I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Terperangkap 1



Saat pikiranku melayang kemana-mana, Daniel membawaku pulang karena sekarang waktunya William pulang dari sekolah. Aku masih tidak percaya memakai cincin emas putih yang kukira sederhana itu. Setelah memperhatikannya dengan baik, tiap sisinya dipenuhi berlian berukuran kecil. Jariku terasa berat, bukan ... pundakku yang terasa berat. Rasanya ada beban seberat 76 kilo diletakkan di atas pundakku.


"Kenapa? Apa kau tidak suka cincinnya?" tanya Daniel lalu mengambil tangan kiriku dan memperhatikan cincin yang diberikannya.


"Ehh ... Daniel ... bisakah kita ... ehmm ... menganggap semua ini tidak terjadi" kataku gugup karena takut membuat Daniel marah. Dia merendahkan dirinya untuk melamarku di hadapan banyak orang. Dia juga sudah tega membuat ibunya marah karena itu. Dan sekarang aku memintanya menganggap semuanya tidak pernah terjadi.


"Maksudku, kita tidak saling mencintai dan menikah bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah diputuskan begitu saja. Iya kan?"


"Lalu?"


Ahh kenapa Daniel menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Aku jadi merasa bersalah mengatakan semuanya.


"Aku tadi ... hanya kesal dengan ibumu. Maaf, aku tidak tahu sebelumnya kalau kau adalah Daniel Hamilton. Dan semuanya terjadi begitu saja"


Susah sekali menjelaskan semuanya pada Daniel. Tapi, aku memang membuat keputusan menerima lamarannya karena kesal dengan semua ucapan ibunya. Dan aku tidak ingin menerima semua hinaan itu lagi di masa depan.


"Kita sudah sampai" kata Daniel lalu menatapku. Apa? Kenapa dia melihatku seperti itu?


"Apa kau tidak ingin pulang?" lanjutnya membuatku sadar untuk membuka pintu dan keluar dari mobil.


Saat aku berbalik dan ingin berbicara tentang hal ini lagi, mobil Daniel sudah berputar dan menjauh. Sepertinya, dia tidak ingin mendengarku. Bagaimana ini.


"Ibu!!" seru William dari kejauhan. Dia bersama Jacob ingin main di apartemen hari ini. Aku mengajak mereka masuk dan mempersiapkan camilan di dapur. Tapi, aku melepas gaun dan meletakkannya di kotak tempatnya beserta tas dan sepatu yang telah kupakai tadi. Aku harus mengembalikan semua ini beserta cincin yang ada di jariku ini. Dengan berat hati, aku segera melepas cincin itu dan meletakkannya di atas gaun lalu melihatnya. Nanti kalau Daniel datang lagi, aku harus mengembalikan semua seperti semula.


Cincin yang indah. Bertahun-tahun aku menginginkan lamaran yang indah seperti ini dari Reynold, ayah William. Tapi tetap saja tidak mendapatkannya. Semua impian pernikahan dan segala romantisme di dalamnya terlupakan begitu saja saat aku diharuskan bekerja keras untuk membesarkan William.


Dan janji Daniel untuk menjagaku serta William yang diucapkannya tadi terdengar sangat tulus. Meskipun kami tidak saling mencintai, rasanya aku tersipu dan berharap sedikit tadi. Indah sekali, benar-benar indah. Kedepannya, mungkin aku tidak akan bisa mendapatkan cincin seperti ini lagi dalam waktu dekat.


Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan berat lalu terdengar bahwa ada seseorang di depan rumah. William yang membuka pintu, berhadapan dengan seorang nenek tua yang anggun dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seperti burung unta. Ibu Daniel, Sara Hamilton.


"Jadi kau adalah anak dari Nora" katanya


"Iya, nenek ini siapa?" Aku segera berjalan ke arah William dan berdiri di sampingnya.


"Kembalilah ke kamar dan bermain dengan Jacob!" pintaku padanya. Tanpa bertanya, William menuruti permintaanku dan berjalan ke arah kamarnya.


