
Evan duduk di sofa ruang tamu rumahnya saat sang kakak baru saja keluar dari kamar.
"Bagaimana? Apa dia masih menangis, kak?" tanya Evan pelan.
"Tentu saja. Jika dia baik-baik saja justru mengherankan!" sahut sang kakak yang duduk di samping Evan.
"Memang kenapa?"
"Bayangkan saja jika kamu mencintai seseorang terlalu dalam dan orang itu pergi meninggalkanmu begitu saja. Kamu dengan bodohnya masih berharap suatu saat akan dipertemukan kembali dengan orang itu. Tapi, takdir malah mempertemukan kalian saat orang yang kamu sukai sudah memiliki seseorang dalam kehidupannya sekarang. Mungkinkah kamu akan baik-baik saja?" tanya kak Lein pada sang adik.
Evan menundukkan kepalanya. Jika itu dirinya tentu hatinya akan sangat patah. Harapan yang selama ini dibangun dengan susah payah hancur berantakan.
"Setiap hari kamu mungkin akan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa, 'oh iya, hari ini pun aku masih bisa mengingatnya dengan jelas'. Mengingat dan menyimpan bayangan orang itu dalam hati pasti akan sangat menyakitkan!" ucap kak Lein lagi.
"Aku mengerti. Hanya saja yang aku bingung, kenapa saat Hanniel pergi begitu saja bahkan tak pernah mau menemui Fani lagi, tapi Fani tetap bersikeras menunggunya? Padahal jelas-jelas mereka tak pernah berpacaran. Cinta Fani pada Hannniel adalah cinta sepihak!" seru Evan dengan nada sedikit kesal.
Lein menepuk bahu adik laki-lakinya pelan. "Jangan lupa, setidaknya mereka pernah sangat dekat dan melewati empat tahun kebersamaan. Dalam tahun-tahun itu, pasti banyak kenangan manis yang mereka miliki. Dan lagi, kamu bukan Hanniel. Kamu tidak pernah tahu jalan pikirannya!" jawab kak Lein.
"Kenapa kakak terdengar seperti membela Hanniel?" seru Evan.
"Kakak gak membela siapa-siapa. Hanya saja tadi siang kakak membaca naskah novel yang ada di atas meja kerja kamu."
"Naskah novel milik Vivian?" tanya Evan dan Lein mengangguk.
"Jika kamu membaca sekilas, mungkin kamu akan menyimpulkan bahwa kisah itu tentang cinta sepihak si tokoh utama perempuan. Tapi, jika kamu membaca dengan seksama, kamu akan menyadari bahwa si tokoh utama laki-laki sepertinya memiliki perasaan yang sama hanya dia terlalu berhati-hati dalam mengekspresikan perasaan dan sikapnya!"
"Maksud kakak Hanniel juga menyukai Fani?" tanya Evan kaget.
Lein menganggukkan kepala.
Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan langsung berjalan ke arah ruang kerjanya dan kembali lagi sembari membawa sebuah naskah novel milik Vivian.
"Dari mana kakak bisa berpikir untuk menyimpulkan bahwa Hanniel juga menyukai Fani?" tanya Evan sembari menyodorkan naskah pada sang kakak.
Lein mengambilnya dan membuka setiap lembar pelan-pelan.
"Lihat ini! Disini menceritakan bahwa mereka setiap malam selalu mengobrol lewat sambungan telepon genggam sampai si tokoh utama perempuan tertidur. Lalu ini, tokoh utama laki-laki disini datang menepati janji untuk mengajari si tokoh utama perempuan di sekolah pagi-pagi meski datang terlambat. Dan di bagian belakang sini tertulis jelas bahwa si tokoh utama laki-laki kesal karena si tokoh utama perempuan tak datang ke perayaan ulang tahunnya padahal dia sudah mengundangnya lewat sambungan telepon dan juga kartu undangan!"
"Aku belum membaca naskah yang bagian belakang karena Vivian baru mengirimnya beberapa hari yang lalu. Tapi kak, sepertinya itu saja gak cukup untuk membuktikan bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Jika tidak, mana mungkin Hanniel akan bertunangan dengan Vivian!" sanggah Evan.
"Jika Hanniel tidak menyukai Fani, tidak mungkin setiap malam mereka akan mengobrol. Apa kamu akan melakukan hal semacam itu untuk orang yang gak kamu suka? Lalu, dia menepati janji datang kesekolah pagi-pagi. Itu tandanya dia berusaha menepati janjinya meski datang terlambat dan membuat Fani menunggunya!" terang Lein.
"Aku gak setuju dengan kedua hal itu. Bisa saja karena Hanniel menganggap Fani adalah teman baiknya!"
"Kalau boleh kakak memberi saran, lebih baik kamu mencari perempuan yang lain. Kakak takut jika kamu hanya akan menjadi pelengkap dalam kisah mereka!" ucap Lein lagi.
Evan termenung tak mengatakan apa pun, sampai telepon genggam Fani yang tergeletak di atas meja di hadapannya bergetar. Sebuah panggilan masuk dengan tulisan 'HAW' tertera di layar.
"HAW? Siapa itu? Padahal sudah jam sebelas malam. Apa kamu mengenalnya?" tanya Lein pada Evan.
Evan menggelengkan kepala karena tak tahu siapa yang menghubungi ponsel Fani nyaris tengah malam itu.
"Coba kamu angkat barangkali ada hal penting yang harus disampaikan!" seru Lein.
Evan mengangkat panggilan telepon itu, namun tak langsung berbicara. Dari ujung telepon sana terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama "Fani.."
Evan masih terdiam mengernyitkan keningnya sementara Lein tampak memperhatikan dengan seksama. Menurut Evan suara itu terdengar familiar.
'Hanniel?!' batin Evan.
"Ini bukan Fani, ini Evan!" sahut Evan dingin.
"E-evan? Kenapa ponsel Fani ada di kamu?" tanya Hanniel terdengar kaget.
"Gak perlu bertanya yang bukan urusan kamu, langsung ke pokoknya saja. Ini sudah jam sebelas malam, untuk apa kamu menghubungi Fani? Dia sudah tidur!" jawab Evan ketus.
"Aku hanya ingin bertanya apa Kania sedang bersama kalian? Karena dia menghilang begitu saja seusai acara dan kami sekeluarga tidak ada yang bisa menghubunginya!" tanya Hanniel lesu.
"Dia itu adik kamu kenapa kamu malah bertanya ke orang lain!" Evan mulai kesal.
Tak ada jawaban apa-apa, membuat Evan sedikit menyesal karena biar bagaimana pun Hanniel adalah seorang kakak yang sedang berusaha mencari adiknya.
"Berikan aku nomor telepon adikmu. Nanti aku akan menghubunginya! Oh iya, saranku untuk kedepannya, lebih baik kamu menjaga adikmu dengan baik! Jangan terlalu fokus pada pacarmu!" seru Evan pada akhirnya sembari memutus pembicaraan.
"Itu Hanniel?" tanya Lein tak percaya.
Evan mengangguk membenarkan pertanyaan itu.
"Kalau gitu aku pergi dulu kak. Aku harus mencari anak anjing yang sedang kabur! Mereka berdua ini benar-benar saudara sedarah, sama-sama merepotkan!" ucap Evan sembari beranjak pergi dari sana sesaat setelah mencatat nomor telepon Kania yang diberikan Hanniel.
"Hati-hati dijalan, jika terjadi sesuatu jangan lupa beritahu kakak ya!" seru Lein.
"Baiklah aku mengerti. Aku juga mau minta tolong titip jaga Fani!" jawab Evan dan Lein tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.