
Langit berubah kuning keemasan dengan begitu cepat saat kelima muda-mudi itu berada di hamparan kebun teh. Tak ada sedikit pun raut wajah lelah di antara mereka. Semua terlihat bergembira.
Kania tampak berlari saling berkejaran dengan Hansen dan Riri, seolah mereka bertiga sudah lama saling mengenal. Sementara Fani memilih duduk di hamparan rumput tebal yang sedikit miring.
Dari tempatnya duduk, gadis itu bisa melihat keseluruhan kebun teh yang luas. Bahkan harum daun teh bisa di ciumnya.
"Cantik banget!" puji Fani akan keindahan pemandangan di depan matanya.
"Kalau kamu suka, nanti kapan-kapan kita kesini lagi!" ucap Evan yang duduk disamping Fani.
"Hmm boleh!" jawab gadis itu penuh semangat.
Lama Evan terdiam memandang wajah Fani dari samping kiri. Gadis itu terlihat begitu sederhana dan apa adanya namun semua hal itu yang membuat Evan tertarik.
"Fan!" panggil Evan tiba-tiba. Kedua netra mereka saling bertemu.
"Ehm?" jawab Fani sembari mengernyitkan keningnya mendapati tatapan Evan yang begitu lekat.
"Seandainya besok-besok aku melakukan suatu kesalahan, apakah kamu akan membenciku?" tanya Evan.
"Kesalahan? Seperti apa?" Fani balik bertanya.
Evan terdiam. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Misalnya seperti menyembunyikan sesuatu darimu.."
Kini giliran Fani yang terdiam menatap Evan. Lalu, tiba-tiba gadis itu tertawa kecil membuat suasana tegang di antara keduanya menghilang.
"Aku bingung. Hari ini sudah dua pertanyan seperti itu yang aku terima!" jawab Fani.
"Memang siapa yang bertanya tentang hal itu selain aku?" Evan bingung.
"Kania. Tadi pagi dia menanyakan hal yang sama seperti yang kamu tanyakan barusan. Kenapa kalian berdua seperti kompak sekali? Apa ada yang kalian sembunyikan dari ku?" Fani balik bertanya.
"Karena aku sudah berjanji sejak awal berteman denganmu bahwa aku tidak akan berbohong, maka aku akan berkata jujur!" Evan menarik nafas dalam-dalam, sedang Fani memperhatikannya dengan diam.
"Aku memang mempunyai satu hal yang mengganjal di hati dan pikiranku. Hal itu menyangkut kamu. Tapi, sudah beberapa hari ini aku berpikir bahwa aku gak punya hak apa pun untuk memberitahumu. Aku berpikir akan lebih baik jika kamu tahu dengan sendirinya. Aku hanya ingin menyampaikan sebagai seorang teman, bahwa jika kamu terluka suatu hari nanti datanglah padaku. Beritahu aku dan aku akan meminjamkan pundak ku untuk kamu. Saat itu terjadi, aku hanya akan mengatakan 'menangislah' dan semua akan berakhir baik-baik saja!" ucap Evan panjang lebar.
Mendengar setiap untaian kalimat Evan barusan, Fani termenung. Senyum kecil di wajahnya menghilang, berganti dengan ke khawatiran. Sebenarnya apa yang sedang Evan bicarakan? Hal apa yang menyangkut dirinya hingga membuat laki-laki itu terlihat sedikit gusar?
"Apa yang....." Fani tak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara "bruuuukk.." yang cukup keras.
Kania terjatuh saat dikejar Hansen yang menjahilinya dengan sebuah ulat berwarna hijau. Evan yang melihatnya langsung bangkit berdiri dan berlari meninggalkan Fani. Laki-laki itu berjongkok didepan Kania dan memeriksa pergelangan kaki gadis itu.
"Apa ini yang sakit?" tanya Evan pada Kania saat gadis itu terus memegang pergelangan kaki kanannya.
Kania mengangguk dengan wajah nyaris menangis. Sementara Riri memukul-mukul pelan Hansen.
"Kania, aku minta maaf!" ucap Hansen menyesal.
Kania hanya mengangguk lagi.
