I'll Never Forget You

I'll Never Forget You
Hati yang sesak



Dari kejauhan, Hanniel sesekali melihat ke arah Kania meskipun dirinya sedang sibuk mengobrol dengan beberapa orang.


"Bagaimana pak? Apa kita rotasi saja gerai-gerai yang ada dan memutus gerai yang penjualannya tidak optimal?" tanya seorang pria berambut putih pada Hanniel.


"Jangan dulu, kita lihat perkembangan untuk satu bulan kedepan. Kalau masih tetap sama baru lakukan tindakan seperti tadi!" ucap Hanniel sembari menyudahi obrolannya dan bergegas mendekati Kania yang tengah melamun.


Hanniel menyenggol pelan adiknya, membuat gadis cantik itu terkejut. "Kakak? Sejak kapan berdiri disini?" tanyanya bingung.


"Lihat es krim mu sudah meleleh!" sahut Hanniel.


Kania langsung melahap habis es krim miliknya dengan cepat. Hanniel yang berdiri disamping gadis itu bergegas mengeluarkan saputangannya dari saku jas.


"Kamu ini sudah seumur gini kalau makan es krim tetap saja belepotan!" seru Hanniel sambil mengelap pelan sudut bibir sang adik.


Kania memegang pergelangan tangan sang kakak yang sedang mengusap sudut bibirnya. Dengan tatapan sendu gadis itu memanggil kakaknya.


"Kak.." serunya pelan.


"Ini masih di tempat kerja, jadi lebih baik membicarakan masalah pekerjaan!" ucap Hanniel bahkan sebelum Kania mengutarakan apa yang akan diutarakannya.


Kania memilih diam, namun dadanya terasa sesak.


**


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu dimana Fani, Hansen dan Riri sudah bersiap membereskan barang-barangnya untuk kemudian pulang. Namun saat ketiga orang itu baru akan meninggalkan ruangan, Andre terburu-buru menghampiri ketiganya.


"Beruntung kalian berdua masih disini!" serunya pada Hansen dan Riri.


"Ada apa?" tanya Hansen.


"Kalian berdua cepatlah menemui pak bos!" ucap Andre.


"Hanya kami berdua? Fani gak dipanggil juga?" tanya Riri bingung.


Andre langsung menggelengkan kepala. "Cepatlah! Tapi tolong hati-hati, mood bos sedang buruk sejak pagi tadi. Tim sebelah saja kena marah sampai satu orang menangis!" bisik Andre pelan.


"Kalian berdua cepat kesana. Aku pulang duluan kalau gitu!" seru Fani yang bergegas pergi dari sana di ikuti Andre yang mengekor di belakangnya.


Hansen dan Riri tampak takut-takut. Bahkan jari Hansen nampak gemetar saat memencet tombol lift.


"Ri, kira-kira kita ini punya salah apa ya?" seru Hansen lirih.


"Gak tahu!" jawab Riri singkat.


Kedua orang itu sudah berada didepan pintu ruang kerja sang direktur. Dengan tangan yang masih bergetar, Hansen mengetuk pelan.


Dari dalam, Evan langsung menyahut. "Masuklah!"


"A-ada apa pak bos mencari kami?" tanya Hansen.


"Kalian berdua kemarilah! Duduk disini!"


Hansen dan Riri kini duduk di kursi tepat didepan meja kerja Evan.


"Kalian berdua sama-sama seorang editor dan sudah bekerja disini cukup lama. Benar tidak?" tanya Evan.


Kedua orang itu mengangguk.


"Sudah pasti banyak juga novel-novel yang kalian baca selama proses editing. Nah, ada yang ingin ku tanyakan.." Evan menghela nafas dalam. Memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan cerita yang rumit seperti itu.


"Apa kalian pernah membaca novel dimana si tokoh utama adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang editor dimana dia memiliki kisah cinta di masa lalu. Lalu ada seorang penulis yang menawarkan untuk membantunya mem'buku'kan kisah cintanya itu. Namun, pada akhirnya timbul masalah, dimana si penulis memiliki seorang tunangan yang ternyata tunangannya itu adalah tokoh utama laki-laki dalam cerita masa lalu sang editor."


Hansen mengernyitkan dahinya bingung mendengar alur cerita seperti itu, namun Riri berbeda. Gadis itu seolah menangkap jalan cerita yang baru saja di ucapkan Evan.