Seorang Nyonya Besar keluarga Hamilton yang memiliki perusahaan besar datang dengan dua orang pengawal besar di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, apalagi setelah lamaran Daniel yang mengejutkan itu.


"Jadi ini apartemen kecil yang bisa kau sewa dengan pesangon dari perusahaan. Kecil sekali"


Dia masuk lalu melihat-lihat ke sekeliling apartemen dengan pengawalnya siap berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Apa yang Anda inginkan?" tanyaku malas melihatnya berkeliling di apartemen.


"Tentu saja kau tahu apa yang kuinginkan Nora. Bagaimana bisa wanita sepertimu menerima lamaran dari seorang pemuda yang baik seperti Daniel. Apa kau bermimpi menjadikan anak harammu itu pewaris perusahaan kami?"


Kata-kata yang merendahkan sekaligua menghina dari mulut Nyonya yang berkelas. Aku sangat heran, dimana dia mendapatkan pelajaran menghina orang setelah menikah dengan orang kaya.


"Sebenarnya, kenapa Anda membenci saya?" tanyaku heran. Hilda yang ingin menikah dengan anaknya, yapi aku mendapatkan semua hinaan yang keluar dari mulutnya. Dan yang lebih menyebalkan, tahu apa dia tentang kehidupanku selama ini.


Nenek sihir itu melihatku dengan mata lasernya dan tersenyum. Mengerikan sekali, aku tidak ingin melihatnya.


"Tentu saja karena kau sudah memiliki anak sebesar itu. Perbuatanmu menyebabkan keluargamu direndahkan oleh beberapa orang kalangan atas lainnya"


Apa? Memangnya dia siapa berani menilai perbuatanku dulu. Dan lagi, keluargaku memang tidak memperhatikanku sejak dulu. Bukan alasan mereka bisa malu karena perbuatanku padahal aku tidak pernah berada dalam acara apapun yang mereka hadiri.


"Dan lagi, darimana kau mengenal Daniel? Apa kau sengaja menggodanya lalu memiliki keinginan menjadi Nyonya muda keluarga Hamilton?"


Semakin banyak hinaan yang diutarakan nenek tua ini, membuat tekanan darahku naik.


"Bukankah seharusnya kau mengejar ayah anak itu ke Malta dan tetap tinggal disana? Tapi sayangnya laki-laki itu juga tidak mengharapkanmu"


Sudah. Sudah cukup aku mendengar nenek sihir tua ini bicara semaunya sendiri. Berbahaya kalau aku membiarkannya bicara lagi dalam waktu lama, karena anakku ada di dalam kamarnya.


"Awalnya, saya juga ragu menerima lamaran Daniel. Tapi, sekarang tidak lagi. Saya akan menikah dengan Daniel walaupun Anda dan semua orang menentang. Saya akan membuat William menjadi pewaris perusahaan dan menguasai semua kekayaan keluarga Clay" kataku membuat nenek sihir itu terdiam.


Sekarang, mau apa kau. Hah ??? Bisanya hanya mencerca dan menghina orang lain. Anakmu akan menjadi milikku dan semua kekayaanmu akan menjadi milik William. Aku akan mengusahakan agar semuanya terwujud sehingga nenek sihir itu terkalahkan. Hahahahaha.


Eh, kenapa aku jadi terpancing lagi. Bukannya tadi sore, aku ingin mengembalikan cincin ini pada Daniel. Kenapa sekarang begini lagi. Aduuh kepalaku menjadi pusing karena masalah anggota keluarga Hamilton ini.


"Dengar ya Nora. Aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian apalagi sampai ke pernikahan. Bagiku, Hilda adalah menantu yang kuakui" kata nenek tua itu lalu pergi meninggalkan apartemenku begitu saja.


Dasar. Ingin sekali aku melempar air kepadanya.


"Ibu. Siapa nenek tadi? Kenapa dia bilang kalau ayahku ada di negara lain?"


Ya, Tuhan ... aku lupa kalau tadi suara nenek sihir itu keras sekali. William pasti mendengar perkataannya dari dalam kamar. Kali ini, aku benar-benar dalam masalah. Jacob yang menemani William juga melihatku seperti menuntut penjelasan. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya?