I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Daniel Hamilton



"Saya belum bisa menemukannya, Tuan Muda"


"Apa kalian bodoh? Dia pasien yang memakai baju yang sama denganku. Dia masih ada di rumah sakit ini. Periksa semua CCTV dan cari dia. Aku ... belum sempat mengetahui namanya"


Harusnya Dabiel menanyakan nama perempuan itu dulu sebelum membiarkannya pergi. Dia tidak harus memerintahkan semua pengawalnya pergi berkeliling rumah sakit hanya untuk perempuan itu.


Daniel mengingat lagi rasa hangat saat bibir perempuan itu mendarat di keningnya. Hangat dan sangat kenyal. Dada yang besar itu tepat ada di depan matanya dan membuat adik kecilnya yang baru beranjak dewasa terpicu.


Sebagai anak seorang pengusaha otomotif terkenal, Daniel tidak akan terima kalau para pengawalnya gagal menemukan perempuan itu.


Daniel memeriksa ponselnya dan menemukan tiga pesan dari ayah, ibu dan neneknya. Anak dan cucunya kecelakaan, mereka hanya bisa mengirim pesan. Sungguh keluarga yang luar biasa.


Hamilton, nama keluarga Daniel adalah salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Kerajaan bisnis mereka dimulai dengan pabrik mobil peninggalan kakek buyutnya di Jerman. Kakeknya memutuskan untuk memiliki usaha lain yaitu suku cadang kendaraan bermotor.


Ayah Daniel, Lukas Hamilton yang merupakan satu-satunya anak dari kakeknya meneruskan perusahaan itu yang kemudian akan diteruskannya lagi pada Daniel. Tapi sebagai anak satu-satunya, Daniel yang masih berusia 18 tahun itu memilih menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman dan hobi motornya.


"Maaf, tuan muda. Kami melihat CCTV dan menemukan kalau perempuan itu masuk ke dalam ruang bayi di lantai lima"


Daniel sangat terkejut mendengar laporan dari pengawalnya. Perempuan itu memiliki bayi? Tidak mungkin. Daniel harus melihatnya sendiri.


Pagi-pagi sekali, Daniel keluar dari kamar tanpa sepengetahuan pengawalnya dan mendatangi ruang bayi di lantai 5. Tidak pernah sebelumnya, dia ingin tahu tentang seorang perempuan sampai seperti ini. Tapi, mata hijau perempuan itu sanggup membuatnya tidak bisa tidur sedetikpun.


"Daniel" Ini suara yang ingin didengarnya lagi dari semalam. Perempuan itu menampilkan leher putih yang ramping karena rambut panjangnya rapi diletakkan di atas kepalanya.


"Aku ... hanya ... "


"Apa Daniel suka anak-anak?"


Pertanyaan yang tidak pernah sekalipun didengar olehnya. Daniel adalah anak tunggal seperti ayahnya dulu. Temannya dari kecil adalah pengawal dan pelayan. Tapi sekarang, dia dihadapkan pada pertanyaan itu dan menjadi sangat bingung untuk menjawab.


Melihat kegugupannya, perempuan itu lalu berkata sesuatu yang mengejutkan.


"Aku dulu suka anak-anak, tapi kemarin tidak lagi"


"Lihat itu!" Perempuan itu mendekat ke tubuh Daniel dan tercium bau harum bunga di tubuh dan rambutnya.


"Itu anakku. Aku juga tidak menyukainya sampai semalam"


Hah?? Daniel benar-benar tidak mengerti tentang yang diucapkan perempuan itu. Anaknya? Tapi dia tidak suka pada anaknya sendiri?


"Aku melahirkan tanpa suami dan keluarga. Setelah melahirkan, aku mulai khawatir kalau aku tidak bisa merawatnya dengan benar" kata perempuan itu terus terang. Kenapa dia melahirkan tanpa suami dan keluarga?


Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya? Daniel sangat penasaran dengan yang terjadi pada perempuan itu, tapi dia tidak berani bertanya.


"Aku juga ada disini sendirian" kata Daniel mencoba menghibur. Mungkin Daniel terlalu muda dan kurang pengalaman untuk mengerti. Tapi, dia mengerti bagaimana rasanya diabaikan oleh keluarga sendiri.


