
"Ibuuu" William keluar dari sekolah dan memelukku dengan erat. Dia tidak malu seperti sebelumnya lagi.
"Kita sudah resmi pindah" kataku, membuatnya senang dan meloncat girang.
Aku menunjukkan rumah yang telah tertata. Walaupun kini tampak sangat sederhana, aku senang tidak perlu khawatir mendengar hinaan tentang William lagi.
"Apa ibu juga dapat pekerjaan?"
"Benar, ibu juga dapat pekerjaan. Hanya satu shift di pagi hari. Sebelum Willy pulang, ibu sudah ada di rumah dan memasak makanan kesukaanmu"
William merasa senang dengan itu dan bergegas melihat kamarnya. Untunglah, Willy sangat senang dengan perubahan ini. Malam ini, aku sudah berjanji untuk mengembalikan kunci rumah kepada ayah, tapi dibatalkan begitu saja oleh ibu. Katanya hari ini adalah saat penting.
Tuan Muda Hamilton sendiri yang mengubah jadwal bertemu dengan Hilda dan itu membuat ibu sangat bangga terhadap keponakannya. Tidak pada anaknya.
Tapi, setidaknya aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan William.
"Ayo kita makan siang diluar" kataku dan William mengangguk setuju.
Di Kediaman Hamilton Malam Hari
"Ibu sudah menyiapkan restoran dan bunga untuk diberikan pada Hilda Hardy. Kau tidak boleh menggagalkan yang ini, hubungan pertemanan ibu yang jadi taruhannya"
Daniel tidak percaya kalau ibunya sekarang memakai ucapan itu sebagai cara untuk menahan Daniel di acara perjodohan. Tapi, sebentat lagi, ibunya akan tahu kalau perempuan ini tidak akan pernah menjadi pasanganku
Supir keluarga Hamilton membawa Daniel ke sebuah restoran dan mengantarnya ke kursi paling private. Disana ada seorang perempuan dengan rambut bergelombang panjang, warna mata hijau dan wajah yang cantik. Sayangnya, semua itu dia dapat dari operasi kecantikan yang mahal.
"Apa kabar, Tuan Hamilton?" sapa Hilda dengan suara sengaunya. Menjijikkan.
"Baik"
Daniel masih mencari cara bagaimana dia bisa mengorek informasi dari perempuan di depannya tentang Nora Hardy.
"Saya Hilda Hardy, apa kabar?"
Rambut dan matanya benar-benar mirip dengan perempuan itu.
"Baik" jawab Daniel singkat.
"Apa selain Nona Hilda, ada keluarga Hardy yang belum menikah?" Daniel tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Tidak ada. Selain saya, tidak ada yang belum menikah. Semuanya sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya masing-masing" jawab Hilda membuat Daniel kecewa. Jadi Nora Hardy bukanlah perempuan yang dia cari. Mereka berdua hanya memiliki mobil yang sama. Jadi, tidak ada artinya melanjutkan acara perjodohan ini.
"Anda mau kemana?" tanya Hilda saat Daniel berdiri dari kursinya.
"Ada pekerjaan yang harus kuurus" kata Daniel.
"Bisakah saya ikut?"
Daniel terkejut mendengar pertanyaan yang begitu berani seperti itu dari mulut seorang perempuan yang tidak dikenalnya.
"Kau pikir kau siapa?" kata Daniel kasar
"Aku adalah calon istrimu. Bagaimanapun aku yang akan menjadi calon istrimu. Ibimu sudah menjanjikan hal itu pada bibiku"
Berjanji menjadikan perempuan ini calon istri anaknya sendiri. Ibu menjadi sangat keterlaluan sekarang.
Hilda Hardy ditinggalkan sendirian di restoran lalu menangis sekeras-kerasnya.
"Bibi, anak bibi tidak suka padaku. Katanya keluarga Hardy akan hancur kalau aku berani muncul di hadapannya lagi" cerita Hildan pada Nyonya Besar Hamilton.
Di ujung kota, Nora dan anaknya, William memulai malam pertama mereka di apartemen baru.
