
"Pagi, kak!" sapa Kania sesaat setelah Hanniel duduk di sebelahnya.
Laki-laki itu membalas dengan membelai lembut kepala sang adik perempuan yang hari itu tersenyum manis padanya.
Kini, keluarga yang terdiri dari empat anggota sudah berkumpul melingkari meja makan. Beberapa masakan sudah hadir disana dan siap untuk disantap.
"Ini, cobalah!" seru sang mama pada Hanniel, memberikan beberapa potong udang goreng asam manis.
"Kalau mama ingin mengatakan sesuatu, katakan saja!" ucap Hanniel dingin. Dirinya bisa membaca gerak-gerik sang mama yang berbeda.
"Kamu ini, mama hanya ingin mengambilkan mu lauk!" sanggah sang mama.
"Kenapa? Mama ingin membicarakan masalah pernikahan bukan?" tanya Hanniel yang tak berbelit-belit.
Kania dan sang papa tampak terkejut mendengar penuturan Hanniel barusan.
"Pernikahan? Pernikahan siapa? Putra kita?" tanya sang papa pada istrinya.
Kania meletakkan sendok dan garpu diatas piring makannya yang masih penuh. Mendadak nafsu makan gadis itu menghilang.
"Baiklah, mama memang ingin membicarakan hal itu mumpung hari ini hari minggu, kita semua berkumpul. Vivian juga pasti sudah mengatakan pada mu ya tentang hal itu?" tanya sang mama.
"Hmm.. Dia sudah memberitahuku dan aku langsung menolaknya!" ucap Hanniel tegas.
"Loh kenapa?!" Mama Hanniel tampak sedikit kesal.
"Ma, ini hidup aku. Tidak bisakah aku menentukkan hidupku sendiri? Apa semua keputusan harus berdasar keinginan mama dan papa?" ucap Hanniel mengutarakan isi hatinya.
"Kamu.. Kenapa jadi begini? Kamu harusnya tahu apa yang mama lakukan ini adalah demi kebaikan kamu kedepannya!" seru sang mama yang masih terus ngotot.
"Demi kebaikan ku atau kebaikan mama?" Hanniel balik bertanya dengan nada bicara yang dingin.
"Sudah-sudah.. Kita ini sedang sarapan! Bicarakan nanti setelah sarapan. Oke??" seru sang papa yang menyela perdebatan istri dan anak laki-lakinya.
"Pokoknya keputusan tentang pernikahan ada ditanganku! Jika mama masih memaksa, sekarang juga aku akan pergi kerumah orang tua Vivian untuk membatalkan pertunangan kemarin!" seru Hanniel tegas.
Baru sang istri akan berbicara, papa Hanniel menarik tangan wanita itu memberi kode agar tak berbicara apa-apa lagi, melihat bahwa Hanniel sudah terlihat marah.
"Aku setuju dengan kakak! Mama terlalu mengatur hidup kita! Mama selalu bilang ini dan itu demi kebaikan kita. Kakak yang selalu menuruti keinginan mama bahkan dipaksa menemui seorang psikiater. Apa mama lupa? Psikiater itu adalah kak Vivian. Lucu sekali!" sindir Kania yang juga terlihat geram.
Gadis itu memang sudah terbiasa bertengkar dengan sang mama karena dirinya sendiri, tapi kali ini demi membela sang kakak.
"Diam kamu! Ini gak ada urusannya sama kamu!" hardik sang mama setengah berteriak pada putrinya.
"Kenapa? Mama gak suka mendengarnya? Itu kenyataan, ma! Mama membuat kakak selalu harus menuruti keinginan mama, tapi apa mama pernah bertanya satu kali saja apa yang sebenarnya kakak inginkan? Apa pernah????!!!" Kania berteriak keras seraya bangkit berdiri.
"Aku, sebagai adiknya, orang yang dekat dengan kakak saja hampir lupa kapan terakhir kali melihat wajah kakak tersenyum! Apa mama pernah memikirkannya? Mama terlalu egois! Mama terlalu sibuk memikirkan keinginan mama yang mana yang masih belum tercapai!" ucap Kania lagi.
Sang mama dengan wajah merah padam mengangkat tangan kanannya hendak menampar putrinya namun Hanniel langsung menyergahnya.
"Kenapa? Mama ingin menampar Kania seperti waktu itu? Aku tidak akan membiarkannya! Jika mama berani melakukan hal kekerasan fisik seperti itu, maka aku juga tidak akan tinggal diam!" ancam Hanniel yang langsung menarik tangan sang adik pergi dari sana.
