I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Bersenang-senang



"Ibu!!! Lihat ini! Ibu ... Ibu"


Sudah satu jam tiga puluh menit aku menemani William dan Daniel berjalan di dalam taman bermain ini. Kenapa mereka tidak lelah sedangkan aku rasanya seperti ingin ambruk saja? Lagipula, siapa yang menciptakan taman bermain seluas ini? Kenapa mereka tidak memberi pengunjung mereka sepatu roda atau mobil mini untuk mengelilinginya.


"Nona Nora dapat beristirahat selama Tuan muda menemani Tuan muda kecil"


Martin, pria yang selalu menemani Daniel ini juga ikut bersama dua pengawal lainnya. Membuatku tidak nyaman ketika harus ketinggalan di belakang seperti ini. Dan, kenapa juga Martin selalu memanggil William dengan sebutan Tuan Muda kecil. William adalah anakku bukan anak Daniel.


"Apakah Willy ingin naik ini?" tanya Daniel pada William di depan wahana mobil gila.


Aku merasa sangat senang bisa melihat wajah tersenyum William sepanjang hari ini. Keberadaan Daniel benar-benar bisa membuat William lupa akan ayah kandung yang baru saja dia ketahui kemarin. Semoga saja William tidak pernah mengingat Reynold lagi dan melupakannya begitu saja.


"Kenapa kau terus melamun?" tanya Daniel yang kukira menemani William di dalam wahana.


"Kenapa kau melepas Willy sendiri disana?" Baru saja aku ingin berdiri dan berlari ke arah William, Daniel menarikku duduk kembali.


"Ada Martin yang menemaninya"


Aku melihat Martin yang baru saja berdiri di belakangku memegang kemudi mobil kecil itu dan menjaga keamanan William. Untunglah, aku pikir.


"Ada sesuatu di rambutmu" Daniel mengulurkan tangannya dan memeriksa kepalaku dengan kedua tangannya. Sebuah popcorn kecil yang sempat kami makan ditariknya kelyar dari rambutku.


"Terima kasih" kataku.


"Apa Nora tidak suka taman bermain? Dari tadi aku melihatmu mengeluh dan berjalan sangat lambat"


"Aku tidak pernah ke taman bermain sebelumnya, jadi aku sangat terkejut melihat tempat yang lebih luas dari lapangan sekolah William ini. Dan lagi, rasanya aku terlalu tua untuk menikmati semua permainan yang ada disini. Biarkan William saja yang menikmatinya"


"Apa kau berumur lima puluh tahun?" tanya Daniel membuatku kesal.


"Apa? Lima puluh? Apa kau bercanda?"


Daniel tersenyum padaku dan rasanya matahari bersinar lebih cerah hari ini. Awan tebal mulai berarak ke arah taman bermain ketika aku melihat ke arah langit, dan aku merasa hari ini cerah. Bodoh sekali, apa yang terjadi padaku?


"Nikmati semuanya kalau Nora belum pernah merasakannya. Ayo" Daniel menarikku dan aku terpaksa mengikutinya berdiri di samping wahana untuk melihat betapa senangnya William bermain.


Benar, sebaiknya aku menikmati waktu ini karena tidak tahu kapan lagi bisa melakukan semuanya.


Semua masalah seperti terangkat dari pundakku dan aku mulai melupakan tentang lamaran Daniel kemarin. Aku juga melupakan keberadaan cincin di jari manis kiriku yang melingkar erat. Kami bertiga, tidak ... berenam bermain sepuasnya di taman bermain sampai akhirnya masuk ke dalam bianglala besar yang selalu kuimpikan.


William naik dengan Martin dan aku terpaksa bersama Daniel dalam satu tempat.


"Beristirahatlah sebentar, bianglala ini akan berputar sangat lama" katanya membuatku bersemangat. Aku bisa melihat seluruh kota dari sini dan perlahan merasa takut karena jarak dengan daratan semakin menjauh.


"Aku tidak percaya kau tidak pernah ke taman hiburan sebelumnya"


"Benar, keluargaku pergi ketika aku harus melaksanakan ujian masuk sekolah dulu. Dan yang kutahu, mereka juga pergi saat aku berada di kota lain untuk kuliah" Memang menyedihkan, tapi benar kalau aku tidak pernah pergi ke taman bermain sebelumnya.


