I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Cemburu



"Danny?"


"Ayah, aku pulang"


Malam ini, Daniel akhirnya pulang ke rumahnya sendiri setelah sekian lama. Rumah Keluarga Hamilton yang terdiri dari satu rumah utama yang tidak terlalu besar, rumah kedua untuk ruang kerja ayahnya dan satu lagi yang akan dibangun terletak di satu tanah pemberian kakek buyutnya.


Rumah Utama bergaya kolonial Perancis beratap biru muda, digunakan keluarga mereka untuk rumah tinggal dan tempat mengadakan beberapa acara besar. Rumah kedua yang seperti lumbung besar adalah tempat ayah Daniel menghabiskan waktunya.


Ayahnya yang memiliki kesukaan di bidang otomotif itu seringkali membeli mobil yang pernah digunakan oleh orang-orang penting Negeri ini.


Sedangkan rumah bergaya modern tropis yang baru saja dibangun di sisi timur tanah keluarga Hamilton adalah milik Daniel dan istri masa depannya. Tapi Daniel tidak suka berada di dalam lingkungan rumah keluarganya. Terlalu sepi, seperti tidak ada kehidupan didalamnya kecuali beberapa pelayan yang keluar masuk dan pengawal yang setia berdiri di depan rumah.


"Ibumu membicarakan masalah pernikahanmu dengan keluarga Hardy"


"Aku tidak akan menikah dengan Hilda Hardy"


Ayah Daniel yang juga merupakan anak tunggal di keluarga Hamilton hanya bisa menarik napas panjang mendengar jawaban putranya.


"Kau akan menikah cepat atau lambat. Akan lebih baik memiliki anak di usia muda agar kau bisa bersiap seperti ayah"


Ternyata pulang ke rumah ini tidak membuat Daniel senang. Entah sejak kapan, dia lebih suka sendirian. Tapi, kali ini berbeda. Ada seseorang yang ingin diajaknya hidup bersama.


"Aku sudah punya pilihan. Sebaiknya ibu berhenti membawa Hilda ke perusahaan atau aku akan memerintahkan pihak keamanan mengusir mereka" kata Daniel lalu meninggalkan ayahnya sendiri di ruang kerjanya yang penuh dengan miniatur kendaraan perang.


Tapi, Daniel tertarik dengan Diecast Mobil Jeep Willy's milik ayahnya dan berhenti untuk memandanginya.


"Bolehkah aku meminta ini?" tanyanya pada ayahnya.


Satu miniatur kendaraan perang ini, berharga sangat mahal. Yang ada dipikiran Daniel adalah memberikannya pada William yang sangat suka kendaraan laki-laki.


"Tidak biasanya kau meminta itu. Ambillah" Dengan senang, Daniel mengambil jeep itu dan segera pergi dari rumahnya.


"Daniel"


Baru saja Daniel ingin pergi setelah memasukman miniatur jeep di kursi belakang mobilnya. Ibunya memanggil.


"Ayo kita makan malam. Sudah lama sekali kau tidak makan di rumah bersama keluarga"


"Aku ada urusan Bu"


Daniel kembali tidak peduli pada ibunya yang berteriak-teriak di belakang dan melaju pergi. Meninggalkan tanah seluas tiga hektare tempat rumah keluarganya berdiri.


Di tepi kota, Nora yang baru saja selesai bekerja menemani William bermain. Setelah satu bulan bekerja di mininarket, aku menghadapi kenyataan pahit. Gaji dari pekerjaan paruh waktu ini tidak akan membuatku dan William menjalani hidup tenang. Aku harus bekerja di tempat lain atau menemukan pekerjaan paruh waktu tambahan.


Apa yang harus dilakukannya?


Tak lama, seorang pria dari minimarket berdiri di depan pintu apartemen. Aku mengajak William keluar untuk makan malam bersama. Tampaknya William tidak terlalu senang malam ini, karena pembicaraan mereka sama sekali tidak sama.


William yang suka membicarakan mobil tidak disambut dengan baik oleh pria itu. Tampaknya malam ini akan berjalan panjang untuk kami berdua. Karena aku juga tidak tertarik sama sekali dengan prmbicaraan kami tentang kekayaan orang lain. Rasanya pria ini lebih banyak menceritakan tentang rumor orang kaya di negeri ini.


