I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Penolakan



Gila. Daniel pasti sudah gila. Kenapa dia melakukan ini padaku.


Dengan kekuatan tangan, aku berhasil menghalau tangan Daniel masuk lebih dalam ke kemejaku dan bibirnya perlahan meninggalkanku.


"Nora, aku mencintaimu"


Daniel mengulangi kata-kata itu saat aku masih berusha mengatur napas. Aku berusaha menjauhkan diri darinya dan berhasil berdiri.


"Apa kau pikir aku perempuan seperti itu? Perempuan yang dengan mudahnya luluh hanya karena kau mengatakan hal itu?" Entah kenapa aku menjadi emosi karena perkataan dan kelakuan Daniel saat ini. Mungkin juga, aku merasa malu saat dia melakukan semua ini di sini. Di ruangannya tepat di perusahannya.


Terlihat sekali daniel terkejut setelah mendengarkanku. Dia memperbaiki posisinya dan menatapku dengan tajam.


"Apa?"


"Kau ... kau tidak boleh melakukan hal seperti ini padaku hanya karena aku seorang perempuan tua yang sudah memiliki anak"


"Serendah itukah aku menurutmu?"


Sial. Speertinya aku melakukan kesalahan besar.


"Kedatanganku kemari hanya untuk mengembalikan cincin itu kepadamu. Aku tidak bisa memakainya lagi"


"Aku mencintaimu" Daniel kembali mengulang kata-kata itu, membuat badanku agak memanas. Baru kali ini aku mendapatkan pengakuan seperti ni. Tapi, aku merasa tidak layak mendapatkannya.


"Tidak. Kau tidak boleh. Aku bukanlah perempuan yang pantas mendapatkan kata-kata seperti itu. Hilda lebih baik dariku. Aku ... aku ... hanyalah perempuan tua yang sudah memiliki anak dan tidak punya pendapatan apapun. Aku ... tidak pantas. Jangan pernah datang ke apartemen kami lagi dan selamat tinggal"


Aku berlari keluar dari ruangan Daniel dan perusahaannya. Sesampainya di luar, aku melihat matahari bersinar dengan teriknya dan perlahan badanku terasa lemah. Ada yang tidak beres dengan badanku, sebaiknya aku pulang sekarang.


Daniel hanya bisa memandangi kotak biru berisi cincin di mejanya. Lama sekali dia berpikir untuk memberikan cincin peninggalan neneknya pada seseorang yang sangat ingin diinginkannya. Tapi, perempuan itu menolaknya dengan berkata kalau dia tidak layak mendapatkannya. Nora memang tidak seperti perempuan kebanyakan. Perempuan lain pasti merasa senang saat diberi cincin seperti ini, dicium bahkan disentuh, tapi Nora menolak semuanya. Memalukan sekali, seorang Daniel Hamilton ditolak oleh perempuan yang bahkan tidak perawan lagi.


Rasa marah mulai menguasai dan membuatnya mengambil keputusan yang tidak pernah dibayangkan olehnya.


"Ibu, aku siap bertunangan dengan siapapun sekarang"


Sesal pasti akan datang kepadanya nanti, tapi tidak untuk sekarang. Daniel hanya ingin mencoba menghilangkan bayangan perempuan yang dicintainya sejak sepuluh tahun lalu itu segera.


Aku pulang dan tidak bisa melihat dengan baik. Sepertinya, badanku benar-benar sakit. Dengan tertatih, aku masuk ke dalam apartemen dan mencoba mencari obat. Setelah meminumnya, aku tertidur di meja makan dan tidak sadar tentang apapun yang terjadi. William dan Jacob yang baru pulang dari sekoalh mencoba membangunkanku tapi sepertinya tidak bisa.


"Ibu ... ibu" panggil William lagi membuatku membuka mata. Langit-langit putih dan bau klorofom yang menyengat membuatku sadar kalau aku berada di rumah sakit sekarang.


"Willy ini dimana?"


"Rumah sakit, badan ibu panas sekali. Maafkan Willy Bu, jangan tinggalkan Willy sendiri"


Mendengarnya menangis membuatku sadar sepenuhnya. Jacob ada di belakang WIlliam, dan melihatku dengan khawatir.


"Terima kasih Jacob, sudah menemani Willy"


"Tidak apa-apa Bi. Apa bibi baik-baik saja?"


Aku mengangguk dan melihat kabel infus yang terpasang di tangan kiriku. William masih menangis dan aku membelai kepalanya.


