
Evan menghampiri Fani yang tengah sibuk berdiskusi dengan Riri dan Hansen.
"Fan.." seru Evan seraya mengetuk meja kerja Fani sebanyak tiga kali.
"Eh pak bos! Ada apa?" tanya Fani mengalihkan pandangannya pada Evan.
Sementara Riri dan Hansen tampak meninggalkan kedua orang itu untuk berbicara.
"Aku ingin tanya sesuatu.. Kamu sewaktu dulu dekat dengan Hanniel, apa kamu pernah bertemu dengan orang tuanya?" tanya Evan.
Mendengar kata 'Hanniel' sontak membuat Riri dan Hansen yang sudah berada di meja masing-masing menatap Fani berbarengan.
"Bertemu secara langsung belum pernah, hanya saja pernah satu kali kami berpapasan saat di sekolah. Memang kenapa?" tanya Fani bingung.
"Lalu bagaimana sifat mama papanya? Kamu pasti tahu kan?"
"Hmm.. Papanya gak begitu banyak omong, orang yang baik sementara mamanya..." Fani tak melanjutkan ucapannya.
"Mamanya kenapa?" Evan tak sabar.
"Aku sebenarnya hanya mendengar ini dari banyak temanku disekolah. Papa dan mamanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Mamanya cukup keras kepala, tegas dan super perfect!" terang Fani.
"Maksudmu super perfect?" Evan semakin bingung.
"Mamanya selalu ingin mendapat yang terbaik. Ngomong-ngomong kenapa kamu bertanya tentang keluarga Hanniel?" tanya Fani.
"Jawab dulu pertanyaan ku ini, nanti kuberitahu.. Hubungan mamanya dengan anak-anaknya bagaimana?" tanya Evan lagi.
"Hubungan mamanya dan Hanniel tak seburuk hubungan mamanya dengan Kania. Mungkin bisa dibilang Hanniel lebih disayang atau mungkin lebih penurut dibanding Kania."
"Aku dengar Kania sering kena tampar mamanya. Apa kamu tahu?" tanya Evan lagi, sementara Riri dan Hansen masih terus mengamati dan menguping pembicaraan keduanya.
Fani menganggukkan kepalanya. "Sudah beberapa kali memang seperti itu. Aku pikir mamanya kurang bisa mengontrol emosi dan kebetulan sifat Kania juga sama kerasnya. Tapi, kamu tahu darimana?"
"Aku pikir cepat atau lambat Kania akan mendapat masalah!" gumam Evan.
"Hah? Apa maksud kamu?" wajah Fani berubah panik.
"Kemarin malam aku melihatnya dengan seorang laki-laki yang katanya adalah pilihan mamanya sedang makan malam di restaurant tempat ku bertemu klien. Hanya, laki-laki yang namanya Jonas atau siapa lah itu gak sopan. Lalu, aku mengantar Kania pulang. Di jalan dia cerita tentang mamanya. Aku hanya tak menyangka jika ada seorang ibu yang gila kontrol seperti itu.." terang Evan.
"Terus, apa Kania baik-baik saja?" tanya Fani khawatir.
"Kemarin sewaktu ku antar pulang dia baik-baik saja. Hanya saja sepertinya hubungannya dengan sang mama akan terancam. Belum lagi, kemarin aku memelintir tangan si Jonas dan dia mengancam akan memberitahu orang tua Kania. Aku hanya merasa khawatir jika mamanya akan menamparnya lagi." ucap Evan.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Fani bingung.
"Coba kamu telepon Kania dan bertanya apa dia baik-baik saja!" pinta Evan.
Fani langsung mengikuti permintaan Evan. Gadis itu terlihat sibuk menghubungi Kania berulang kali namun nihil. Ponsel Kania tidak aktif.
"Bagaimana, bisa gak?" Evan tampak tak sabaran.
Fani menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu. Bukan hanya Evan yang merasa khawatir tetapi dirinya juga.
"Aku coba telepon Hanniel!" seru Fani.
Begitu dering pertama, Hanniel langsung menjawab telepon darinya. "Halo Fan, ada apa?" sahut Hanniel dari ujung telepon.
"Apa kamu sedang bersama Kania?" tanya Fani.
"Gak, dia hari ini gak masuk kerja. Dia di rumah. Coba telepon ponselnya saja!" saran Hanniel.
"Aku sudah mencoba, tapi ponselnya gak aktif.. Hmm kalau gitu, makasih ya.. Maaf mengganggu.." Fani langsung menutup pembicaraannya dengan Hanniel dan melapor pada Evan yang masih berdiri disampingnya.
