
"Ayo, cepat Willy. Kita akan terlambat"
Pagi harinya, sekitar pukul 8 pagi. Nora mengajak Willy pergi mengunjungi kakek dan neneknya di daerah pusat kota.
"Kenapa bukan kakek yang datang kemari? Menyusahkan saja" William memang tidak begitu suka datang ke rumah kakek dan neneknya. Mungkin karena mereka tidak pernah mempedulikannya sebelum berumur tiga tahun.
"Ayo"
Akhirnya mereka melakukan perjalanan selama tiga puluh menit ke kawasan perumahan mewah. Tapi, sepertinya ada tamu di rumah. Ayah tidak mungkin membeli mobil semahal ini.
"Kami datang ... kakek, nenek" sapaku lalu ayah keluar dari ruang tamu dan memeluk William dengan senangnya.
"Kakek ... lepas!" William bukan anak bayi lagi. Dia tidak suka dipeluk seperti itu.
"Kenapa baru datang sekarang? Kakek baru saja makan pagi. Apa Willy ingin sesuatu untuk dimakan?" tanya ayahku tanpa jeda, membuat William semakin bingung.
"Ayah" panggilan ibu menggagalkan rencana ayah bermain dengan cucunya. Ibu hanya melihat William dari jauh sebelum masuk kembali ke ruang tamu bersama ayah.
"Willy!!! senang sekali bibi Lizzy bisa bertemu denganmu. Bibi memasak banyak sekali kue cokelat dan pai apel. Apa kau mau?" Tentu saja William senang dengan penawaran Lizzy, dia dengan senang datang ke dapur.
"Siapa yang datang?" tanyaku pada Lizzy yang masih bersemangat memberi William makan.
"Keluarga Hamilton" bisik Lizzy. Keluarga Hamilton? Keluarga yang super kaya itu? pemilik perusahaan tempat aku bekerja.
"Ada apa?"
"Cari jodoh untuk anaknya"
Cari jodoh? Kak Lisa sudah menikah sejak William berumur 2 tahun. Cindy juga sudah menikah satu tahun lalu. Siapa yang akan ditawarkan ayah pada keluarga Hamilton?
"Siapa?"
"Keponakan Nyonya yang berumur dua puluh tiga tahun. Lulusan Harvard dan sekarang bekerja di Italia sebagai arsitek"
"Hilda?" tanyaku. Hilda adalah sepupuku yang berumur sama dengan Cindy. Otaknya memang encer tapi penampilannya agak kurang menarik daripada Cindy.
"Iya. Katanya sudah operasi plastik hanya untuk acara perjodohan ini"
Wah ... wah ... wah, ternyata keluarga ibu cukup serius menanggapi masalah perjodohan ini sampai membuat Hilda mengoperasi wajahnya.
"Ibu, aku ingin main di halaman"
"Baiklah. Jangan terlalu senang, nanti mengganggu tamu kakek"
Setelah beberapa lama, aku menyusul ke halaman belakang untuk menemani William bermain. Sepak bola merupakan olahraga kesukaan William setelah basket.
Ternyata, kami bermain cukup berisik dan membuat tamu ayah dan ibu pergi ke halaman belakang untuk melihat kami.
"Oh, maaf. Apakah kami mengganggu"
Baru kali ini aku melihat seorang wanita terhormat yang sangat menjaga tingkah laku dan ekspresinya. Benar-benar wanita kaya yang anggun. Seperti inilah, Nyonya Besar keluarga Hamilton.
"Tidak, aku sangat senang mendengar suara anak kecil yang bermain. Apakah kau anak kedua keluarga Hardy?" Tutur kata sopan dan sangat bersahaja. Aku tidak akan sanggup bersikap seperti Nyonya besar ini.
"Iya. Saya Nora dan ini William Hardy" jawabku lalu mendekat ke arah Nyonya besar itu.
Matanya berkaca-kaca ketika melihat William. Aku tidak tahu kenapa.
"Aku sangat menginginkan cucu yang bermain di halaman belakang seperti ini. Rumah kami terlalu besar tapi tidak ada yang membuatnya ramai. Aku sampai rela anakku memiliki bayi yang lahir di luar nikah seperti anak ini"
"Saya pikir, Anda tidak berhak mengatakan semua itu" Demi anakku, aku akan melawan semua orang. Termasuk Nyonya Besar dari keluarga Hamilton ini.