"Ibu baik-baik saja. Maafkan ibu"


Ternyata aku mengalami demam karena tidak makan dengan benar. Memang, beberapa minggu ini aku terlalu tertekan karena beberapa masalah, apalagi pekerjaan. Dokter ingin aku menghabiskan cairan infus terlebih dahulu sebelum bisa pulang ke rumah. Aku tidak boleh seperti ini, membuat anakku sangat khawatir. Mulai sekarang, hidup kami harus kembali seperti semula.


"Hei, sudah. Ibumu sudah bangun" kata Jacob pada temannya yang masih menangis"


"Apa kekasih ibumu tidak datang?"


"Sepertinya tidak. Aku sudah menghubunginya sejak tadi lewat ponsel ibu tapi tidak diangkat. Pasti dia menjauh seperti yang lainnya"


"Sudahlah, orang dewasa memang sulit dipahami"


Keduanya melihat lorong rumah sakit yang sepi dan mulai merasa takut. Tak lama, ibu Jacob datang untuk menjengukku dan menjemput anaknya. Aku terpaksa menitipkan William ke rumah Jacob karena khawatir tidak ada yang memperhatikannya di rumah sakit.


"Willy disini saja sama ibu"


"Jangan, banyak orang sakit disini" kataku berusaha membujuk anakku


"Iya, ibumu butuh istirahat. Besok pagi ibumu sudah pulang ke rumah sebelum kalian selesai sekolah" jawab ibu Jacob, mencoba untuk membujuk William dan berhasil. Kini, tinggallah aku di dalam kamar perawatan berisi empat orang, tanpa adanya keluarga yang menjenguk.


Inilah nasibku. Ditinggalkan oleh orang tua, saudari bahkan orang yang kucintai. Tapi, aku tidak merasa ada yang kurang dalam hidupku selama WIlliam masih ada disisiku. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk membuatku bahagia. Sekitar empat jam di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Karena sekarang sudah pukul 2 pagi, aku memilih untuk naik taksi untuk pulang. Apartemenku terlihat berantakan, tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk membereskannya. Besok saja. Aku memutuskan untuk tidur dengan segera sebelum pagi menjelang.


Beberapa bulan berikutnya, hidupku benar-benar kembali seperti semula. Dan yang lebih baik, aku memiliki pekerjaan sebagai penjaga stand kosmetik di sebuah pusat perbelanjaan. Gajinya sangat cukup untuk membayar sewa apartemen dan semua pengeluaran bulanan yang harus kutanggung. William juga tidak pernah menanyakan tentang ayah kandung atau paman danielnya lagi. Semua benar-benar kembali ke tempatnya.


"Ibu, Willy dengar, paman Daniel bertunangan dengan bibi Hilda" Piring yang ada di tanagnku terlepas dan meluncur masuk e dalam bak cuci piring dengan suara keras. Bertunangan? Akhirnya daniel bertunangan dengan Hilda?


"Syukurlah kalau begitu. Paman Daniel dan Bibi Hilda pasti akan senang sekali" jawabku.


"Ibu"


"Hemm?"


"Kita berlibur yuk"


Tiba-tiba saja William mengajakku berlibur? Sangat jarang dia ingin menghabiskan waktu denganku akhir-akhir ini karena tugas sekolahnya. Dan sekarang, William ingin berlibur?


"Ada apa memangnya? Willy tiba-tiba ingin berlibur?"


"Willy capek. Kita juga tidak pernah liburan selama dua tahun ini"


Benar juga. Karena sibuk bekerja, aku tidak pernah menghabiskan waktu seharian dengan William.


"Ibu akan melihat kapan hari lib bur ibu dan kita bisa pergi menginap di hotel selama satu malam. Bagaimana?"


"Setuju!!" kata William lalu menciumku dan berangkat sekolah.


Senang sekali ... hidup seperti inilah yang selama ini kami jalani dan ternyata aku serta William baik-baik saja menjalaninya. Sekarang, aku harus bekerja.


"Tuan Muda benar-benar akan bertunangan dengan Nona Hilda Hardy?" tanya Martin kepada Daniel saat mereka ada di mobil.


"Iya. Apa ada yang salah dngan itu?"


"Tidak. Tidak ada. Maafkan saya sudah membuat Anda terganggu"


Daniel melihat wajah tanpa ekspresi pengawal yang merangkap sebagai asisten pribadinya itu lalu melihat ke luar jendela. Hampir lima bulan dia tidak pernah bertemu dan memilkirkan Nora dan William lagi. Ini pasti memang hal yang terbaik. Mungkin memang dia dan Nora tidak ditakdirkan bersama.