
"Bisakah kau berhenti?" pintaku pada Daniel yang terus menerus memberikan nasehat tentang pria dan sifatnya yang jahat. Dia tidak sadar kalau dia juga pria.
Akhirnya Daniel berhenti bicara dan melihatku.
"Ini sudah pukul 11 malam dan Willy juga tidur. Apa kau tidak ingin pulang?" tanyaku kesal. Baru kali ini aku mendengarkan nasehat sepanjang ini, dan itu dari laki-laki yang berumur lebih muda dariku.
Tapi, kalau dilihat baik-baik, Daniel terlihat sangat tampan. Rambut hitam kelam, mata yang menatap tajam dengan alis menukik mempertegas raut muka laki-lakinya. Dia benar-benar berubah menjadi ptia dewasa sekarang, tidak seperti anak kecil yang marah pada dunia sepuluh tahun lalu.
Saat Daniel membalas pandangan mataku, entah kenapa rasa malu membuatku canggung.
"Aku akan melihat Willy lalu pulang" kata Daniel lalu pergi ke kamar William.
Punggung lebar itu rasanya pasti menyenangkan untuk disandari. Dan pelukan Daniel juga hangat, seperti ... . Apa yang kupikirkan? Kenapa aku memikirkan ini? Aku lebih tua lima tahun darinya dan sangat tidak pantas bagiku berpikir yang macam-macam.
"William tertidur pulas, sepertinya capek sekali" kata Daniel yang keluar dari kamar William.
"Iya, dia bermain dodgball dengan Jacob di sekolah"
"Kita hanya berdua sekarang"
"Ha?? Iya. Apa maksudmu?"
"Tidak. Aku akan pulang. Tapi ... kutegaskan lagi padamu, Nora. Tidak akan ada pria lain yang akan mengajak kalian makan malam selain aku. Terlalu berbahaya. Mengerti?"
"Iya ... iya. Aku mengerti. Aku akan makan malam dengan William di rumah saja mulai saat ini. Puas?" jawabku kesal.
"Aku sangat khawatir datang ke apartemen ini dan tidak ada yang membuka pintu untukku"
Jadi, Daniel sudah ada disini sebelum kami kembali dari makan malam? Kenapa dia tidak menghubungiku?
"Okay. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk ... " Daniel membelai pipiku dengan lembut, membuatku sangat terkejut.
"Iya. Kau memang berhutang maaf padaku. Aku akan pulang. Besok kita bertemu lagi"
Belum sempat aku mrnanyakan maksudnya membelai pipiku, Daniel sudah menghilang. Badan tinggi besarnya bahkan tidak terlihat lagi di lorong apartemen.
Walaupun bersikap aneh, senang rasanya Daniel mulai hadir di kehidupanku dan William. Setidaknya, William memiliki teman laki-laki selain Jacob dan ayahnya. Saatnya aku untuk tidur. Besok pagi, aku harus mulai mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang lebih dari minimarket.
Sekitar sepuluh hari mencari pekerjaan, aku dipanggil wawancara di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang medis. Memang jabatan yang kuinginkan sedikit lebih tinggi daripada perusahaan sebelumnya. Tapi aku percaya bisa melalui wawancaranya dengan baik.
Menjadi marketing sebenarnya bukan keinginanku. Namun, kebutuhan hidup membuatku harus melakukan ini. Kalau aku bisa bekerja disini, maka biaya sekolah dan apartemen untuk satu tahun ke depan tidak akan menjadi masalah lagi.
Sayangnya, yang bersaing denganku tidaklah sedikit. Kebanyakan dari mereka masih berusia 21 sampai 25 tahun dan yang paling penting adalah belum menikah serta memiliki anak.
Jadilah, wawancaraku berakhir dengan kegagalan. Aku berjalan mengelilingi taman kota untuk meringankan beban pikiran. William tidak boleh melihatku sedih.
"Kak Nora" Aku menoleh ketika mendengar namaku dipanggil.
Hilda, sepupuku yang wajahnya kini tidak dapat lagi kukenali berdiri di depan butik mahal. Padahal kelyarganya menumpang makan pada ayah dan ibu. Tapi, dia hidup drngan lebih baik daripada aku.
