
"Kenapa dengan nenek?"
"Tidak ada apa-apa" jawabku menghibur William yang baru saja tidur siang.
Bagaimana caranya aku mendapatkan pekerjaan lain di usia 33 tahun dan memiliki anak. Semua ini gara-gara Hilda yang ingin menjadi Nyonya Muda keluarga Hamilton. Tapi, memiliki wanita tua itu sebagai mertua pasti bisa membuatnya sakit kepala.
Semalaman, aku berpikir tentang bagaimana kelanjutan hidup kami nantinya. Pusing melanda saat aku bangun pagi dan membuatku kesal.
"Ibu sakit?" tanya William
"Tidak"
"Maafkan Willy, Bu" Aku melihat ke arah anak yang paling tampan di dunia itu.
"Karena Willy, hidup ubu menjadi sulit"
Apa? Kenapa?
Aku berdiri dan segera memwluk anakku. Satu-satunya keluarga yang tidak pernah menuntut apapun padaku.
"Ibu bisa kuat karena Willy. Jangan pernah meminta maaf karena hal itu. Ibu sangat menyayangimu"
Ibu janji akan kuat menghadapi hidup. Semuanya akan baik-baik saja dan William tidak akan pernah merasa kekurangan apapun dalam hidupnya.
Di perusahaan, aku mulai berbicara dengan atasanku. Walaupun menyayangkan keputusanku, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menahanku. Aku tidak memegang posisi yang kuat selama ini, tempatku akan segera bisa digantikan orang lain.
Namun, karena belum ada pegawai pengganti, aku diminta tetap bekerja sampai minggu depan. Baiklah. Karena ini minggu terakhir, aku akan bisa mencari kerja dan masih memiliki gaji.
Untuk surat pengunduran diri, aku harus pergi gedung utama dan menyerahkannya pada kepala bagian HRD. Dalam perjalanan kesana, ada rombongan Direktur Utama yang berjalan ke arah kantor. Laki-laki itulah yang kelak akan menjadi suami Hilda. Sungguh keinginan yang tinggi untuk perempuan yang bahkan tidak pernah berbicara dengan laki-laki.
"Tunggu, Nora Hardy?" Aku menoleh dan melihat wanita tua yang mengejek anakku berdiri dengan anggunnya dengan beberapa petinggi perusahaan.
"Duduklah"
Aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke dalam ruangan pemegang saham utama. Ternyata semewah ini. Disaa aku duduk, seorang pegawai perempuan dengan sopan meletakkan reh di depanku dan pergi meninggalakan kami berdua.
"Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu hari ini"
Begitu juga aku, rasanya hatiku masih panas oleh perkataannya.
"Kudengar kalau ayah anak itu adalah orang yang selama ini tidak pernah pulang ke negeri ini karena masalah hukum keluarganya?"
Apa lagi yang akan dilemparkan oleh nenek tua ini padaku.
"Sepertinya orang itu sudah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia di Malta"
Reynold ada di Malta dan memiliki keluarga disana? Laki-laki yang gila.
"Sebenarnya, apa yang Anda inginkan dari saya, Nyonya?" tanyaku tegas. Tidak ada gunanya aku mendengarkan semua perkataannya.
"Kalau perjodohan antara sepupumu dan anakku berhasil, kita semua akan menjadi keluarga. Tapi, keluarga kami sangat tidak suka dengan skandal seperti ini. Jadi, bisakah kau menghilang setahun atau dua tahun dan tidak pulang dulu ke rumah keluargamu?"
Aku tidak percaya. Ternyata dia nenek sihir paling kejam yang ada di dunia. Mungkin dia bukan satu-satunya nenek sihir, tapi aku yakun dia yang terkejam. Aku tertawa mendengar permintaan nenek sihir ini.
"Nyonya Besar tidak perlu khawatir. Menyandang nama keluarga Hardy tidak membuat saya diperlakukan sama seperti kedua saudara saya sejak lahir. Selama ini saya hidup dengan kemampuan saya sendiri"
"Aku tidak ingin mendengar kisah hidupmu. Aku ingin tidak ada masalah dengan keluarga Hardy karena kau dan anakmu"
Aku melepas ikatan rambutku karena merasa pusing karena perkataan nenek sihir itu lalu berdiri.
