I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Aku Melihatnya Sebagai ...



Baru saja selesai mengantar William ke sekolahnya, sebuah mobil berhenti di depan gedung apartemen. Seorang pria yang kukenal pernah meminjam toilet di minimarket tempatku bekerja keluar dari mobil tersebut dan melihatku.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" Aku memberi hormat pada pria itu dan tiba-tiba saja dia menyerahkan dua bungkusan pakaian kepadaku.


"Ini adalah pakaian Tuan Muda" Aku mengerti setelah dia mengatakannya. Jadi dia adalah salah satu pekerja Danile, mungkin.


"Apakah Anda?"


"Saya adalah asisten Tuan Muda Daniel. Tolong rawat tuan muda dengan baik dan bisa kembali bekerja lagi di perusahaan" jelasnya


"Perusahaan dalam bidang apa?"


Saat aku bertanya, pria itu tidak menjawab dan memilih segera masuk ke dalam mobil lalu pergi. Kasar sekali, padahal aku hanya ingin tahu dimana Daniel bekerja sampai sakit seperti itu. Ahh, tidak ada gunanya juga aku tahu, Aku masuk ke adalam apartemen  dan  melihat Da niel masih tertidur. Semoga saja obatnya bekerja dan  membuatnya cepat sembuh. Dengan hati-hati, aku meletakkan bungkusan  pakaian di kursi lalu keluar kamar.


Sambil memasak, aku kembali mencari lowo nga n  pekerjaan. Sayangnya, tidak banyak lowongan yang bisa kulamar.  Kebanyakan  meminta  wanita  berumur 25-27 tahun dan belum  menikah. Kenapa  keberuntungan belum berpihak padaku sejak berhenti secara paksa di perusahaan  milik Nenek sihir itu.  Apakah mungkin ada hubungannya dengan pengaruh besar keluarga Hamilton yang menguasai ekonomi di negeri ini. Tidak ... tidak mungkin, pasti karena aku belum berusaha keras.


"Kapan Martin datang?" tanya Daniel yang kali ini telah berganti pakaian. Kaus putih dan celana kain coklat itu tampak sangat mahal di badannya.


"Tadi saat aku baru saja pulang dari sekolah William. Apa dia adalah pria yang meminjam toilet di minimarket dulu?" tanyaku pada Daniel yang telah duduk di depanku.


"Iya"


"Apa kau sudah lebih baik?" Aku sampai lupa kalau Da iel baru saja sakit karena wajahnya sangat segar.


"Sudah. Terima kasih sudah merawatku sampai libur bekerja" pancing Daniel, membuatku agak canggung.


"Apa kau tidak bekerja karena aku atau masalah lain?" sambungnya.


"Kenapa kau ingin tahu?"


Aku dan Daniel saling memandang satu sama lain, membuatku menarik napas panjang.


"Baiklah, aku dipecat, oke?"


"Sejak kapan?" tanya Daniel


"Sejak kemarin, dan tolong jangan beritahu Willy tentang ini"


"Kau pernah bekerja di perusahaan Hamilton, kata Willy. Kenapa keluar?"


"Disana ada nenek sihir jahat yang bisa membuat bibir dan hatiku kering"


Daniel tidak mengerti tentang nenek sihir yang dimaksud oleh Nora. Setahunya  Nora berhenti karena  masalah pribadi. Ataukah semuanya  ada hubungannya dengan  perjodohannya dengan Hilda Hardy yang dilakukan ibunya? Tapi, apa hubungan pekerjaan  Nora di perusahaan dengan hal  ini. Jadi, yang dimaksud nenek sihir oleh Nora adalah ibunya?


"Kenapa kau tertawa?" tanyaku


"Tidak, aku hanya merasa kalau kau sangat membenci nenek sihir itu"


"Tentu saja. Aku sudah bekerja selama lebih dari lima tahun dan diminta berhenti karena masalah pertunangan anaknya. Gila kan?"  Aku menahan mulutku sebelum mengeluarkan apa saja yang ada dalam hati dan otakku.


Hanya karena masalah pertunangan  dengan Hida Hardy yang bahkan tidak pernah Daniel setujui, ibunya berani memaksa Nora berhenti dari pekerjaannya. Sebenarnya, apa masalah ibunya?