"Berani sekali. Seorang anak yang sudah mempermalukan keluarganya berbicara seperti itu padaku" katanya sombong.
"Willy, ambil mantelmu. Kita pulang" kataku pada William dan dia melakukan perintahku dengan masuk ke dalam rumah.
"Ternyata, seorang Nyonya Besar keluarga Hamilton hanyalah wanita tua yang pintar menghina orang lain. Semoga Anda mendapatkan menantu yang baik"
Dengan menghentakkan kaki, aku meninggalkan Nyonya Hamilton di halaman belakang. Sungguh sial bertemu dengannya pagi ini.
"Kenapa kalian pulang? Kakek belum bermain dengan Willy" tanya ayah yang baru saja keluar dari ruang tamu dengan ibu.
"Kami harus pergi ke suatu tempat. Maaf Ayah. Willy sapa kakek dan nenek sebelum pulang!"
Aku dan William segera pergi meninggalkan rumah keluargaku. Kami bahkan tidak sempat pamit kepada Lizzy karena terlalu kesal. Bagaimana bisa wanita tua itu mengatakan hal buruk di depan William. Sial. Kalau saja aku tidak bekerja di perusahaannya, sudah kucakar mulutnya.
Sesampainya di apartemen, aku mengajak William memasak makan siang. Ternyata, hari libur kami lebih baik daripada harus berada di rumah.
"Ibu"
"Hemm"
"Tidak" William pergi ke kamarnya, membuat hatiku terasa sakit. Hanya karena seorang wanita tua yang tidak tahu apa-apa, anakku menjadi murung. Rasanya ingin sekali kurobek mulut orang itu. Lebih baik aku mencari sesuatu untuk menenangkan William.
Disaat Nora sedang sibuk di dapur, William mengendap-ngendap keluar apartemen dan pergi ke sebuah taman yang ada di lingkungan mereka. Dia berdiam diro disana dan memikirkan ucapan wanita tua yang ada di rumah kakeknya.
Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli dengan perkataannya, tapi melihat ibunya marah membuatnya sangat sedih.
"Kenapa?" tanya Jacob, sahabat William yang dipanggilnya.
"Tidak apa-apa. Ayo main"
Aku pergi ke kamar William dengan membawa cokelat mahal pemberian perusahaan. Tapi yang kulihat di kamar, hanyalah sebuah surat yang mengatakan lalau William pergi dengan Jacob untuk bermain.
Ponselku berdering dan aku melihat gambar ayah di layar.
"Ada apa ayah?" tanyaku kesal.
"Aku tahu kalau Nyonya Hamilton menyebalkan, tapi dia mengundang kita semua saat makan malam besok. Semua ini demi Hilda, bisakah kau ikut dengan William?"
Sekarang demi Hilda? Kapan ayah dan ibu mulai membelaku kalau begini terus.
"Aku dan William tidak bisa, sebaiknya ayah, ibu, kak Lisa dan Cindy saja yang pergi kesana" jawabku.
"Kau tidak perlu marah dengan perkataan Nyonya Hamilton, lagi pula anggaplah ini sebagai pembayaran apaprtemenmu" Setiap kali ayah dan ibu menginginkan sesuatu, mereka selalu mengungkit tentang apartemen ini. Padahal aku tidak pernah memintanya.
"Kau itu memang anak tidak tahu terima kasih. Kami sudah melakukan banyak hal untukmu dan William, bahkan memberikan nama belakang Hardy saat seharusnya tidak" tambah ibu yang tiba-tiba menyela. Kelihatan sekali kalau keluarga ibu memang ingin keluar dari ketidak pastian karena usaha mereka di ambang kebangkrutan.
Aku hanya bisa diam dan menerima semua perkataan ibu. Memang hanya akulah anak yang yang tidak bisa membangakan orang tua. Ketika kak Lisa dan Cindy menjadi menantu dari keluarga kaya, hanya akulah yang memiliki anak di luar nikah. Terpaksa aku menahan semua ejekan dari ibu karena memang kami terbantu dengan adanya apartemen ini.
"Aku akan melakukan yang ibu minta. Tapi, memperoleh pekerjaan lagi sangatlah sulit untukku. Berikan aku waktu satu bulan" kataku lemah.
"Ibu ingin Hilda menjadi menantu keluarga Hamilton. Jangan sampai semuanya gagal karena kau"
Setelah mengatakan semua itu, ibunya menutup telepon dan meninggalkan aku dalam kebingungan.