"Apa ibu menyukai paman ini?"


Tiba-tiba saja William bertanya saat pria itu pergi ke toilet.


"Aku tidak suka padanya. Paman ini terlalu banyak bicara"


Aku menyetujui perkataan William dan kami tertawa bersama. Ternyata perasaan kami sama terhadap pria ini. Makan malam menjadi dipercepat dan kami memutuskan untuk segera pulang. Walaupun begitu, pria tersebut masih mengerti sopan santun dan mengantar kami pulang dengan berjalan.


"Malam ini sangat menyenangkan, apa kita bisa makan malam lagi lain kali?" tanyanya membuatku agak tidak enak.


"Mungkin lain kali, karena aku harus mencari pekerjaan tambahan" jawabku menghindar.


"Baiklah kalau begitu. Willy, paman pergi dulu"


Dan menghilanglah bayangan pria itu dari depan kami. Dia sangat baik, hanya saja terlalu banyak bicara sehingga membuatku dan William tidak nyaman. Tidak seperti saat kami makan malam drngan Daniel. William dan Daniel saling berbicara masalah mobil dan mereka terlihat sangat senang.


"Nora!!"


Baru saja mengingatnya, laki-laki itu berdiri di depan mobil mewahnya. Ekspresinya sangat menakutkan, membuatku agak ragu untuk menyapanya kembali. Tapi, William menyeberang jalan dan tanpa sungkan memeluk Daniel begitu saja.


Dengan langkah lebar, Daniel menangkap William dalam pelukannya lalu membawa keduanya ke arahku.


"Siapa pria itu?" teriak Daniel padaku.


"Siapa? Pria yang tadi? Dia hanya ... " Saat Daniel yang tinggi besar itu berdiri di depanku, dia tampak semakin menakutkan. Raut wajahnya terlihat sangat marah.


"Dia adalah paman yang sering ke minimarket. Paman itu mengajak kami makan malam, tapi dia sangat membosankan. Selalu bicara tentang dirinya sendiri" jelas William.


Daniel menurunkan William ke tanah dan mendekat ke arahku. Dia menjetikkan jari telunjuknya ke dahiku, dan rasanya sangat sakit.


"Sekali lagi aku melihatmu berdekatan dengan laki-laki. Aku akan mengurungmu di apartemenku" kata Daniel terasa mendominasi.


Tapi, bukankah umurnya jauh lebih muda dariku? Kenapa aku yang diperlakukan seperti anak-anak disini dan bukan dia. Dan lagi, ada William yang melihat kami dari tadi.


"Apa yang kaulakukan?" Aku menringis menahan sakit di dahiku dan melihatnya dengan tampang bermusuhan. "Kau tidak berhak melakukan itu!!"


Karena kesal aku naik ke apartemen dan tidak memikirkan tentang William. Bagaimana bisa anak muda sepertinya memperlakukan aku seperti ini. Sangat memalukan.


"Paman tidak membawa apapun untukku?" tanya William menyela kemarahan Daniel. Hati dan kepalanya panas ketika melihat Nira tersenyum di hadapan pria lain. Bukan hanya dengan William, ayah William dan sekarang dia harus bersaing melawan pria itu. Sebaiknya Daniel segera membuat batasan untuk Nora, atau dia tidak bisa mendapatkan perempuan yang diinginkannya.


"Paman lupa, ada sebuah miniatur mobil yang akan kau sukai di mobil" katanya mencoba menenangkan diri.


"Wah keren sekali. Lihat ini Bu. Terlihat sangat keren" William menyombongkan pemberian Daniel dihadapanku. William sangat menginginkan model mobil seperti itu. Tapi, kelihatannya mahal.


"Aku sangat tidak suka melihatmu dan William bersama pria lain. Belum tentu mereka adalah orang baik. Jadi, jangan pernah bertemu pria asing lain" kata Daniel menegaskan kehadirannya di dalam apartemen.


"Kau juga orang asing bagi kami" balasku.


Setelah itu, selama lebih dari setengah jam Daniel berbicara panjang lebar tentang jasanya memberi nama pada William. Dia juga mengatakan betapa mengerikannya dunia ini bagi seorang perempuan yang tidak memiliki suami sepertiku. Bagiku, dia terlihat cemburu. Tapi itu tidak mungkin. Kami hanya teman dan hanya berteman.