Kemarahan terasa memuncak, membuat sakit kepalaku bertambah parah. Sial, sepertinya aku mau pingsan.
Hari itu juga, aku meminta mundur dari perusahaan dan pergi dengan memegang amplop berisi pesangon.
Ruang Direktur
"Sepertinya Nyonya Besar memanggil seseorang lagi, Tuan"
"Siapa?" Daniel yang sibuk menandatangani berkas diganggu asistennya karena kabar yang tidak mengejutkan lagi. Ibunya selalu memecat orang sesukanya karena masalah kesopanan atau kepatuhan. Tapi, selama semua itu tidak merugikan perusahaan, Daniel tidak membuatnya menjadi masalah.
"Pegawai dari bagian gudang. Masalahnya belum diketahui"
Baru kali ini ibunya memecat seseorang tanpa alasan. Apa ibunya terlalu tertekan karena masalah perjodohan Daniel yang tidak juga menimbulkan hasil?
"Biarkan saja" Daniel akanenyerah masalah pemecatan pegawai karena dia tidak ingin ditekan masalah istri oleh ibunya.
Toko Jual Beli Mobil
"Paling banyak tiga puluh juta" kata pemilik toko mobil bekas menaksir nilai mobilku.
"Apa? Saya membelinya seratus juta beberapa tahun lalu"
"Kalau mau terima, kalau tidak cari saja toko lain"
Sial. Aku harusnya tidak pernah membeli mobil ini. Terpaksa aku menerima tawatan pemilik toko dan meninggalkan mobil yang sudah menemaniku selama tiga tahun lebih hanya untuk tiga puluh juta.
Seyelah menjual mobil, aku pulang ke apartemen dan mulai memberseskan barang. Karena kebanyakan adalah perabotan yang dibeli ayah, aku tidak perlu membereskan terlalu banyak barang. Yang terpenting adalah buku dan pakaian William.
Pukul empat sore, saat aku belum selesai, William pulang dan merasa kaget dengan keadaan rumah.
"Apa kita akan pindah?"
"Iya, tolong ibu" William membantuku mengangkat kardus penuh bukunya ke dekat pintu depan.
"Pindah kemana?"
"Belum ibu cari. Willy saja yang cari di ponsel ibu"
Walaupun bingung dan kaget, William tetap melakukan perintahku dan mencari rumah sewa di ponsel. Dia meneriakkan jumlah kamar, alamat dan fasilitas yang tersedia selagi aku membereskan barang-barangku.
"Yang dekat sekolahmu itu sepertinya bagus" balasku lalu keluar dengan terburu-buru dan tersandung kardus baju. Suara jatuh yang keras dan kepalaku terantuk beso sofa. Sakit sekali.
"Apa ibu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya sakit sedikit"
William tertawa melihatku lalu mengusap dan meniup lukaku seperti yang biasa kulakukan kalau dia terluka.
"Kalau nanti sudah besar, Willy akan membelikan ibu rumah dengan halaman belakang yang besar. Mobil Humvee keren dan banyak perhiasan"
Perkataannya membuatku menangis. Rasanya sesak sekali menghadapi hidup selama ini. Ditambah lagi ucapan mengerikan nenek sihir itu. Kudoakan dia mendapatkan menantu jahat.
"Ibu jangan menangis. Willy sayang ibu"
Aku memeluk anakku dan mengatakan kalau aku juga menyayanginya. Kami memilih sebuah rumah sewa yang kecil di lantai tiga dekat dengan sekolah Willy. Semoga saja aku mendapatkan pekerjaan dengan cepat agar hidup kami tidak lagi memburuk seperti dulu saat William berusia satu tahun.
Semalaman, kami berbincang masalah masa depan yang diimpikan William dan aku merasa sangat beruntung memilikinya dalam hidupku.