sudah ditakdirkan untuk bertemu satu dengan yang lainnya. Dimana dengan pertemuan itu, mereka akan menjalani kisah yang sudah ditentukan sejak awal," ucap sang kakak.


"Maksud kakak?"


"Maksud kakak adalah bahwa ketiga orang itu memang sepertinya sudah ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain. Kamu tidak bersalah. Biarkan takdir sendiri yang menuntun kisah mereka masing-masing. Jika kamu takut Fani akan terluka, tetaplah disampingnya. Temani dia saat dia membutuhkanmu."


"Berarti aku tidak perlu membuat rencana apa pun untuk menghalangi Fani datang ke acara pertunangan itu?"


"Tentu. Untuk apa kamu melakukannya? Biarkan dia menghadapi apa yang harus dia hadapi. Terkadang mendapat sedikit luka akan membuat seseorang menjadi jauh lebih baik. Dan jika kamu berpikir bahwa Fani lemah, menurut kakak itu salah. Bisa saja Fani itu lebih kuat dari yang kamu tahu," terang sang kakak bijak.


Evan terdiam mendengarkan ucapan kakak perempuannya.


"Kakak tahu kamu menyukai Fani sejak duduk di bangku kuliah. Kakak hanya ingin memberi saran. Jika kamu benar-benar menyukainya, tunggulah sebentar. Karena jika kamu memaksakan diri untuk memilikinya sedangkan kisah dia dan masa lalunya belum usai, kamu hanya akan terluka!"