I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Percayalah



Dirumah Hanniel tampak kedua orang tuanya dan orang tua Vivian tengah asyik mengobrol sementara Vivian yang berada disana tampak diam seribu bahasa. Wajah gadis itu terlihat sedih.


Bagaimana tidak? Malam itu seharusnya kedua keluarga sedang berbahagia membicarakan perihal acara pertunangan nanti, namun Hanniel tak ada disana.


Berulangkali Vivian mencoba menghubungi, laki-laki itu tak menerimanya. Bahkan sepuluh pesan yang dia kirim ke Hanniel sama sekali belum dibaca.


Berulangkali juga Vivian menengok ke arah pintu, berharap Hanniel akan segera datang. Namun sayang, harapan itu harus sirna bahkan sampai kedua orangtua Vivian memutuskan untuk segera pergi darisana, Hanniel tak menampakkan batang hidungnya.


"Vivian maafkan, tante. Sebenarnya tante sudah berulang kali mengingatkan dia tentang pertemuan keluarga hari ini. Tapi sepertinya Hanniel lupa. Belakangan dia memang terlalu sibuk!" seru mama Hanniel berbohong.


Mendengarnya, mau tak mau Vivian tersenyum meski sedikit terpaksa. "Saya tahu tante Hanniel memang sedikit gila kerja!" ucap Vivian sebelum masuk kedalam mobil bersama kedua orangtuanya.


Sementara di tempat lain Hanniel tampak memarkirkan mobilnya didepan sebuah taman kota yang saat itu cukup ramai. Lima belas menit berlalu keduanya tetap diam.


Hanniel menatap sang adik yang memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela kaca mobil. Gadis itu sudah berhenti menangis, hanya menyisakkan kedua matanya yang sembab.


"Kakak minta maaf!" seru Hanniel membuka obrolan.


Kania masih diam. Gadis itu seolah tak ingin berbicara ataupun melihat wajah sang kakak.


"Baiklah kalau kamu gak mau berbicara dengan kakak. Biar kakak yang berbicara, kamu cukup menjadi pendengar!" seru Hanniel lagi.


Hanniel menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memulai pembicaraan panjangnya.


"Kakak pikir di umur kamu yang sekarang kamu sudah bisa berpikir lebih jauh ke depan dan tidak mengedepankan emosi. Tapi ternyata kakak salah. Kamu masih tetap sama!" seru Hanniel pelan. Laki-laki itu hanya berusaha menasihati adiknya dengan nada yang lembut.


"Kania, nanti saat kamu sudah bisa berpikir secara dewasa, maka kamu akan mengerti bahwa dalam hidup ini tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginanmu!" lanjut Hanniel.


"Tapi kakak bisa berusaha!" timpal Kania dengan nada yang sedikit tinggi. "Kalau kakak terus menerus mengikuti keinginan mama dan papa ya tentu itu yang akan terjadi. Tapi kalau kakak berusaha menentang mereka bisa saja kakak mendapatkan apa yang kakak mau!" lanjut gadis itu sembari menangis lagi.


Hanniel memutar tubuhnya ke arah kiri. Kedua tangannya meraih wajah Kania dan dengan lembut menghapus air mata gadis itu.


"Kakak tahu maksud kamu baik. Tapi, kakak hanya minta satu hal dari kamu. Biarkan kakak mengurus semuanya. Biarkan kakak menyelesaikan beberapa hal yang memang harus diselesaikan terlebih dahulu. Lalu setelahnya kakak akan meraih apa yang ingin kakak miliki. Apa kamu percaya dengan kakak?" tanya Hanniel dengan menatap lembut sang adik.


"Dan.. Kakak tahu kamu kurang menyukai hubungan kakak dan Vivian, tapi tolong jangan membencinya. Dia bukan orang yang jahat. Dalam hal ini kakak yang salah," ucap Hanniel lagi.


Kania mengangguk mengerti dan mau menerima ucapan sang kakak tanpa membantah. Hati gadis itu mulai luluh.


"Apa ini masih sakit?" tanya Hanniel yang mengelus pipi kanan Kania.


Gadis itu mengangguk lagi.


