I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Bertemu Lagi



Daniel berdiri setelah memastikan selimut William melindunginya. Aku hanya bisa melihatnya dari luar kamar karena tidak ingin merusak momen seperti itu.


"Kenapa?" Tiba-tiba saja, Daniel sudah berdiri di depanku.


"Tidak. Hanya terkejut melihatmu datang di tengah malam seperti ini. Dan lagi, kau sekarang tinggi sekali"


Pagi tadi, aku tidak memperhatikan. Kini Daniel terlihat lebih tinggi dari yang kuperkirakan. Tinggiku hanya sebatas dadanya, membuatku tampak sangat pendek dari sebelumnya.


"Apa lagi yang berubah dariku?" tanyanya membuatku memperhatikan Daniel dari atas sampai bawah.


"Tentu saja pakaianmu. Dulu, kau hanya memakai pakaian rumah sakit dan sekarang? Wah, Daniel sekarang tampak sangat keren" pujiku, membuat Daniel tersenyum.


"Apa wajahku tampak berbeda?"


"Sedikit lebih dewasa"


"Hanya itu? Aku kecewa sekali"


"Apa? Apa ada yang harus kukatakan selain itu?"


Saat kukira Daniel sudah ingin pergi, ternyata aku salah. Dia ke arah kamarku dan melihat-lihat lagi.


"Berapa lama kau bekerja di minimarket?"


"Belum lama, kira-kira seminggu" Aku tidak tahu kenapa menjawab pertanyaan Daniel terua menerus. Dan semakin lama, aku merasa sangat mengantuk.


"Apa kau berencana untuk lama disini?" Akhirnya, aku beranikan diri untuk bertanya pada Daniel.


"Apa kau mengusirku, Nora?"


"Hei, sepertinya umurku lebih tua darimu. Apakah pantas bagimu memanggilku seperti itu?"


"Lalu? Sayang? atau Honey?"


Hah? Kenapa dia ingin memanggilku seperti itu disaat kami tidak ada hubungan apapun. Mungkin Daniel menjadi semakin aneh saat malam semakin larut. Lebih baik aku menyuruhnya pulang.


"Daniel, maaf kalau aku tidak sopan. Tapi ini sudah tengah malam. Apa tidak lebih baik kau pulang sekarang?"


"Kau ingin aku pulang?" Daniel mendekat lagi dan aku kembali menjauh untuk menjaga jarak darinya.


"Aku harus bekerja besok dan begitu juga denganmu. Iya, kan?"


"Baiklah. Tapi luangkanlah waktu untukku besok malam"


"Oke. Kita bertemu besok malam. Tunggu, akan kucatat nomor ponselmu"


Daniel tidak ingin pergi dari apartemen ini kalau bisa. Dia memilih untuk lebih lama berada disini dan melihat betapa cantiknya Nora sekarang. Nora tampak dewasa karena merawat William sendiri. Tidak ada tanda-tanda Nira menikah dengan seseorang karena sama sekali tidak ada foto pernikahan di apartemen ini.


Itu berarti Hilda berbohong, entah diperintah oleh ibu atau karena keinginannya sendiri.


Perempuan yang dicarinya selama sepuluh tahun kini berjalan ke arahnya dengan membawa ponsel. Rambutnya yang panjang bergelombang berantakan karena tidur dan piyama berwarna biru itu membungkus badan semampai di baliknya. Hanya satu hal yang sama pada tubuhnya, menurut Daniel. Dadanya. Dada Nora masih besar dan terlihat sangat menggoda baginya.


"Berapa nomormu?" Tangannya yang putih dan terlihat terlalu bekerja keras terulur ringan. Sebagai putri kedua keluarga Hardy, bagaimana bisa dia hidup seperti ini. Dibandingkan dengan Hilda, Nira hidup seperti orang biasa. Apa semua itu karena William? Bayi yang pernah tidak diinginkannya?


Merasa tidak percaya, Daniel menarik tubuh itu kedalam pelukannya. Tentu saja tekanan pada dada Nora terasa sampai menusuk punggungnya. Nyaman sekali.


"Apa yang kaulakukan?"


Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Daniel dan melihat wajahnya yang memandang kasihan padaku. Sering sekali aku melihat ekspresi itu pada setiap rang yang kami jumpai. Mereka merasa bahwa aku adalah perempuan tidak beruntung karena memiliki anak diluar nikah.


