I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Tak Diduga



Hari ini, aku mengajak Willy, mencoba mengunjungi suatu tempat perbelanjaan yang baru saja dibuka. Setidaknya, itu membuat kami merasa sedikit lebih baik setelah lima hari yang sibuk.


"Lihat itu!" Aku membawa Willy ke sebuah arcade besar untuk bermain. Merasa malu karena selalu diikuti ibunya, Willy menyuruhku untuk menunggu di tempat lain.


Terpaksa aku mencari tempat untuk duduk dan mengawasi Willy kemanapun dia pergi.


Willy berdiri di depan sebuah arcade menembak dan menunggu dua paman yang memainkannya. Paman yang lebih kiri sangat hebat. Tidak ada satupun tembakannya meleset. Tepat di antara kedua alis, keren.


"Sama saja, nilaimu tidak akan pernah melebihiku"


"****. Brengsek kau"


Willy menatap kedua paman yang bicara seperti itu di tempat seperti ini.


Dan setelah kedua paman itu akhirnya melepas alat arcade, mereka melihat William yang berdiri di belakang mereka.


"Bukankah kau anak penyuka mobil itu?" tanya salah satu paman itu. William sangat terkejut melihatnya. Bagaimana bisa William bertemu dengannya lagi, dan yang lebih menakutkan adalah dia mengingatnya.


"Selamat sore, paman"


"Siapa dia?" tanya paman satunya.


Kedua paman itu sama-sama tinggi dan memakai pakaian aneh. Kenapa memakai jas ke tempat bermain anak seperti ini.


"Aku bertemu dengannya di perusahaan"


"Kenapa ada anak kecil di perusahaan?" Daniel mulai berpikir kalau pertanyaan Sam ada benarnya. Kenapa ada anak kecil di perusahaannya, saat itu. Ketika dia menoleh dan ingin bertanya hal yang sama, anak itu sudah hilang. Tidak terlihat dimanapun.


"Apa dia anak harammu?"


"Brengsek. Bagaimana caranya aku punya anak haram?"


Daniel dan Sam, temannya sejak kecil, memutuskan mengakhiri permainan mereka dan kembali ke acara peresmian sebuah tempat hiburan VVIP yang ada di bagian rooftop pusat perbelanjaan ini.


"Itu bukan anak yang tadi?" Sam menunjuk ke arah seorang anak laki-laki yang menarik tangan seorang perempuan dengan rambut cokelat. Mungkin itu ibunya. Rambut cokelat? Perempuan itu juga punya rambut cokelat bergelombang yang sama. Badannya juga ramping dan anaknya berumur 10 tahun.


Daniel dan Sam melihat keduanya berlari ke arah lift. Dan Daniel terpaku saat melihat wajah perempuan yang ditarik anak laki-laki tadi. Itu dia, dia ... memiliki rambut ... itu dia. Daniel segera berlari ke atah lift dan membuat Sam terkejut.


Sayangnya Daniel tidak tiba tepat waktu dan hanya bisa melihat wajah perempuan itu dari jarak tiga meter. Benar, itu dia. Perempuan yang dicarinya selama sepuluh tahun. Apa anak itu, monyet kecil? Daniel tidak membuang waktu dan segera turun dari lantai lima dengan tangga darurat. Sam yang penasaran, terus mengikutinya sambil sesekali memanggil namanya.


Dimana? Dimana?


Daniel sampai di lantai 4 dan menunggu lift terbuka. Tidak ada. Bagaimana bisa tidak ada. Tadi, Daniel benar-benar melihat anak itu dan perempuan itu naik lift ini. Apa dia salah? Apa dia hanya bermimpi?


"Danny, apa yang kau lakukan?"


"Kemana anak kecil tadi dan ibunya?" tanya Daniel ke pengunjung yang ada di lift.


"Sial ..." Daniel berlari lagi ke arah tangga darurat dan naik ke lantai lima. Lagi-lagi Sam mengikuti di belakangnya dengan sedikit mengumpat.


"Ya!!!! Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Sam kesal. Kenapa temannya ini seperti tersihir dan berlari kesana kemari hanya karena seorang anak kecil.


"Aku menemukannya. Dia ada di kota ini. Katakan pada ibu kalau aku punya urusan yang lebih penting!"


Ingin rasanya Sam menghentikan temannya itu, tapi langkah lebar dan ringan Danny saat berlari membuatnya malas. Bisa pingsan dia kalau mengikuti Danny. Apa sebenarnya yang ditemukannya? Kenapa dia sampai seperti itu?


Sam kembali ke tempat acara peresmian tanpa Danny, dan hanya bisa mengucapkan maaf karena bagi temannya itu, ada urusan yang lebih penting daripada harus berada disini.


Bibi Hamilton marah padanya, tapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sam. Danny-lah yang berkelakuan aneh sejak bertemu anak kecil itu.


Daniel berlari ke basement dan melihat semua mobil yang bergerak keluar. Itu ... mobil keluaran Jepang berwarna perak. Kata anak itu, mobil ibunya mirip seperti itu. Daniel bergerak cepat ke arah mobilnya, mengambil kunci dari palet dan menerjang keluar hanya dalam beberapa detik.


Dia berharap masih bisa melihat mobil perak itu, tapi terlambat. Mobilnya ternyata tidak bisa menyaingi kecepatan mobil kecil swperti itu. Sial ... sial ... sial. Hilang lagi.


Depan Mall


"Kenapa Willy menyuruh ibu cepat-cepat kemari? Kalau Willy masih ingin jalan-jalan, sebaiknya kita masuk saja lagi" kata Nora pada anaknya yang dari tadi berlaku aneh.


Mengajak pulang lalu naik lift, keluar lagi, masuk lift lagi dan pergi ke basement. Masuk mobil dan pergi dari pusat perbelanjaan, tapi akhirnya parkir di luar mall. Sungguh aneh sekali Willy, malam ini.


"Tidak, kita pulang saja, Bu. Sebelum ada hal buruk yang terjadi" William takut sekali melihat paman yang terus mengejar mereka itu. Apa yang akan terjadi pada ibunya di kantor, Senin lusa?


Tapi, paman itu tidak tahu namanya. William merasa agak tenang dalam perjalanan pulang. Ketika keluar dari mobil ibunya, William ingat kalau dia pernah mengatakan jenis mobil yang dimiliki ibunya pada paman menakutkan itu.


"Ibu, mulai besok jangan memakai mobil saat pergi ke kantor" kata William pada ibunya yang baru saja keluar dari mobil.


"Kenapa? Ada apa denganmu?" Aku memilih pergi ke lift dan melihat ke William dengan heran. Apa yang terjadi dengan anaknya?


"Bisa tidak, ibu tidak memakai mobil hanya sampai satu bulan?"


Aku tidak menghiraukan perkataan William dan segera masuk ke dalam apartemen. Rasanya hangat sekali di dalam, tidak seperti di mobil.


"Apa Willy malu karena ibu hanya bisa membeli mobil usang itu?"


"Tidak, Willy tidak bermaksud seperti itu" William susah menjelaskan alasan dia meminta ibunya untuk tidak memakai mobil ke kantor. Ini menyangkut sumber kehidupan mereka.


"Baiklah. Ibu tidak akan memakai mobil kalau Willy mau begitu" Nora mendapat pelukan hangat dari William karena dia setuju dengan usul anaknya. Walaupun alasannya tidak jelas, setidaknya Nora bisa mengabulkan hal semudah ini.


William akhirnya tidur dan Nora bisa melihat televisi dengan menikmati segelas jus jeruk yang dingin. Ada berita tentang seorang pengusaha kaya yang meninggalkan pestanya sendiri tanpa alasan. Bodoh sekali. Kenapa hal seperti ini dijadikan berita pada jam-jam santai.


"Keluarga Hamilton telah merencanakan pernikahan putra tunggal mereka. Diperkirakan, pernikahan ini akan menjadi sangat mewah dan besar" kata pembawa berita. Saat di televisi ditayangkan gambar Daniel Hamilton, sang pewaris perusahaan, Nora menoleh ke kamar anaknya.