I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Bersenang-senang



Evan menatap sekeliling kamar Kania yang terlihat cukup rapih.


"Kamu yakin baterainya habis?" tanya Evan seraya meraih ponsel Kania yang berada di dekat lampu tidur diatas meja kecil samping tempat tidur.


Evan langsung mencoba menyalakan ponsel itu dan berhasil. Namun, saat ponsel itu berhasil menyala, beberapa pesan dan pemberitahuan panggilan tak terjawab datang beruntun memenuhi layar telepon genggam Kania.


Sebuah pesan bernada makian dan merendahkan yang tertangkap mata Evan, membuatnya naik pitam.


"Apa karena ini kamu mematikan ponsel?" tanya Evan dan Kania langsung membenarkan.


"Apa ini semua dari laki-laki yang kemarin?" tanya Evan lagi.


Lagi, Kania mengangguk.


"Ini.." Evan menyodorkan ponsel Kania pada pemiliknya.


"Kamu balas pesannya, ajak dia bertemu.. Masalah tempat biar dia yang menentukan..." seru Evan.


"Hah?" Kania tampak terkejut, takut salah dengar.


Kania tampak bingung, tak mengerti mengapa Evan memintanya menghubungi Jonas.


"Cepat.. Oh iya kamu juga ganti baju, aku tunggu depan.. Nanti kita pergi!" seru Evan seraya berjalan keluar dari kamar Kania.


**


Evan menghentikan mobilnya disebuah hotel yang tampak sepi dan berada jauh dari keramaian.


Setelah turun dari mobil, Evan melihat sekeliling tempat itu dengan Kania yang kini berdiri disampingnya.


"Dia pintar sekali memilih tempat seperti ini.." gumam Evan.


"Sebenarnya kita kesini mau apa? Kenapa juga harus ketemu sama orang kayak gitu?" Kania tampak masih tak mengerti maksud hati Evan mengajaknya kesana bertemu Jonas.


"Nanti juga kamu tahu.."


Evan langsung berjalan menuju koridor kamar hotel yang benar-benar sepi. Hotel itu terlihat seperti hotel 'malam' di pinggiran kota. Bahkan, seorang resepsionis laki-laki yang berada disana tampak tak begitu mempedulikan kedatangan Evan dan Kania yang tadi langsung masuk begitu saja.


"Ini kamarnya! Coba kamu panggil dia 'sayang'.. Ucapkan dengan lembut!" perintah Evan.


Dengan enggan dan berat hati, Kania mengikuti instruksi Evan.


"Sayang, aku sudah datang.." seru Kania berusaha melembutkan nada bicaranya menjadi manja, sementara Evan yang berdiri bersembunyi di samping sebelah kiri Kania tersenyum kecil.


Pintu terbuka dan Jonas keluar dari dalam kamar dengan tatapan seperti harimau yang mendapatkan mangsa empuk. Tangan kanan Jonas terangkat, hendak memeluk bahu Kania langsung di sergah oleh Evan.


Evan memelintir tangan Jonas dan menendang perut laki-laki itu hingga jatuh tersungkur kebelakang. Atraksi kecil Evan membuat Kania takjub sekaligus terpukau.


Bagaimana tidak? Evan melakukan semua itu demi dirinya.


Evan menatap Kania sembari mengedipkan satu matanya. "Tutup pintunya! Kamu masih anak-anak. Biarkan kami dua orang dewasa bermain dan bersenang-senang.." seru Evan dan Kania langsung menutup pintu dari luar.


Gadis itu tampak memasang kuping didekat jendela samping pintu namun tak terdengar suara apa-apa. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Kania, membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh kebelakang.


"Kakak.. Kak Fani..." serunya kaget melihat sang kakak dan Fani berada dihadapannya.


"Kalian berdua kenapa kesini?" tanya Kania.


"Harusnya kakak yang tanya seperti itu. Kamu ngapain kesini? Ini bukan tempat yang baik!" tegur Hanniel.


"Kakakmu setelah menerima pesan dari kamu merasa khawatir jadi dia mengajakku ikut kesini.. Oh ya, Evan mana?" tanya Fani yang menyadari sosok Evan tak berada disamping Kania.


"Dia didalam.." jawab Kania cepat.


Kania tak menjawab pertanyaan itu dan justru menyodorkan ponsel miliknya pada sang kakak.


Wajah Hanniel saat melihat beberapa pesan yang berada dalam ponsel sang adik langsung berubah merah.