"Kau belum memberiku nomormu" Sebenarnya aku malas berurusan dengan orang yang memandangku rendah. Tapi, Daniel sudah berjasa dalam memberi nama pada William.


Setelah memberikan nomor ponsel, aku mendorong tubuh besar dan tingginya keluar apartemen.


"Aku tidak perlu barang-barang ini, bisakah kau membawanya kembali?" Aku menunjuk pada lima bungkusan di dekat pintu.


"Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Sepertinya Daniel tahu kalau aku bersikap lain dari sebelumnya.


"Aku hanya tidak ingin dikasihani oleh orang lain" jawabku


"Ini sudah terlalu larut, sebaiknya kau pergi dan bawa semua ini kembali. Besok kita bisa bicara lagi tentang makan malam" lanjutku lalu menutup pintu di depan Daniel.


Apa aku terlalu memandang diriku lebih tinggi darinya? Tidak. Aku hanya tidak ingin William dipandang rendah karena hanya memiliki seorang ibu dalam hidupnya.


"Nora"


Aku mendengar suara Daniel dari balik pintu. Dia belum pergi juga rupanya. Saat aku ingin membuka pintu dan mengusirnya pergi, terdengar suara lagi yang membuatku ragu.


"Maafkan aku. Aku pasti sangat tidak sopan sehingga kau mengusirku pergi. Setelah melihat William, aku tahu kalau kau adalah ibu yang baik. Dia menjadi anak yang sangat tampan dan pintar. Aku akan menghubungimu lagi besok untuk membuat janji makan malam. Jangan mengabaikan pesan dan teleponku"


Aku terdiam dan mendengar langkah kaki Daniel yang menjauh. Saat membuka pintu, aku melihat semua bungkusan masih di tempatnya semula. Terpaksa aku membawanya kembali masuk dan melihat satu persatu dalam bungkusan. Daging, buah, mainan dan bunga tulip berwarna jingga yang sangat indah.


Sepertinya aku terlalu kasar padanya, bagaimana ini. Aku harus meminta maaf saat kami makan malam besok. Sekarang, lebih baik aku tidur dan cepat bangun untuk bekerja.


Pagi harinya, aku dan William kembali ke rutinitas semula. Pergi ke sekolah dan bekerja. Hanya ada satu yang lain dari kami. Sarapan kali ini lebih mewah karena daging pemberian Daniel. Saat William bertanya tentang menu mewah ini, aku beralasan mendapatkannya dari tetangga yang baru pindah semalam.


William berangkat sekolah dengan ceria karena daging dan aku bekerja dengan semangat.


Di apartemen Daniel Hamilton, tidak terjadi rutinitas seperti biasanya. Pengawalnya yang datang tepat waktu terkejut dengan wajah ceria tuan mudanya. Sejak pagi, tuan mudanya telah bangun dan makan makanan yang bergizi lalu siap pergi ke perusahaan.


"Tuan muda, apakah ada sesuatu yang terjadi tadi malam?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin semua pekerjaan selesai sebelum jam 5 sore. Tidak ada pertemuan dan pekerjaan lagi setelah itu. Atur untukku"


"Baik Tuan Muda"


Mereka pergi ke perusahaan pagi-pagi sekali dan mengejutkan banyak pegawai. Semua berkas diselesaikan Daniel sebelum jam makan siang. Senyumnya mengembang saat dia mencoba menghubungi Nora.


"Halo"


"Siapa?"


"Aku yang akan mengajakmu makan malam nanti"


"Daniel? Aku merasa tidak enak berbicara denganmu setelah mengusirmu kemarin malam"


"Kalau begitu, biarkan aku menginap di rumahmu nanti malam"


"Apa?" Nora terdengar terkejut dengan permintaan Daniel. Dia tetap mengembangkan senyumnya sampai pengawalnya tidak berani mengganggunya.


"Aku sudah memesan tempat untuk makan malam. Aku akan menjemputmu pukul 6 dan William sudah menerima mainannya?"


"Sudah. Dia senang sekali dan terima kasih atas yang lainnya. Kami bisa makan enak berkatmu. Dan juga, terima kasih atas bunga tulipnya, indah sekali"


Daniel merasa bangga dengan dirinya sendiri. Pilihan bunganya tidak akan salah membuat Nora bahagia. Rasanya, hari ini sangat indah untuk Daniel.