"Kakak tahu malam ini kamu pasti malas pulang ke rumah, jadi kamu mau tidur dimana malam ini?" tanya Hanniel.


Kania tak menjawab justru memandang keseluruhan wajah sang kakak.


"Baiklah! Kakak sepertinya tahu harus membawa mu kemana!" ucap Hanniel yang langsung menyalakan mesin mobilnya.


Selama perjalanan Kania hanya diam sembari menatap ke arah kaca jendela. Pikirannya terus melayang.


Namun tiba-tiba suara Hanniel membuyarkan lamunannya. "Turunlah!" seru laki-laki itu.


Kania mengangguk. Tak butuh waktu lama sampai Kania turun dari mobil dan berjalan mengetuk pintu rumah Fani.


Fani langsung membuka pintu rumahnya dan mendapati Kania tengah berdiri disana. Raut wajah gadis itu tampak kusam dan tak seceria biasanya. Samar-samar Fani bisa melihat bahwa pipi kanan Kania nampak memerah.


"Masuk-masuk!" Fani langsung menggandeng tangan Kania masuk kedalam rumah.


"Astaga Kania kamu kenapa?" seru mama Fani yang langsung bangkit berdiri menghampiri Kania dan memeluknya padahal wanita itu sedang asyik menonton tv.


Kania menangis didalam pelukan mama Fani dan dengan lembut mama Fani mengelus-elus pelan punggungnya, mencoba menenangkannya.


Sementara Fani langsung pergi ke dapur dan mengambil beberapa es batu dari kulkas lalu di masukkannya ke dalam lap bersih.


"Ini, tempelkan dulu ke pipi mu!" seru Fani prihatin.


Kania langsung menerimanya. Kini ketiga orang itu duduk bersama di ruang keluarga.


"Apa kamu bertengkar dengan orangtuamu?" tanya Fani dan Kania mengangguk membenarkan.


"Lalu.. Itu.." Fani menunjuk pipi kanan Kania.


"Mama menamparku!" seru Kania membuat Fani dan sang mama saling melempar pandang.


"Ka-kalau begitu malam ini menginaplah disini. Tapi setidaknya kamu harus memberitahu kakakmu. Jangan sampai dia khawatir," ucap Fani.


"Justru kak Han yang membawa ku kesini!" timpal Kania membuat Fani termenung sejenak saking tak percaya mendengarnya.


"A-apa mobil hitam yang berhenti didepan tadi itu mobil kakakmu?" tanya Fani dan Kania mengangguk membenarkan.


Fani terdiam. Mungkinkah kisah masa lalunya sekarang akan mulai terjalin kembali setelah sembilan tahun lamanya menggantung begitu saja?


"Apa kamu sudah makan malam?" tanya mama Fani pada Kania.


"Belum tante...." sahut Kania pelan.


"Kalau gitu tante masakin nasi goreng ya! Kalian berdua mengobrollah!" Mama Fani langsung pergi ke dapur mempersiapkan nasi goreng untuk Kania.


"Kamu bilang kakakmu yang membawa mu kesini? Bukannya kakakmu membenciku?" tanya Fani.


"Kak Fan, kakak ku sama sekali gak pernah bilang kalau dia membenci kakak. Dia hanya terlalu sibuk mengurus pekerjaannya," jawab Kania cepat.


"Maksud kakak tentang sikapnya di masa lalu. Sewaktu hari terakhir ujian nasional, aku melihatnya tapi dia membuang pandangannya ke arah lain. Aku masih ingat dengan jelas. Bukankah itu karena kakak mu membenci ku?"


"Masalah itu aku kurang paham. Lebih baik kakak tanya langsung ke kak Han!"


"Bagaimana bisa aku bertanya ke kakakmu kalau dia saja sudah memblokir nomor ku? Sudah sembilan tahun berturut-turut aku juga selalu mengirim pesan namun dia sama sekali gak pernah membalas satu pun pesan yang ku kirim."


Kania tiba-tiba menggenggam tangan Fani. "Kak, aku percaya cepat atau lambat kalian juga akan bertemu. Jangan khawatir. Saat itu kakak bisa langsung bertanya ke kak Han apa yang selama ini kakak ingin tanyakan."