"Kalian berdua tunggu disini!" ucap Hanniel.


Baru saat Hanniel memegang pegangan pintu, hendak membukanya, dari dalam Evan sudah membuka pintu itu dan tersenyum menatap Hanniel.


"Yoo.. Kalian berdua datang?" seru Evan seraya menarik kerah baju Jonas dan mendorongnya ke hadapan Kania.


Fani tampak mengerutkan kening melihat sikap Evan yang baru dilihatnya.


"Cepat katakan!!" bentak Evan membuat beberapa tamu yang sedang berada disana keluar dari kamar masing-masing.


"Ma-maaf!" ucap Jonas pada Kania dengan wajah yang cukup babak belur.


"Apa kamu puas? Atau.. Masih kurang?" tanya Evan pada adik Hanniel itu.


"Cu-cukup.. Jika kamu memukulnya lagi, dia bisa tewas!" sahut Kania.


"Kamu mau menghajarnya tidak?" tanya Evan pada Hanniel.


"Gak usah, sudah diwakilkan oleh mu!" timpal Hanniel.


Evan mengangguk mengerti. Tiba-tiba laki-laki itu membungkukkan tubuhnya mendekat pada Jonas yang tengah bersujud. Berbisik sesuatu namun sangat pelan dan tak terdengar oleh ketiganya.


"Apa kamu mengerti?" tanya Evan pada Jonas dengan sorot mata mirip dengan pisau tajam yang dapat menyayat kapan saja.


"Me-mengerti..." jawab Jonas dengan gemetaran.


"Yuk semuanya pulang!" Evan langsung berjalan pergi dari sana seraya memegang pergelangan tangan Fani, membuat Hanniel menepuk pelan pundak sang adik yang terlihat kecewa.


Setiba di parkiran, Fani langsung menghentikan langkah kakinya, membuat Evan melakukan hal yang sama.


"Kamu kenapa melakukan hal seperti itu? Apa kamu gak takut konsekuensinya? Kamu dengan seenaknya memukuli orang lain.." gerutu Fani.


"Maaf.. Maaf.. Aku hanya kesal.. Dia berbicara seenaknya, mengirim pesan kotor.. Benar-benar merendahkan kami kaum laki-laki!" sahut Evan tak mau kalah.


"Lalu bagaimana kalau dia lapor polisi?" tanya Fani lagi. Hatinya penuh dengan kekhawatiran.


"Dia gak mungkin berani.. Percaya padaku.. Hidup dia ada di genggaman tanganku! Hehhee.." Evan terkekeh kecil, membuat Hanniel bingung melihat sikap Evan yang terkesan penuh misteri.


"Kamu yakin gak takut setelah memukulinya seperti tadi?" tanya Hanniel.


"Gak! Jangan khawatir.. Jika dia melakukan hal seperti itu, keluarganya akan benar-benar hancur!" ucap Evan penuh percaya diri.


"Apa maksud kamu?" Fani semakin tak mengerti.


"Semalam, aku menyelidiki latar belakangnya.. Dia adalah anak dari salah satu bawahan papaku, sekarang kakak iparku yang menjadi atasannya.. dan.. Papanya korupsi dengan jumlah yang lumayan besar.. Aku pikir kakak iparku belum menyadari hal itu.." terang Evan.


"Jadi kamu mengancamnya hanya dengan hal itu?" tanya Fani lagi.


"Tentu tidak.. Aku masih memiliki bukti 'kotor' lainnya.. Hehehe.." Evan terlihat bangga.


"Luar biasa.. Dalam satu malam kamu bisa mengumpulkam banyak informasi.." seru Kania.


"Tentu.. Oh iya, jangan khawatir, dia tidak akan mengganggumu lagi. Jika dia melakukan hal seperti itu, beri tahu aku.. Aku akan mengurusnya dengan cara yang lebih kejam.." ucap Evan.


Fani melempar pandang pada Hanniel seolah meminta bantuan pada laki-laki itu untuk membantunya berpikir tentang semua hal yang terjadi sore itu. Tentang sikap peduli Evan pada Kania yang menurutnya cukup mengesankan.


"Kalau begitu, kamu sana pulang dengan kakakmu.. Aku dan Fani masih harus kembali ke kantor.. Oh iya, pipimu lebih baik di kompres dengan es batu untuk mengurangi bengkaknya!" seru Evan seraya menarik tangan Fani pergi.