
"Kenapa kau ada disini?" tanya Susan Hardy, ibu dari tiga anak perempuan keluarga Hardy. Lisa, Nora dan Cindy Hardy.
"Bibi ... aku berada di depan apartemen Daniel lama sekali. Kakiku sampai sakit menunggunya. Tapi Daniel belum pulang juga sampai sekarang"
Susan merasa geram karena Hilda, keponakan yang sengaja dia masukkan dalam kartu keluarga Hardy tidak sabaran.
"Kau harus mencari tahu kemana dia pergi dari salah satu bawahannya"
"Tapi Bi, Daniel seperti tidak tertarik padaku. Apa aku bisa menyerah sekarang?"
Susan semakin geram pada keponakannya yang pintar itu. Hilda memang anak yang sangat pintar dalam pelajaran, tapi tidak pandai memikat laki-laki. Segala ipaya dolakukan Susan untuk mengubah tampilan Hilda, tapi sifat tertutupnya belum juga berubah.
"Hilda, sekarang kau sangat cantik. Laki-laki mana yang tidak menginginkanmu. Jangan sampai Daniel lepas dari tanganmu atau keluarga kita hancur. Terutama ayah dan ibumu" perkataan Susan membuat Hilda terdiam lalu melihat ke arahnya.
Keluarga Susan Hardy adalah deretan pengusaha kecil yang kalau dikumpulkan tetap tidak dapat seberuntung suaminya. Mengandalkan kecantikannya, Susan akhirnya dapat menikah dengan seorang pengusaha muda yang bergerak dalam bidan pengolahan besi tua.
Keinginannya hanyalah satu, berdiri di samping pengusaha paling kaya di negeri ini. Nyonya besar keluarga Hamilton.
Tapi, rencananya tidak berhasil saat Cindy, anak terakhirnya menikah dengan pengusaha pariwisata yang tidak terlalu kaya. Tapi Cindy tampak sangat bahagia dengan suaminya, jadi dia tidak dapat berkata apapun.
Kedekatannya dengan Nyonya Besar Hamilton yang telah diusahakannya selama ini akan berakhir sia-sia saja. Padahal, keadaan keluarganya semakin memburuk.
Susan telah memangkas berbagai skandal di dalam keluarganya termasuk terpaksa mengeluarkan Nora dari rumah agar pertunangan ini berhasil. Tapi, tupanya Daniel Hamilton tidak dapat dipengaruhi semudah itu. Kini, harus mengandalkan kekuatan ibu Daniel dan Hilda.
"Iya Bi. Aku akan mencoba pergi ke apartemen Daniel lagi sekarang"
"Jangan!! Memangnya kau mau dicap sebagai stalker? Jagalah harga dirimu dan tetap rayu Daniel. Dia sesuai untukmu" kata-kata itu terus menerus diucapkannya kepada Hilda agar dia melakukan perintah Susan. Keluarganya tidak akan hancur dengan pernikahan ini.
"Tapi, Bi. Aku bertemu kak Nota beberapa waktu lalu"
"Dimana?"
"Di depan butik saat aku berbelanja dengan ibu Daniel. Kelihatannya kak Nira sedang mencari pekerjaan"
Apa?? Jadi benar kalau Nyonya Besat Hamiltom memecat Nora dari perusahaannya. Susan tidak menyangka akan terjadi seperti ini, tapi semua ini demi kebangkitan keluarganya. Nora akan hidup baik-baik saja dengan anaknya.
"Jangan pedulikan itu. Pikirkan saja Daniel, hanya itu" jawab Susan lalu melihat foto anak keduanya yang cantik di belakang foto lainnya. Setelah pernikahan ini terjadi, dia akan memanggil Nora kembali ke rumah dan memberikan cucunya pendidikan terbaik. Untuk sekarang, Susan hanya bisa mendukung Hilda untuk menyelamatkan keluarganya.
Pagi hari menjelang bagi semua umat manusia di bumi. Matahari yang terlihat terang masih malu bergulir lebih jauh. Perlahan, langit berubah warna, membuat satu-persatu penghuni dunia terbangun dari tidurnya.
Termasuk Daniel.
Daniel membuka matanya dengan susah payah dan melihat langit-langit yang berbeda dari biasanya. Ada dimana dia? Dan kenapa dia bertelanjang dada?
"Apa Paman tidak apa-apa?" tanya suara anak kecil yang dikenalnya.
"Willy? Bagaimana paman bisa sampai kemari?"
