
Demikianlah kehidupanku sampai aku berumur 20 tahun. Saat kak Lisa bisa dengan mudah berkuliah, aku harus berjuang keras membayar sendiri semua pengeluaran untuk kuliah di luar kota. Tapi, aku melakukan semuanya dengan senang hati. Karena aku merasa sangat senang terlepas dari rumah yang tidak menyenangkan itu.
Tapi, kemalangan kembali menghampiriku saat seorang laki-laki dengan gaya cueknya mulai mendekatiku pada masa akhir kuliahku. Kupikir, dia mencintaiku dengan tulus sehingga aku memberikan segala milikku. Termasuk kesucianku.
Reynold Quentin adalah anak dari Direktur Universitas tempat aku berkuliah. Tentu saja, hubungan kami berjalan sangat baik pada awalnya. Tapi, sifat aslinya mulai muncul saat aku mengatakan padanya bahwa ada bayi kami yang tumbuh di rahimku.
Dia tidak pernah menemuiku lagi dan aku harus tertatih-tatih bekerja paruh waktu dan kuliah di waktu yang sama. Untunglah semuanya berjalan lancar beriringan dan aku lulus dengan nilai baik tanpa ada yang tahu bahwa di dalam perutku ada janin yang berkembang.
Tapi, sangat sulit mencari pekerjaan apalagi keadaanku saat ini sedang hamil. Lama kelamaan, ukuran perut yang semakin membesar tidak dapat disembunyikan lagi. Aku berhenti dari semua pekerjaan paruh waktu dan berdiam diri di rumah. Menyesali semua yang terjadi.
Besoknya tanpa pemberitahuan, Reynold datang dan memperlakukanku dengan baik lagi. Dia bahkan berjanji menikahiku kalau aku bisa membawanya pulang ke rumah.
Kedatangan kami tidak disambut dengan baik oleh ayah dan ibu. Kak Lisa dan Cindy sama sekali tidak terlihat saat itu. Kedua orang tuaku sangat menentang aku menikah dengan Reynold dan kami pulang ke kamar sewa tanpa hasil.
"Aku tidak tahu lagi. Kalau kamu ingin aku menikahimu, mintalah rumah, mobil dan uang dari orang tuamu. Kalau tidak, jangan harap aku mau menikah denganmu!" teriak Reynold saat kami sudah ada di dalam kamar sewa. Aku terpaku melihat pria yang kukira mencintaiku itu pergi begitu saja.
Bagaimana ini? Aku tidak mungkin melahirkan anak ini sendiri tanpa ada Reynold. Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membesarkan seorang bayi.
Seminggu kemudian, aku melihat berita yang sangat mengejutkan. Ayah Reynold terlibat penggelapan dana uang Universitas sebesar 10 milyar rupiah dan terancam kurungan penjara. Apakah ini sebabnya Reynold meminta uang dan rumah pada orang tuaku? Jadi selama ini dia menipuku?
Tapi, apa yang harus kulakukan? Aku sudah hamil dan mau tidak mau harus menikah dengan Reynold. Aku harus pergi ke rumah dan membujuk ayah sekali lagi.
"Apa katamu?" teriak Ayah padaku.
"Seorang bayi? Apa kamu sudah gila?"
Aku tahu kalau ayah dan ibu tidak begitu menyayangiku dari kecil. Tapi, bagaimana bisa mereka marah seperti ini padaku.
"Kami tidak akan memberikan apapun termasuk restu pada anak durhaka sepertimu. Bagaimana bisa kamu meminta ayah dan ibu memberikan rumah dan uang untuk modal pernikahan?"
"Ibu pikir Nora perempuan yang pintar. Ternyata kamu bisa jatuh ke perangkap laki-laki bejat seperti dia. Apa kamu tahu? Keluarganya bangkrut dan melakukan semua ini demi uang?"
Aku tahu, aku tahu ... tapi mau bagaimana lagi?
"Nora tidak pernah meminta apapun pada ayah dan ibu. Baju, kamar dan semua barangku hampir sama dengan anak pembantu. Kalian hanya mempedulikan kak Lisa dan Cindy-pun, Nora tidak pernah protes. Kenapa sekarang menghinaku seperti ini??"
Entah karena hormon kehamilan atau otakku sudah terlalu penuh, semuanya keluar dari mulutku. Air mata juga mulai menetes di pipiku dan mengalir semakin deras.
"Aku hamil. Kalau tidak membawa uang, Reynold tidak akan menikahiku"
Aku tahu kalau yang kulakukan ini salah, tapi tidak ada jalan lain. Dengan gaji pekerjaan paruh waktu dan kehamilanku yang menginjak lima bulan, aku tidak punya uang yang cukup untuk tuntutan Reynold.
"Dengar. Ayah tidak akan pernah memberikan permintaan Reynold. Kalau dia ingin uang, itu berarti Reynold tidak benar-benar menyukaimu. Dia hanya mengincar uangmu. Pergi dari rumah ini!! Ayah tidak punya anak sepertimu!!" teriak ayah lagi lalu pergi ke arah tangga dan menutup pintu kamar dengan keras.
Dengan air mata menggenang, aku bisa melihat kak Lisa dan Cindy yang melihatku dari balik pintu. Pasti mereka senang karena akhirnya hidupku hancur.
"Ibu tidak bisa membantu tanpa ijin ayahmu. Cobalah kembali ke Reynold dan bicarakan semua ini. Pasti akan ada jalan keluar yang bisa dilakukan nanti" kata ibu lalu mengikuti jejak ayah ke kamar.
Aku tahu, aku tahu kalau akhirnya seperti ini. Percuma saja aku meminta bantuan dari ayah dan ibu yang sama sekali tidak peduli dengan kehidupanku. Lebih baik aku pulang ke kamar sewaku lalu menyiapkan diri untuk keputusan Reynold.
Aku berjalan dengan berat ke arah halte bis yang ada agak jauh dari rumah besar keluargaku. Mereka sungguh kejam pada anaknya sendiri.
"Tunggu, Miss Nora"
Aku menoleh dan melihat Lizzy yang berlari tergesa ke arahku. Dia membawa sebuah tas besar lalu menyerahkannya begitu saja padaku.
"Apa ini?"
"Bawa ini. Miss Nora jangan pulang dulu sekarang. Saya doakan Miss sehat" kata Lizzy lalu berbalik pergi lagi ke arah rumah.
Walaupun penasaran dengan isi tas ransel yang ada di tanganku sekarang, aku tidak akan membukanya dulu.
Setelah melakukan perjalanan selama satu jam, aku sampai di kamar sewa dan ternyata, tidak ada Reynold di dalamnya. Dia pasti kuliah atau ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya yang shock berat karena kasus penggelapan dana itu.
Aku duduk di kasur dan membuka tas ransel pemberian mbok Karti. Sekitar sepuluh ikat uang dengan jumlah dua puluh juta ada disana. Aku sangat terkejut.
Sebuah kertas putih kutemukan di dasar ransel. Aku membacanya dan kemudian menangis keras.
Miss Nora
Lizzy tahu betapa beratnya hidup Miss Nora selama ini. Meskipun menyayangkan semua yang terjadi. Kenyataan tidak akan bisa diputar kembali.
Uang ini hanya sedikit, tapi Miss Nora bisa menggunakannya untuk sewa rumah dan biaya persalinan di rumah sakit. Miss Nora harus kuat dan tidak menyerah dengan hidup.
Lizzy akan menunggu Miss Nora kembali tersenyum lagi.
Aku menangis dan berteriak keras, menumpahkan semua air mata dan kekesalan dalam hati. Menyesali semua yang terjadi setahun kebelakang dalam hidupku. Bodoh ... aku memang bodoh.
Bagaimana bisa aku melakukan semua ini? Seharusnya ... seharusnya ...
Aku melihat uang itu lagi dan teringat betapa tergesa-gesa Lizzy tadi menyusul. Uang ini pasti semua tabungannya. Bagaimana bisa dia memberikannya padaku begitu saja? Terima kasih Lizzy ... terima kasih.