"Ibu, disini sangat menyenangkan. Kita bisa melihat gunung dari jendela yang ini, kota di sisi lainnya dan banyak orang lewat"
Berada di daerah pemukiman memang membuat apartemen mereka tidak sepi seperti sebelumnya. Mungkin, lingkungan seperti inilah yang sesuai dengan sifat kami.
"Jangan sampai jatuh. Dan kerjakan pekerjaan sekolahmu" teriakku dari dapur kecil yang multi fungsi ini.
"Baiklah. Tapi, apa boleh Jacob aku ajak kesini besok sore? Willy mohon"
Tidak mungkin aku akan menolak keinginan anak yang menjadi sangat manis itu sekarang.
"Baik. Ajak Jacob kemari, besok petang. Ibu akan membuatkan cheese cake untuk kalian" kataku membuat William senang dan memelukku dari belakang. Kehidupan kami akan baik-baik saja tanpa adanya apartemen mewah dan mobil, serta pekerjaan dari perusahaan nenek sihir itu.
Besok paginya, aku mulai bekerja sebagai penjaga kasir di minimarket yang berjarak sekitar seratus meter dari apartemen. Aku masih bisa mengawasi William kalau dia pulang lebih awal dari sekolah.
Karena aku pernah bekerja sebagai kasir sebelumnya di sebuah supermarket besar, minimarket seperti ini bukanlah masalah besar bagiku. Aku hanya harus lebih berhati-hati karena sistem keamanan yang minimal.
"Apa kau kasir baru?" Aku melihat pelanggan yang menyodorkan satu mie cup padaku.
"Iya, saya kasir baru disini" kataku lalu melayani pembeliannya.
Hari ini, orang itu kembali lagi pada jam makan siang dan membeli dua bungkus roti dan satu kotak susu. Apa dia adalah pelanggan setia dari minimarket ini?
"Kau akan melihatku tiga kali dalam sehari, jadi biasakan saja" katanya tiba-tiba.
"Apa tidak ada yang memasak untuk Anda?" tanyaku lalu, buru-buru aku meminta maaf karena mencampuri kehidupannya.
"Tidak apa. Aku hanya tinggal sendiri. Menyedihkan ya?" jawabnya dengan nada suara terlemah yang pernah kudengar. Aku benar-benar merasa bersalah karena menanyakan hal itu padanya. Seharusnya aku tidak membuatnya sedih, atau dia akan mencari minimarket lain.
Tidak lama, ada beberapa pria yang datang ke minimarket dan bertanya tentang aku sebagai pegawai baru. Rasanya memang tidak nyaman, tapi mungkin ini sudah biasa terjadi di pinggiran kota.
Setelah shift berakhir, aku segera pulang ke rumah dan mengeluarkan cheesecake dari lemari es kecil. Sebaiknya aku membuat jus untuk William dan Jacob. Senang rasanya bisa melakukan apapun yang kumau tanpa harus berpikir tentang keluargaku, terutama ibu.
Malam harinya di apartemen Daniel, Nyonya Besar keluarga Hamilton sedang berusaha meyakinkan anaknya untuk mengikuti perjodohan dengan Hilda Hardy sekali lagi. Tentu saja Daniel menolak dengan alasan banyak pekerjaan.
Dan memang, Daniel berencana pergi ke Cina selama beberapa hari untuk meninjau perusahaan cabang disana.
"Hilda yang akan jadi menantu ibu. Kau harus menurut atau kami terpaksa mengusirmu dari daftar penerima warisan serta jabatanmu sekarang" Ancam ibunya, mencari jalan untuk memaksa Daniel mengikuti perjodohan sekali lagi.
"Lebih baik aku tidak mendapatkan apa-apa daripada harus menikah dengan perempuan palsu sepertinya"
"Danny!!" teriak ibunya kesal.
"Aku akan mencari calon istriku sendiri, ibu tidak perlu khawatir tentang hal itu" jawab Daniel.
"Ibu memberimu waktu satu bulan. Kalau masih belum.juga membawa calon istri ke rumah, ibu akan memaksamu menikah dengan Hilda. Walaupun itu artinya ibu harus mengikatmu"
Daniel hanya bisa tersenyum getir mendengar permintaan ibunya ini. Dan dia meyakini bahwa ibunya akan benar-benar melaksanakan pernikahan itu dengan atau tanpa persetujuannya.