Ayahnya selalu sibuk bekerja dan ibunya juga sibuk bersosialisasi kemanapun ayahnya pergi. Kakek dan Neneknya yang sudah pensiun juga terlalu sibuk dengan kemesraan mereka sendiri. Daniel tumbuh hanya dengan uang dari keluarga dan perhatian para pelayannya.


"Aku harus mengambil anakku. Apa kau mau bertemu dengannya?"


Perempuan itu masuk, mengambil seorang bayi yang memakai selimut biru dan topi beruang kecil. Perempuan itu tampak sangat gugup dan canggung menggendong anaknya.


"Ini dia, anakku" katanya lalu tersenyum dan sedih bersamaan.


"aku lupa kalau belum memberinya nama" kata perempuan yang menggendong monyet kecil itu.


"Benarkah? Kau belum memberinya nama?"


"Iya. Nama apa yang baik untuknya ya?"


Daniel berpikir sebentar dan ingat pada satu nama. Kakek buyutnya memiliki sahabat baik dari Inggris.


"Bagaimana kalau William?"


"William? Willy? Bagus juga. Akhirnya aku menemukan nama yang bagus untuknya. Terima kasih"


Suasana yang ganjil ini terasa sangat aneh bagi Daniel pada awalnya. Tapi setelah beberapa menit berlalu dan dia merasakan genggaman tangan kecil di jarinya, Daniel merasa sangat aneh. Ada rasa hangat seperti berada di sebuah keluarga yang sebenarnya. Seorang ayah, ibu dan anak.


Mata hijau perempuan ini bersinar menatapnya, membuatnya terlihat semakin cantik. Daniel mendekat ke arah perempuan itu dan ... terlihat siluet hitam di ujung matanya. Pasti pengawal mencarinya yang hilang secara tiba-tiba dari kamar. Sial ... seharusnya mereka datang lima menit lagi.


"Aku harus pergi"


Daniel bangkit dari duduknya dengan agak susah karena terlanjur nyaman berada di samping kedua otang ini.


"Iya, terima kasih atas namanya. Daniel" kata perempuan itu seperti ucapan perpisahan. Yah, mungkin, ini terakhir kalinya Daniel bisa melihat mereka. Dokter pribadi keluarganya telah memutuskan untuk membawa Daniel ke Jerman. Dia tidak akan bertemu mereka lagi.


"Monyet kecil, tumbuhlah menjadi anak kuat" sapa terakhirnya sebelum berjalan ke arah pengawalnya yang menunggu di lift.


Nora melihat ke arah Daniel pergi dan sangat terkejut dengan kehadiran empat orang berpakaian resmi lengkap. Mereka seperti bukan orang biasa. Apa Daniel penjahat?


Tidak ... tidak


Cara mereka memperlakukan Daniel dengan hati-hati memperlihatkan kalau mereka seperti pengawal Daniel. Anak laki-laki berumur delapan belas tahun itu ternyata penuh sekali dengan kejutan.


Pantas saja kalau dia menjadi tuan muda. Tinggi diatas rata-rata, wajah tampan, kulit terawat dan postur tubuh tegap kokoh itu tidak akan dimiliki sembarang orang.


"Untunglah sekarang kau punya nama Willy kecil. Namamu diberikan oleh orang yang tidak biasa" Nora senang melihat bagaimana bayinya bisa bereaksi dengan semua kata-kata yang diucapkannya. Rasanya ... aku tidak akan sendirian sekarang. Aku punya seseorang yang menemani di setiap harinya. William Hardy. Willy.


Di kamar rawat VVIP, dokter pribadi keluarga Hamilton sedang memeriksa keadaan kaki Daniel.


"Kau seharusnya tidak berjalan kesana kemari." Daniel tidak menghiraukan perkataan dokternya dan terus melihat ke arah luar jendela.


"Apa kau ada hubungan dengan perempuan itu?" Daniel sedikit bereaksi dengan pertanyaan itu.


"Apa anak itu adalah penerusmu?"


Daniel menatap kesal dokternya dan kembali melihat langit.


"Bukan. Seandainya saja iya, pasti aku akan senang sekali"


Tidak hanya dokter, suster bahkan semua pengawal Daniel terkejut mendengar ucapannya. Apa benar tuan muda berumur delapan belas tahun mereka mengatakan semua itu? Tuan mudanya menginginkan seorang anak? Bayi?


"Kita akan berangkat lima belas menit lagi. Helikopter sudah menunggu untuk mengantarmu ke jet"


Dokter meninggalkan Daniel dan pengawalnya yang masih heran.