"Kania dirumah, gak kerja bareng kakaknya.." ucap Fani.
"Hmm.. Kalau gitu kamu lanjutkan kerja, aku mau pergi keluar sebentar.." sahut Evan seraya langsung berbalik pergi.
Fani terus menatap punggung Evan yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Entah kenapa dirinya merasa bahwa Evan sedikit menunjukkan perhatiannya untuk Kania.
Evan menghentikan mobilnya disamping gerbang rumah Kania. Antara ragu dan khawatir terus berputar dalam hati dan pikirannya.
Haruskah ia masuk kedalam?
Hampir sepuluh menit berlalu, akhirnya Evan turun dari mobil dan berjalan menghampiri seorang satpam yang menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.
"Anda mencari siapa?" tanya satpam itu ramah.
"Saya Evan, teman Hanniel. Apa Kania ada dirumah?" tanya Evan terus terang.
Entah dirinya mimpi buruk apa semalam sampai harus mengaku bahwa Hanniel adalah temannya.
"Ada.. Tapi.." satpam itu tak melanjutkan ucapannya, raut wajahnya pun terlihat serba salah.
"Kenapa pak?" tanya Evan yang merasa curiga.
"Sebenarnya, tadi pagi selepas tuan Hanniel pergi, non Kania bertengkar dengan nyonya. Saya sempat mengintip lewat jendela depan, dan nyonya menampar pipi non Kania dua kali," terang pak satpam.
"Lalu, apa sekarang orang tuanya ada dirumah?" tanya Evan lagi.
"Tidak, tuan besar dan nyonya baru saja pergi. Sepertinya sedang mengecek lokasi rumah yang mau dibeli.." ucap satpam itu lagi.
"Kalau gitu, apa saya boleh masuk?"
"Hmm.. Saya harus bertanya pada non Kania dulu.." jawab pak satpam yang tak berani sembarangan mempersilahkan orang masuk kedalam rumah majikannya.
"Percuma, ponsel Kania gak aktif.." timpal Evan.
"Kalau gitu saya coba tanya tuan Han dulu.." ucap satpam itu lagi.
Evan tak bisa berkata-kata, biar pun dirinya kesal karena menunggu tapi itu bukanlah rumahnya. Dirinya hanya bisa sabar menunggu pak satpam selesai berbicara dengan Hanniel.
"Silahkan.."
Akhirnya satpam itu membuka pintu gerbang lebar-lebar dan mengetuk pintu rumah Kania yang terkunci dari dalam. Seorang wanita tampak membuka pintu dari dalam.
"Ini teman tuan Han, ingin bertemu dengan non Kania.." terang pak satpam pada wanita yang terlihat seperti pembantu dirumah itu.
"Nona sedang dikamarnya, dari pagi tadi belum keluar. Tunggu sebentar, nanti saya coba panggilkan." ucap bi Ijah.
"Gak perlu, saya ke kamarnya saja. Kamarnya dimana?" tanya Evan tak berbelit-belit.
Bi Ijah menunjuk sebuah pintu berwarna abu-abu gelap di sudut kanan rumah. Kamar itu jika dilihat dari luar tampak sejajar dengan gerbang rumahnya.
Evan langsung menghampiri pintu yang dimaksud dan mengetuknya pelan beberapa kali. "Ini aku.. Bisa buka pintunya?"
Tak butuh waktu lama, Kania langsung membuka pintu kamarnya. Evan langsung menyoroti wajah gadis itu yang tampak kuyu dengan pipi kanan yang memerah dan kedua matanya tampak sembap.
"Kamu? Kenapa datang kesini?" tanya Kania dengan suara parau. Wajah riangnya sama sekali tak terlihat.
Evan masih terdiam.
"Apa mencari kakak ku? Dia di kantor!" lanjut Kania.
"Bukan, aku memang mencarimu!" jawab Evan dengan wajah serius bercampur kesal.
"Apa aku boleh masuk kedalam?" tanya Evan sopan.
"Hmm masuk aja.." Kania membuka pintu kamarnya lebar-lebar, mempersilahkan Evan masuk ke kamar.
Evan nampak duduk di sebuah bangku kayu yang sengaja di tarik mendekat ke arah tempat tidur, tempat Kania duduk sekarang.
"Ponselmu kenapa gak aktif?" tanya Evan tanpa menyinggung mengenai pipi gadis itu.
Kania tertunduk. "Gak apa-apa.. Baterainya habis.." ucapnya lesu.