"Hilda? Aku tidak mengenalimu tadi"
Aku membungkus kemeja putih dan rok hitamku dengan mantel lebih erat lagi karena merasa malu.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyaku berusaha mengalihkan pandangan mata Hilda dari pakaianku.
"Aku sedang berbelanja dengan calon ibu mertuaku"
Calon ibu mertua? Tunggu. Jadi, Hilda berbelanja dengan nenek sihir yang mengusirku dari perusahaannya?
Dan sedetik kemudian, nenek sihir tua itu keluar dari butik dengan wajah tersenyum yang menyebalkan.
"Hilda, ini gaun yang kau inginkan. Tunggu, apa yang kau lakukan disini?"
Huh. Nada nenek sihir ini ternyata masih sama seperti sebelumnya. Apa sebenarnya salahku sampai harus mengorbankan segalanya demi pertunangan Hilda dan anaknya.
"Aku berjalan dan dipanggil oleh Hilda. Aku memiliki telinga jadi aku menoleh" kataku kesal.
"Dasar perempuan tidak punya sopan santun. Pantas saja keluarga Hardy mengusirmu dari rumah karena kelakuanmu yang menghasilkan anak haram itu"
Apa?? Apa yang nenek sihir ini katakan?
"Hei wanita tua. Bukan berarti kau adalah orang kaya, pemilik perusahaan lalu bicara seenaknya seperti itu. Kau boleh menghinaku tapi tidak dengan anakku. Padahal kau juga seorang ibu. Kasihan sekali anakmu, memiliki ibu seperti nenek sihir" kataku lalu meninggalkan keduanya yang terdengar marah.
Hilda akan menikah dengan anak nenek sihir itu? Kudoakan mereka tidak jadi menikah dan hal itu akan membuat nenek sihir sepertinya menderita.
"Ibu kenapa?"
Aku melempar tas ke arah kamar tanpa masuk ke dalamnya, membuat William yang baru saja pulang dari sekolah merasa terkejut.
"Ibu bertemu nenek sihir jahat dan anak buahnya" jawabku singkat lalu mulai memasak.
Hasilnya adalah makanan yang rasanya sangat tidak enak. William merasa takut bila tidak memakannya, tapi aku menghalanginya.
"Ibu akan membuat mie instan saja"
Malam itu, makan malam kami adalah mie instan. Aku membantu William mengerjakan pekerjaan rumah lalu melakukan pekerjaan rumahku sendiri.
"Tuan muda, ini sudah malam. Dan kita baru saja tiba dari Eropa. Bukankah seharusnya Tuan muda beristirahat"
Di apartemen Daniel terlihat kesibukan setelah hampir dua minggu tuan rumah mereka berada di luar negeri. Daniel sebenarnya malas pergi keluar negeri karena tidak bisa bertemu William dan Nora. Tapi, tidak ada yang bisa mewakilinya karena ayahnya memutuskan pensiun beberapa tahun yang lalu.
"Aku akan pergi besok pagi. Jangan menggangguku" kata Daniel kesal. Sudah lebih dari dua minggu dia tidak melihat Nora, rasanya ingin sekali menginap di apartemen mereka. Bukan di apartemennya sendiri.
Pagi harinya, Daniel tidak peduli pada perusahaan dan segera pergi ke lingkungan rumah Nora. Karena bangun terlalu siang, Daniel tidak bisa melihat William yang pergi ke sekolah. Karena sangat ingin bertemu, Daniel pergi ke minimarket tempat Nora bekerja.
"Ternyata kau mencari kerja di tempat lain setelah pulang dari sini. Sia-sia saja aku peduli karena kau memiliki anak. Lebih baik besok kau tidak perlu bekerja disini lagi!" teriak seorang pria tua yang memakai jas kepada Nora. Disamping teriakan, sebuah amplop juga melayang ke arah Nora tepat di dadanya.
Tanpa melawan, Nora mengambil amplop itu dan berlaku seperti tidak ada yang terjadi. Daniel tidak pernah melihat ekspresi tenang Nora yang tidak menyiratkan kekesalan sama sekali. Seberapa seringkah Nora mengalami hal ini? Sampai dia tidak memiliki ekspresi sama sekali ketika diberhentikan oleh pemilik minimarket.