I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Pekerjaan Baru



Hebat sekali, berhari-hari aku mencari pekerjaan disana dan disini. Belum lagi puluhan lamaran yang kukirimkan pada perusahaan besar dan kecil di kota ini. Semuanya tidak bisa membuatku diterima kerja dimanapun. Bagamana ini? Aku harus segera mendapat pekerjaan tapi kenyataannya sangat sulit.


Rencananya, aku ingin pindah keluar kota dengan uang tabunganku. Tapi, sepertinya semua harus ditunda. Setidaknya, William suka bersekolah dan tinggal disini. Aku hanya perlu bekerja lebih keras dalam mencari pekerjaan. Setelah mengistirahatkan kaki di kursi taman, aku berjalan kembali ke jajaran toko di jalan utama. Sebuah restoran membuka lowongan pelayan untuk malam hari. Apakah aku harus mencobanya?Tapi bagaiamana nanti dengan William?


Akhirnya aku pulang tanpa pekerjaan lagi. Apakah kami harus pindah ke apartemen yang lebih kecil lagi. Mendapat ide, aku membuka laptop dan mencari pekerjaan paruh waktu yang bisa kulakukan di rumah. Dengan begini, aku akan mendapatkan sedikit uang tanpa meninggalkan rumah. Bekerja di malam hari bukanlah pilihan untukku.


"Dapat" Aku bersorak riang karena mendapat pekerjaan sebagai pembuat tas kertas untuk sebuah brand. Senang sekali rasanya bisa mendapatkan pekerjaan ini. Mulai hari ini, aku harus lebih berhemat lagi untuk pengeluaran rumah tangga.


"Kenapa banyak sekali kertas di rumah kita, Bu?" tanya William yang baru saja puleng dari seklah.


"Ibu mendapat pekerjaan melipat tas dan bahannya baru saja dikirim sore ini. Bagus kan? Setidaknya ibu tidak benar-benar menganggur" Memang terdengar menyedihkan bagiku, tapi hanya ini yang bisa kulakukan sekarang.


"Willy akan membantu"


"Apa pekerjaan sekolahmu selesai? Willy bertugas untuk sekolah. Hanya sekolah. Tidak boleh membantu ibu kalau masalah sekolah belum diselesaikan" kataku tegas.


"Baik, Bu" jawabnya riang. Aku merasa sangat beruntung memiliki anak laki-laki seperti William.


Esok paginya, aku mengantar William untuk pergi ke sekolah dan bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin kutemui.


"Kakek ... nenek!" teriak William tapi tidak mendekati ayah dan ibu.


"Willy, kakek merindukanmu" Ayah berusaha mendekati cucunya tapi ibu melarangnya. Dulu, kupikir ayah adalah orang jahat, tidak memberikanku kesempatan kembali ke keluarga saat dalam keadaan hamil. Tapi, kesulitan kak Lisa dan Cindy dalam mendapatkan anak, membuat William cucu satu-satunya di keluarga Hardy sampai sekarang.


Kurasa aku salah, karena seiring bertambahnya waktu, ayah menunjukkan kasih sayangnya pada William sedangkan ibu membuat jarak yang lebar diantara kami.


"Willy cepat pergi sekolah sebelum terlambat" kataku lalu membiarkan William berjalan dengan kakeknya ke arah sekoalah.


"Ayah dan ibu datang kemari karena memiliki permintaan padamu" kata ibu setelah kami bertiga duduk di meja makan dalam aparetemenku.


"Kita baru saja datang, Apakah apartemen ini tidak terlalu kecil untukmu dan William?" tanya ayah seperti khawatir.


"Apartemen ini cukup untuk kami berdua. Apa yang sebenarnya kalian akan minta padaku?" Aku tidak sabar melihat ibu yang seperti tidak ingin berlama-lama disini.


"Jangan pernah pulang ke rumah sampai pernikahan Hilda selesai dilaksanakan" kata ibu tanpa perasaan sama sekali.


"Aku tidak berencana pulang ke rumah dalam waktu dekat, ibu tidak perlu khawatir" jawabku lalu melihat ayah yang hanya bisa menunduk tak berdaya.