"Tidak tahu. Yang Willy tahu, paman tiba-tiba pingsan di pelukan ibu. Semalaman ibu merawat paman dan sepertinya berhasil. Apa paman baik-baik saja sekarang?" Daniel berusaha mengingat kejadian semalam tapi tidak bisa. Kepalanya masih terlalu pusing untuk mengingat apapun.
"Iya. Hanya sedikit pusing. Mana ibumu?" Daniel berusaha turun dari ranjang tapi ditahan oleh William.
"Jangan turun. Nanti paman bisa sakit lagi. Biasanya ibu tidak memperbolehkanku turun dari tempat tidur setelah demam. Aku akan mrngambilkan sesuatu untuk paman" Daniel terkejut dengan tata bicara anak berumur sepuluh tahun itu. Lancar dan tersusun dengan rapi. Nora melakukan pekerjaan baik dalam merawatnya.
"Apa kau sudah tidak apa-apa Daniel?"
Perempuan itu berjalan ke arahnya tanpa canggung dan memeriksa dahinya. Tangan yang hangat menempel di dahi Daniel, nyaman sekali.
"Sudah dingin, tapi masih pusing ya? Sepertinya kau harus tidur lagi. Aku akan membawakan saran dan obat untukmu" Nora terlihat membuka pintu lemari pakaian dan mencari sesuatu di dalam lemari pakaian.
"Tidak ada pakaian laki-laki dewasa di rumah ini. Maafkan aku. Aku akan segera mencuci kemejamu yang basah keringat itu" Nora berjalan ke arah pintu tapi Daniel menahannya pergi.
"Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Nora.
"Tidak" jawab Daniel sambil tersenyum. Entah kenapa, sekarang dia merasa beruntung telah sakit.
Nora keluar dari kamar lalu keadaan rumah itu mulai agak ramai dengan teriakannya pada William. Daniel memeriksa ponselnya yang ada di atas meja kecil kamar Nora.
Hanya ada teks dari pengawalnya tadi pagi-pagi sekali.
"Apakah Tuan Muda baik-baik saja? Saya pikir saya meninghalkan Tuan Muda di tangan yang tepat semalam"
"Benar. Aku di tempat yang kuinginkan" balas Daniel.pada pengawalnya lalu kembali berbaring di tempat tidur. Sungguh menyenangkan.
"Paman, ini bubur daging buatan ibu. Paman bisa memakannya setelah agak dingin" kata William lalu dengan hati-hati meletakkan bubur di meja tempat tidur.
"Panas"
"Ibu sudah bilang, Willy bawa yang ini saja" Daniel melihat dua orang yang dirindukannya sedang sibuk memperhatikannya. Sungguh menyenangkan.
"Makan sarapanmu lalu segera berangkat ke sekolah!"
"Tidak, aku ingin sarapan bersama paman"
Daniel tersenyum dan memaksa Nora agat menuruti William.
"Akan sangat menyenangkan bisa sarapan bersama Willy" jawab Daniel lalu melihat ke arah Nora yang keberatan. Tapi akhirnya mengijinkan.
"Bubur daging ibu sangat lezat. Paman harus menghabiskannya lalu sembuh"
"Ini kemejamu. Sudah kering dan bersih"
Daniel benar-benar tidak bisa bicara melihat adegan yang diinginkannya bermain dengan baik di depan matanya. Nora dengan gaun sederhanya dan celemek sedang sibuk mempersiapakan baju untuknya. Sedangkan anak kecil yang disayanginya mengajaknya makan.
Daniel tidak menyia-nyiakan waktu berharga itu dan mulai makan bubur yang dibuatkan Nora untuknya.
"Apa paman akan ada disini saat Willy pulang nanti?" tanya William yang siap pergi sekolah.
"Mungkin. Paman masih terlalu pusing"
"Tapi, ibu harus bekerja hari ini" Daniel teringat pada pagi hari kemarin saat dia melihat Nora dipecat dihadapannya.
"Ibumu akan menjaga Paman dan tidak bekerja hari ini" jawabnya membuat William senang.
"Aku berangkat dulu paman. Semoga cepat sembuh" Nora mengantar William keluar apartemen dan Daniel kembali berbaring di tempat tidur. Akan sangat menyenangkan kalau kejadian ini terjadi setiap hari.
Daniel memberi perintah pada pengawalnya untuk mengantar baju ke rumah Nora. Hari ini, dia hanya ingin beristirahat di rumah dan kamar ini bersama perempuan yang disukainya sejak lama.