"Belum pernah. Tapi, apa cerita itu tentang Fani?" tanya Riri tanpa basa-basi.


Evan menelan ludahnya dan mengangguk.


"Aku sudah memikirkan masalah ini seharian. Dan aku pikir aku perlu bertukar pikiran dengan kalian berdua. Karena kita bertiga adalah orang yang dekat dengannya!" ucap Evan.


"Tunggu! Laki-laki yang disukai Fani sudah memiliki tunangan????!!!" pekik Hansen tak percaya.


"Lebih tepatnya calon tunangan. Vivian dan Hanniel baru akan bertunangan minggu depan!" seru Evan.


"Oh, jadi namanya Hanniel!" gumam Riri.


"Astaga bagaimana bisa terjadi hal seperti ini. Pak bos, apa Fani sudah tahu?" tanya Hansen.


"Kalau dia sudah tahu mana mungkin aku memanggil kalian berdua untuk berunding!"


"Jadi pak bos ingin kami bagaimana?" tanya Riri serius.


"Bantu aku pikirkan cara agar Fani tak datang ke acara pertunangan Vivian dan Hanniel!"


"Sepertinya akan sangat sulit! Vivian adalah penulis favoritnya," timpal Hansen.


"Aku tahu. Justru karena itu aku ingin kalian membantu memberi ide!" seru Evan.


"Bagaimana kalau pas tanggal pertunangan itu kita adakan acara di luar? Misal seperti kegiatan menginap di suatu tempat gitu," usul Riri.


"Dengan alasan?" tanya Evan.


"Hmm dengan alasan untuk menghilangkan penat karena masing-masing editor memiliki pekerjaan yang melimpah! Bagaimana?" terang Riri.


"Apa tidak aneh? Sebelum-sebelumnya perusahaan kita sama sekali tidak pernah membuat acara seperti itu!" Hansen tampak ragu.


"Apa ada usul lain? Kalau tidak ada kita coba pakai usul Riri. Tapi kalau mendadak kalian memiliki usul lain, tolong beritahu aku!" ucap Evan.


"Baiklah," sahut Hansen dan Riri berbarengan.


Keduanya baru akan meninggalkan ruangan itu, Evan sudah memanggilnya.


"Kalian tolong jangan bilang apa-apa ke Fani! Kalau sampai Fani tahu, siap-siap gaji bulan ini dipotong separuhnya!" ancam Evan membuat kedua bawahannya bergidik ngeri.


**


"Kak!" panggil Kania sesaat setelah Hanniel melajukan mobilnya di jalan raya.


"Kenapa?" tanya Hanniel.


"Apa sekarang aku sudah boleh berbicara?" tanya Kania dengan nada kesal.


"Kalau mau membahas masalah yang tadi malam kakak malas!" timpal Hanniel.


"Sekarang sudah bukan di tempat kerja! Iya aku memang ingin membicarakan tentang hal itu! Kenapa kakak gak nolak??" tanya Kania dingin.


"Itu bukan urusanmu!" balas Hanniel.


"Itu memang bukan urusanku. Bukan tentang hidup aku juga. Tapi kakak adalah kakak aku! Kalau kakak bahagia aku juga bahagia. Kalau kakak terluka aku jauh lebih terluka!" ucap Kania setengah berteriak.


Hanniel tak menanggapi Kania dan lebih memilih fokus menyetir, membuat Kania semakin kesal karena ucapannya tak ditanggapi.


"Nanti saat Vivian datang kerumah, jangan bicara yang macam-macam!" tegur Hanniel.


"Kenapa kakak lebih peduli dengan perasaannya? Bukannya dengan orang yang kakak suka?" tanya Kania.


Lagi, Hanniel diam tak menanggapi ucapan sang adik.


Sampai saat mobil sudah terparkir di garasi, Kania langsung masuk kedalam rumah dengan langkah seribu. Gadis itu bahkan menabrak bahu sang mama yang berniat menyapanya.


"Dia kenapa? Apa kalian bertengkar?" tanya sang mama pada Hanniel.


"Bukan apa-apa!" Hanniel langsung berlalu pergi ke kamarnya tanpa melirik sedikit pun ke arah meja makan. Dimana di sana sudah tersedia berbagai macam hidangan untuk menjamu Vivian beserta kedua orang tuanya yang akan datang sore itu.