"Lihat.. Lihat.. Hanniel yang biasanya sabar pun kini emosi. Kamu harus mulai instrospeksi diri.. Jangan terlalu keras kepala.." tegur sang suami.
"Mama hanya kesal, pa!" sahut sang istri.
"Ya sudah.. Sudah.." timpal sang suami.
**
Sejak bangun pagi hari, Fani tampak sibuk membersihkan seisi rumah, sedang sang mama tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Hari minggu memang kebanyakan orang memilih untuk beristirahat, tapi dirinya lebih memilih untuk menyibukkan diri. Bukan tanpa sebab, semua dilakukannya agar bisa melupakan Hanniel.
Tapi, ternyata takdir berkata hal sebaliknya.
"Hanniel?" seru Fani tak percaya melihat Hanniel berada di hadapannya, tepatnya di depan pintu rumahnya.
Dari belakang laki-laki itu, Kania muncul sambil tersenyum. Tak ada rasa sedih ataupun amarah seperti sebelumnya.
"Halo, kak Fan!" sapa Kania pada Fani dengan riang.
"Kania?" seru Fani.
Untuk beberapa saat dirinya tertegun.
"Kak, harum sekali! Apa tante sedang memasak?" tanya Kania tanpa basa-basi.
"Hmm.. Masuklah!" ucap Fani mempersilahkan kedua tamu itu masuk kedalam rumahnya.
"Sayang, siapa yang datang?" tanya sang mama yang berjalan keluar dapur dan wanita itu terdiam saat melihat Hanniel berjalan menghampirinya.
"Tante!" sapa Hanniel mencoba tersenyum kecil.
Mendengar itu, mama Fani langsung menatap putrinya seolah tak percaya.
"Ha-hanniel??" tanya mama Fani tak percaya.
"Benar, tante! Ini kakak ku, Hanniel! Laki-laki yang sudah membuat anak tante menangis!" seru Kania spontan membuat Fani salah tingkah, terlebih saat Hanniel menatap dirinya.
"Saya dulu pernah datang kesini, tante! Mengantar Fani.." ucap Hanniel.
Mama Fani mengangguk beberap kali. "Tante ingat!" sahut wanita paruh baya itu.
Fani dan sang mama tampak kikuk menghadapi Hanniel, laki-laki yang menjadi pokok bahasan semalam. Laki-laki yang membuat sang putri sering menangis belakangan ini.
"Hmm.. Apa kalian berdua sudah sarapan?" tanya mama Fani.
"Su.." Hanniel tak melanjutkan kalimatnya karena Kania dengan cepat menjawab pertanyaan itu.
"Belum, tante. Aku lapar!" ucap Kania.
"Kalau gitu sebentar ya.." timpal mama Fani.
"Tante, aku ikut bantu di dapur ya.. Aku gak mau jadi obat nyamuk!" seru Kania yang langsung berlari kecil mengikuti mama Fani ke arah dapur.
Hanniel dan Fani masih tetap berdiri mematung di tempat yang sama. Fani terlihat canggung dengan penampilan yang sangat lusuh dan berkeringat.
"A-aku mau mandi dulu!" ucap Fani tiba-tiba. "Hmm kamu duduk disini aja dulu nonton tv.." lanjutnya.
Hanniel menuruti ucapan Fani dan duduk di sofa sembari menyalakan televisi. Sementara di dapur Kania terlihat tak bisa menyembunyikan senyumnya didepan mama Fani.
"Kenapa kakak mu bisa ikut datang kesini?" tanya mama Fani setengah berbisik sembari berdiri disebelah Kania, ikut menatap ke arah Hanniel.
Raut wajah Kania berubah serius. Gadis itu menatap sepasang mata mama Fani dengan sedikit rasa bersalah.
"Apa tante keberatan? Maksud ku, setelah banyak hal terjadi di antara kak Fani dan kakak ku, apa tante membenci kakak ku?" tanya Kania.
"Jelas tidak! Tante hanya kaget. Sama sekali tak menyangka kakak mu akan datang kesini. Dan lagi, tante tidak punya alasan apa pun untuk membencinya!" jawab mama Fani seraya mengelus pelan kepala Kania.
"Tapi, bukankah kakak ku sudah menyakiti kak Fani?" tanya Kania lagi.
"Kalau itu biar menjadi urusan mereka, tante gak mau ikut campur. Tante sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya!"
"Sebenarnya, kami kesini karena tadi kakak bertengkar dengan mama. Mereka meributkan masalah pernikahan. Kakak yang biasa hanya diam dan menuruti setiap permintaan mama, kali ini kakak terang-terangan menolak dan itu membuat mama marah besar!" terang Kania membuat mama Fani tertegun.