"Kenapa kau minta maaf karena aku diberhentikan?" Daniel sangat aneh, dia merenung sebentar sebelum meminta maaf padaku masalah pekerjaan di perusahaan otomotif besar itu. Dia kan tidak salah.


"Bukan, aku meminta maaf karena kau harus merawatku sampai dini hari"


Apa sih? Kenapa dia meminta maaf untuk itu? Aku tidak pernah mempermasalahkannya karena mungkin memang aku butuh istirahat sehari saja.


"Apa kau butuh bantuanku untuk mencari kerja?" tawaran Daniel memang sangat menarik, apalagi untukku yang sangat susah mencari pekerjaan. Tapi ...


"Tidak perlu, aku pasti bisa berusaha sendiri. Apakah kau ingin teh hangat?" Tanpa mendengar jawaban Daniel, aku bangun dari kursi menuju dapur dan meulai merebus air.


'Wanita keras kepala. Kenapa tidak menerima bantuanku saja' kata Daniel dalam hati. Tapi dia mengagumi cara Nora mengatasi masalahnya. Dari merawat anak, meninggalkan keluarganya yang kaya serta hidup sendiri tanpa bantuan mereka membuat Nira tampak semakun cantik di matanya. Daniel tidak suka perempuan manja, dia suka perempuan yang berusaha bangkit dengan kakinya sendiri dan setelah terlalu lelah, bersandar di dadanya.


Dua tangan besar memerangkapku diantara meja dapur dan tubuh yang masih memancarkan sedikit hawa hangat. Aku menoleh dan wajah Daniel berada dekat sekali denganku.


"Apa yang?" Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Daniel sekarang?


"Aku akan menunggumu meminta bantuan padaku. Aku siap kapan saja dan dimana saja kau memintaku datang. Ingat itu"


Entah kenapa, aku merasa kata-kata Daniel merupakan sebuah janji padaku. Aku senang memiliki seseorang yang bisa setidaknya diajak bicara dan menumpahkan segala keresahan yang ada di dalam hatiku. Tapi, apakah kami harus sedekat ini?


Daniel tidak beranjak dan semakin menempel ke arah tubuhku sedangkan aku berusaha menghindarinya dalam ruang yang sudah terlalu sempit ini.


"Bisakah kau menjauh sedikit?" pintaku lalu tersenyum ke arahnya.


"Hanya ada satu syaratku. Jangan pernah, sekalipun, pergi dengan pria lain seperti minggu lalu. Hal itu membuatku semakin ingin memilikimu"


Memiliki? Apa maksud Daniel dengan hal itu?


"Hei, anak muda. Jangan pernah bicara seperti itu padaku. Membuatku merinding saja. Cepat sana menyingkir dariku atau air panas ini akan membuat dadamu yang berotot itu melepuh"


Daniel mengambil langkah mundur dan terkesan terkejut dengan kata-kataku.


"Apa kau tidak tahu kalau aku adalah pria dewasa?" tanyanya membuatku semakin merinding.


"Tentu saja tahu, tapi bagiku, kau masih anak remaja berumur 18 tahun yang patah kaki karena ingin mencari perhatian orang tuanya"


Apa??? Nora tidak melihatnya sebagai pria dewasa selama ini? Padahal, Daniel mengorbankan badannya yang kedinginan demi memperlihatkan dada telanjangnya pada Nora. Dan dia tidak tergoda sama sekali?


"Hei, kenapa? Apa kau pusing lagi?" tanyaku saat melihat Daniel kembali duduk dengan kerasnya di kursi.


Wajah Daniel pucat sekali. Pasti rasa pusingnya kembali dan membuatnya lemah lagi.


"Kau harus beristirahat dengan baik. Atau demam lagi" kataku lalu memapah Daniel ke arah kamarnya. Dia benar-benar tampak tidak sehat.


"Aku akan membuatkan bubur lagi karena sebentar lagi adalah waktumu meminum obat. Apa kau tidak ingin ke dokter atau pulang"


Daniel tidak bicara dan memilih menutup matanya di dalam selimut. Apa ada ucapanku yang salah? Sepertinya aku mengatakan hal yang benar. Tidak mungkin aku melihatnya sebagai laki-laki dewasa karena diriku yang tidak berhak berpikir seperti itu. Aku hanyalah orang tua tunggal yang memiliki anak laki-laki berumur 10 tahun