
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel pada Nora yang terlihat tidak tenang.
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Willy, Willy tidak ada dimanapun. Aku sudah mencari ke sekolah, rumah Jacob, taman dan gedung apartemen ini. Tapi Willy tidak kutemukan juga"
"Tenanglah. Willy sudah ditemukan"
Nora melihat Daniel seperti ingin bertanya dengan matanya.
"Willy pergi ke rumah keluargaku untuk menemui ibuku"
Apa???? Kenapa William pergi kesana? Untuk apa William pergi kesana?
"Aku tidak tahu kenapa Willy kesana? Tapi, dia aman"
"Ayo kesana. Antarkan aku kesana!"
Nora seperti tidak bisa tenang lagi. Sepanjang pagi ini dia sudah mencari anaknya kemana-mana dan seperti kehilangan nyawanya beberapa kali ketika tidak juga menemukan William.
"Sebaiknya kau berganti pakaian. Kau tidak mau mencari William ke rumahku dengan tampilan seperti itu" Daniel menunjuk kaos putih kotor dan celana pendek yang kugunakan untuk tidur.
Benar juga kata Daniel, aku tidak mungkin datang ke rumah keluarganya dengan tampilan seperti ini. Tapi, sesuai dengan yang kudengar, rumah keluarga Hamiltin memiliki keamanan yang berlapis. Bagaimana bisa William maauk ke dalamnya?
Selesai membersihkan diri, aku melepas kaos putih yang telah kotor karena mencari William. Dan sebelum aku melepas celana, pintu kamar terbuka.
"Apa yang kau lakukan???"
Mau apa Daniel tiba-tiba masuk ke kamar ... tanpa mengetuk terlebih dahulu ... saat aku dalam keadaan seperti ini?
"Maaf. Aku ... tidak sengaja" Bukannya segera menutup pintu, Daniel melihat pantulan tubuh bagian depanku di cermin. Dan saat matanya bertemu denganku dia tidak tampak mengalihkan pandangannya. Aku segera berjongkok dan berteriak padanya untuk segera menutup pintu. Memangnya, anak muda sekarang seperti itu ya? Bebas melihat tubuh perempuan sesukanya?
Aku keluar dari kamar setelah berpakaian lengkap lalu mengajak Daniel untuk segera ke rumahnya.
Di rumah keluarga Hamilton, Sara masih menyimpan rasa curiga pada anak berumur sepuluh tahun yang ada di depannya. Suaminya, ayah Daniel juga merasa anak itu mirip Daniel saat kecil. Mereka menjadi akrab dengan singkat karena pembicaraan masalah mobil dan alat tempur.
Benar-benar mirip dengan Daniel saat berumur sepuluh tahun. Daniel juga senang sekali mendengar ayahnya bercerita tentang mobil dan mesin-mesin yang canggih. Sayangnya, anak ini bertemu hanya sebentar dengan suaminya. Ayah Daniel harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
"Hei anak kecil? Apa kau tidak lapar?" tanya Sara karena melihat William mengambil kue coklat di tasnya.
"Namaku William, Nek. Aku lapar"
Bagaimana bisa anak Nora ini sangat tidak tahu malu. Dia datang kemari untuk mencari ayahnya tapi sekarang menyantap beberapa jenis makanan yang disediakan oleh koki keluarga Hamilton.
Tapi, cara makannya sopan dan tidak berantakan. Anak ini juga menunggu ijinnya untuk mengambil makanan yang diinginkannya. Sepertinya, didikan Nora tidak terlalu buruk.
"Aku sudah selesai, Nek"
"Siapa yang terus menerus kau panggil nenek dari tadi? Aku bukan nenekmu"
"Bisakah aku mendapatkan alamat ayah kandungku, Nyonya Besar?"
Dipanggil nyonya besar oleh seorang anak kecil ternyata tidak membuat Sara nyaman. Apalagi, sekarang William terlihat sedih di hadapannya.
"Aku tidak tahu alamat pastinya. Tapi dia ada di sebuah negara bernama Malta. Tanya saja ibumu, dia pasti tahu dimana alamat ayah kandungmu"
"Ibu berkata kalau ayahku sudah meninggal"
Sara merasa tidak nyaman lagi mendengar jawaban William yang lugas dan berani. Apa dia melakukan kesalahan dengan mengatakan keberadaan ayah kandung anak ini?