Karena rencana pernikahan Hilda, aku dan William tidak berhak berada di perusahaan Hamilton, kehilangan hak tinggal di apartemen dan kini tidak bisa pulang ke rumah keluargaku sendiri. kenapa rasanya aku dihukum?


"Juga, jangan pernah melamar pekerjaan di tempat-tempat milik keluarga Hamilton. Nyonya Besar tidak suka melihatmu berkeliaran di tempat yang biasa mereka datangi. Dan kalau kebetulan kau bertemu mereka, bertindaklah seperti tidak pernah mengenal mereka. Apa kau mengerti?"


Lagi-lagi nama nenek sihir itu seperti beredar di hidupku. Aku hanya bertemu dengan mereka satu kali setelah berhenti bekerja. Dan nenek sihir itu tidak suka? Dasar nenek tua menyebalkan.


"Aku mengerti" jawabku cepat, ingin segera mengakhiri pertemuan yang tidak menyenangkan antara orang tua dan anak ini.


"Tunggu, kita setidaknya bisa makan malam bersama William sebelum pulang" Ayah sepertinya masih ingin ada disini tapi ibu tidak sabar untuk meninggalkan apartemenku. Itupun baik untukku, aku bisa mulai bekerja melipas tas karenanya.


"Selamat malam, Daniel. Aku senang kau akhirnya datang" sapanya.


Perempuan ini sebenarnya memiliki wajah yang tidak jelek karena dia adalah sepupu Nora. Tapi segala prosedur kecantikan yang dilakukannya membuatnya menjadi terlalu dewasa untuk usianya.


"Selamat malam" hawab Daniel malas.


"Aku memesan makanan kesukaanmu, semoga kau menyukainya"


Daniel tidak memiliki cara lain untuk menghindari perempuan ini selain benar-benar menjalin hubungan dengan Nora. Tapi, Nora tidak menganggapnya sebagai pria. Apa yang harus dilakukan Daniel untuk menghindari semua ini.


"Bibi Sara sangat senang ketika aku datang ke rumah keluarga Hamilton kemarin lusa. Bibi memperlihatkan semua fotomu dari kecil sampai sekarang. Dan kau memang tampan sejak kecil, Danny"


Merasa muak, Daniel meletakkan garpu dan pisaunya lalu menatap tajam ke arah Hilda.


"Apa yang diinginkan keluarga Hardy dari pernikahan ini?"


"Apa? Apa maksudmu Danny? Aku tidak paham" jawab Hilda gugup.


"Aku bisa membantu keluargamu lepas dari semua hutang itu"


Hilda kini merasa sangat malu. Hilda adalah lulusan terbaik di Universitasnya tapi terpaksa merendahkan diri demi keluarganya. Semua ketidak pedulian Daniel menyakiti harga dirinya tapi tidak separah sekarang.


"Aku ingin menikahimu. Menjadi istrimu maka aku tidak perlu untu membantu keluargaku lagi" Jawaban Hilda sangat mengejutkan Daniel. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau Hilda memiliki tujuan ssperti ini.


"Aku tidak bisa membantumu kalau itu tujuanmu. Semoga berhasil" Daniel berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Hilda yang menggertakkan giginya. Ini sungguh memalukan, tapi Hilda harus melakukannya.


"Awasi perempuan itu, jangan sampai dia berbuat aneh!" perintah Daniel pada pengawalnya.


"Baik, Tuan"


"Pergi ke apartemen Nora. Aku merindukannya"


Daniel pergi ke apartemen Nora dan melihat semua tumpukan kertas yang menggungung itu. Wajah Nora yang terlihat kelelahan juga membuatnya khawatir.


"Apa yang kau lakukan? Apa semua ini?"


"Ibu mendapatkan pekerjaan ini di internet, tapi ternyata melelahkan sekali" jawab William yang memakai celemek.


"Kau tahu? Ternyata ini tidak masuk akal. Bagaimana aku bisa melipat tas sebanyak 250 buah kalau ingin mendapatkan uang 100 ribu per hari?" Nora seperti ingin gila. Dia merasa pusing melihat tumpukan tas yang belum terlipat sama sekali.


"Apa paman mau makan? Willy memasak mie instan yang enak"


Daniel benar-benar tidak bisa percaya kalau perempuan yang disukainya menderita sedemikian rupa, tapi masih dapat tersenyum cantik.