"Jangan menangis. Ini hanya keseleo. Bisa berdiri gak? Coba dipakai jalan!" seru Evan seraya membantu Kania berdiri bahkan di samping kanan dan kiri gadis itu sudah ada Riri dan Fani yang berjaga.
Laki-laki itu tiba-tiba memutar tubuhnya membelakangi Kania laku berjongkok. "Naiklah!"
Kania terkejut bukan main. Gadis muda itu menatap Hansen, Riri dan Fani bergantian dengan ragu.
"Kania maaf, badanku kurus begini. Gak akan sanggup untuk menggendongmu! Biar pak bos saja yang melakukannya!" seru Hansen.
"Benar biar pak bos saja! Badan pak bos kekar begitu!" timpal Riri.
Sedang Fani tak memberikan komentar apa pun. Dia hanya mengangguk membenarkan ucapan Hansen dan Riri.
"Lama sekali!" seru Evan yang tak sabar dan langsung memegang pergelangan tangan kanan Kania dan menariknya. Gadis muda itu terjatuh di punggungnya.
"Kalian bertiga, tak perlu ikut. Tetaplah disini dan menikmati suasana matahari sore. Kania biar aku yang mengurusnya, jangan khawatir!" seru Evan lagi.
Entah bagaimana jantung Kania terasa berdegup lebih cepat. Bahkan saat dirinya merangkul erat leher Evan, terasa sangat hangat.
Selama perjalan pulang, Evan dan Kania tak saling berbicara. Pada dasarnya mereka berdua memang tidak dekat. Evan menjaga jarak karena Kania adalah adik Hanniel sementara Kania tak suka pada Evan karena laki-laki itu menyukai Fani. Sungguh rumit.
"Non Kania kenapa, tuan?" tanya bu Diah yang tengah nenyiram tanaman dikebun depan. Wanita paruh baya itu terlihat terkejut melihat kedatangan Evan yang menggendong Kania di punggungnya.
"Dia terjatuh dan pergelangan kaki tangannya terkilir!" jelas Evan seraya mendudukan Kania dengan hati-hati di bangku taman.
"Ibu ambil kotak obat dulu untuk mengobati siku tangannya!" seru bu Dian seraya berjalan masuk kedalam vila.
Evan baru melihat bahwa ada sedikit luka gores di siku tangan kanan gadis muda di hadapannya. Kemudian, laki-laki itu berjongkok dan mengambil kaki kanan Kania. Memijitnya perlahan. Masih tak ada pembicaraan apa pun di antara keduanya.
Evan tampak fokus melakukan pekerjaan barunya. Tanpa sadar, Kania terus menatap Evan.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Evan lembut sambil menatap Kania dan kedua pasang mata mereka bertemu.
Kania menggelengkan kepala. Tak ada rintihan rasa sakit lagi seperti sebelumnya.
"Tuan ini kotak obatnya!" seru bu Diah yang baru kembali.
Evan mengambil kotak obat itu. Laki-laki itu mengambil sebuah kain kasa dari dalam kotak obat dan memotongnya menjadi tiga bagian. Satu bagian disiram dengan alkohol, lalu mengusap pelan luka di siku tangan kanan Kania.
Lagi, Kania tampak terkesima dengan perlakuan baik Evan padanya. Menurutnya, Evan adalah laki-laki ke tiga yang tulus dan perhatian padanya setelah papa dan Hanniel.
"Terima kasih!" ucap Kania pada akhirnya.
Mendengar hal itu, Evan mendongakkan kepalanya menatap Kania dengan dahi yang berkerut.
"Aku baru tahu anak kecil sepertimu tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih! Apa kakak kesayanganmu yang mengajarinya?" ejek Evan membuat Kania kesal.
"Jangan bawa-bawa kakak ku! Dan lagi kamu bilang aku anak kecil?! Aku ini sudah berumur dua puluh enam tahun!" Kania tampak geram.
"Ehmm.. Anak kecil.. Karena hanya anak kecil yang masih gak tahu sopan santun sama sepertimu!" timpal Evan.
Di kejauhan tampak Fani yang tersenyum melihat pertengkaran manis diantara Evan dan Kania. Menurutnya, sungguh jarang melihat Evan mau bersikap kekanakkan seperti saat ini.