"Willy??" terdengar suara Daniel dari arah pintu dan benar saja. Tidak hanya Daniel, perempuan yang mengaku sebagai tunangan anaknya dan ibu dari anak ini juga datang.
Setelah berada di dalam mobil penuh suasana yang tidak nyaman bersama Daniel, akhirnya kami sampai di depan gerbang besar dan tinggi rumah keluarga Hamilton. Suasana jalan hutan yang rindang dan penuh dengan pohon kami lalui dan tiba-tiba terlihat sebuah istana besar berwarna putih berdiri di tengah-tengah taman.
Keluarga Hamilton memang kaya dari nenk dan kakek buyut mereka. Tidak heran kalau aku bisa melihat tidak hanya satu bangunan rumah di dalam gerbang besar itu. Jadi, inilah yang membuat Hilda tergila-gila pada Daniel. Serta membuat ibunya mengusahakan apapun agar keponakannya itu masuk dalam jajaran keluarga Hamilton.
"Kenapa?" tanya Daniel tiba-tiba lalu memegang tanganku. Tentu saja aku secara reflek menarik tanganku sendiri dan melihatnya dengan canggung. Apalagi karena kejadian di kamar yang tidak bisa kulupakan dengan mudah tadi.
"Rumahmu sangat besar. Pantas saja banyak perempuan yang berebut ingin menjadi calon istrimu"
"Kau tidak berebut dengan mereka?"
Hah? Kenapa Daniel berkata seperti itu?
"Apa kau ingin aku berebut dengan mereka? Karena aku benar-benar akan mencakar, menggigit dan menarik rambut para perempuan itu. Aku sangat ahli dalam pertengkaran perempuan" kataku tanpa banyak berpikir.
Daniel tersenyum mendengarnya dan lagi-lagi, sinar matahari tampak jatuh menimpaku. Apa ini yang kurasakan?
Akhirnya, mobil berhenti dan dengan tidak sabar, aku keluar dari mobil disusul oleh Daniel. Rumah dengan beberapa tangga yang menyambut kami untuk masuk ke dalam rumah bergaya Amerika dengan cat putih yang megah.
Di dalam rumah juga tampak sangat menakjubkan. Tunggu, aku disini bukan untuk mengagumi kemewahan dan kebesaran rumah keluarga Daniel. Aku kemari karena William ada disini.
"Willy?" panggil Daniel lalu seorang Nyonya Besar keluarga Hamilton muncul di depan kami. Dan anak kecil yang kabur dari rumah itu berada di belakangnya. Aku melangkah maju dan melihat semua jengkal tubuh anakku. Memeriksa rambut, kaki dan segalanya. Setelah memastikan tidak ada luka di tubuh William, aku berdiri dan kemudian berteriak.
"Kenapa berkeliaran seperti itu? Membuat ibu khawatir. Bagaimana kalau Willy tertabrak mobil, diculik orang dan Willy tidak bisa pulang?" Willy terlihat ketakutan menghadapi aku yang marah. Belum.pernah sebelumnya aku bicara keras padanya. Tapi kali ini, Willy telah berbuat terlalu jauh.
"Kenapa kau berteriak pada anakmu seperti itu?" Aku terkejut mendengar ibu Daniel tiba-tiba berteriak juga padaku. Aku baru sadar kalau ini bukan rumahku, dan kami berada di istana nenek sihir ini.
"Maaf. Saya agak terbawa emosi karena terlalu mengkhawatirkan Willy. Maaf sudah merepotkan Nyonya" ujarku lalu membawa William ke pelukanku.
Daniel datang dan meletakkan tangannya di kepala William.
"Tenanglah. Ibumu hanya ketakutan karena berpikir akan kehilanganmu" Aku menutup mata dan mencium anakku. Selama ini kami hanya berdua dan tidak pernah terjadi apapun. Dan sekarang? Apakah semua ini terjadi karena mulai ada orang lain yang mendekati aku dan William? Apakah aku harus menjauhi Daniel dan mengembalikan cincin lamaran palsu yang melingkar di jariku? Mungkin Daniel lebih sesuai untuk Hilda dan bukan untukku.