"Saat berkencan dengan ayah Willy, kalian tidak pergi kesini?" Aku melihat Daniel dan malas menjawab pertanyaannya. Pertanyaan yang berhubungan dengan Reynold selalu kuhindari sejauh mungkin.


"Tidak pernah. Sama sekali. Aku sungguh terkejut kalau seorang Tuan Muda sepertimu sering ke tempat seperti ini. Bukankah keluargamu sangat dijaga dengan baik?"


"Martin selalu memperbolehkanku pergi kemana saja, tentu saja dengan pengawasannya"


Pasti menyenangkan memiliki seseorang yang menemanimu sepanjang waktu. Bagiku, ada Lizzy yang selalu berada di pihakku dari kecil sampai sekarang. Tapi, Lizzy tidak bisa menemaniku sepanjang waktu seperti Martin. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa cemburu pada kehidupan yang dijalani Daniel.


"Apa kau ingin melihat sesuatu yang sangat indah?" tanya Daniel. Apa ada yang lebih indah dari melihat seluruh kota dari atas sini?


"Apa itu? Dimana?"


"Tutuplah sebenar matamu, dan aku akan menunjukkannya"


Perkataan Daniel terdengar seperti tipuan bagiku. Tapi, karena ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini, mungkin Daniel mengetahui spot yang lebih indah dari semua ini. Aku menuruti permintaannya dan menutup mata. Terasa kabin tempat kami duduk bergoyang dan udara hangat memenuhi napasku. Perlahan, sesuatu yang lembut menyentuh bibirku dan aku tahu apa itu.


Mataku terbuka dan wajah Daniel berada tepat dihadapanku. Ciumannya terasa begitu lembut, membuatku tidak bisa menolak atau mendorongnya. Terasa ciuman Daniel semakin menekan dan aku terpaksa meremas baju yang dia pakai hari ini.


Aku mulai membalas ciuman Daniel dan tanganku semakin menarik baju hangatnya yang terasa lembut di tanganku. Dan sesuatu yang tidak kupikir akan terjadi, terjadi. Tangan Daniel mulai masuk ke dalam baju hangatku dan menyentuh kulit punggungku yang dingin. Aku melenguh sebentar dan tidak ada jarak diantara kami lagi.


Namun, tangan Daniel tidak berhenti disitu. Dia mulai meraba semua punggungku lalu turun ke bawah menuju ... . Aku segera mendorongnya dan berpindah tempat duduk.


"Maaf, aku pasti sudah gila" Aku seharusnya tidak pernah menutup mata saat dia memintanya. Aku juga seharusnya naik di dalam kabin bersama dengan William, bukan bersamanya.


"Tidak. Aku yang minta maaf. Aku terlalu terbawa suasana" Satu hal yang tidak ingin kau dengar dari seorang pria yang menciummu adalah, aku minta maaf. Dan Daniel mengucapkannya dengan sangat mudah.


"Iya, pasti kita hanya terbawa suasana" kataku lalu tertawa aneh. Aku tidak berani melihat wajah Daniel lagi sepanjang bianglala itu memutar sampai kami keluar.


"Ibu, Willy senang sekali" Aku tersenyum dan memeluk anakku. Aku disini datang untuk menemani William, seharusnya aku berada tepat disampingnya selalu.


William mengajakku membeli es krim dan kami membelikan untuk semua orang. Perjalanan yang mendebarkan itu berakhir setelah kami memakan habis es krim. Dalam perjalanan pulang, William tertidur dengan pulas di pangkuanku. Wajahnya senang sekali, bahkan saat tidur.


"Dia tertawa dalam tidur?" tanya Daniel. Kata pertama yang kudengar sejak kami keluar dari bianglala tadi.


"Iya. Willy memiliki kebiasaan yang aneh. Selalu tertawa dan bicara saat tidur. Padahal aku tidak pernah melakukannya" jawabku santai. Hari ini sangat menyenangkan dan melelahkan. Walaupun kakiku terasa sangat sakit, aku senang William bisa menikmati semuanya.


Tak berapa lama aku mulai mengantuk dan kepalaku terkulai dengan bebas. Sebuah tangan besar menopangnya lalu menyandarkanku di dadanya yang bidang. Hangat sekali. Sangat hangat.