I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Hidup Baru



Setelah rapat pemegang saham berakhir, Daniel memerintahkan Kepala Departemen Human Resources untuk mendata setiap pegawai dan mobil yang dimilikinya.


"Kenapa harus mendata mobil yang dimiliki pegawai, Pak? Apa Presdir menyelidiki tentang sesuatu di dalam kantor?" tanya pegawai HRD kepada Kepala Departemennya.


"Mana kutahu. Tapi itu perintah Presdir, kita tetap harus melaksanakannya"


Dan tanpa penjelasan, seluruh pegawai HRD mulai melakukan pendataan. Karena pegawai perusahaan sejumlah 1500 orang, pegawai HRD membutuhkan lebih dari tujuh hari menyelesaikannya. Saat itu, nama Nora Hardy sudah masuk ke dalam kotak karyawan lama. Tidak ikut masuk ke dalam laporan yang diserahkan oleh Kepala HRD kepada Presdir.


"Apa ada yang memakai mobil Jepang berwarna perak?" tanya Daniel pada Kepala HRD.


"Ada Pak, sekitar tiga sampai empat orang" Kepala HRD menunjukkan foto pegawai yang memakai mobil keluaran Jrpang berwarna perak pada Daniel. Tapi tidak ada perempuan yang dicarinya di dalamnya.


"Apa ada pegawai lain yang belum didata?" tanya Daniel kesal. Bagaimana bisa tidak ada perempuan yang dicarinya.


"Tidak ada, Pak. Semuanya sudah didata dan tidak ada yang terlewat. Sampai Office boy dan pegawai pembersih kaca, semua sudah kami data" jawab Kepala HRD gugup. Dia takut menghadapi kemarahan Predir yang baru empat tahun dilantik ini.


"Pergilah!!"


Tentu saja kepala HRD segera pergi dari ruangan Presdir dan merasa gagal dalam.pekerjaannya. Tapi, apa sebenarnya yang dicari Presdir? Pegawai yang memiliki mobil Jepang berwarna perak? Untuk apa mencari orang dari mobilnya? Bukannya dia Presdir kaya yang dikenal semua orang.


Daniel merasa sangat marah karena tidak bisa menemukan perempuan yang dicarinya selama sepuluh tahun. Padahal dia melihat perempuan itu di depan matanya. Dasar monyet kecil, aku tidak akan mengampunimu kalau kita bertemu nanti. Ibumu adalah milikku.


"Siapa yang sedang kaucari sebenarnya? Sampai membuatmu marah seperti ini?" Ibu Daniel masuk ke dalam ruangannya saat banyak berkas berceceran di lantai.


"Ada apa ibu kemari?" tanyanya malas.


"Ibu ingin kau bertemu keponakan teman ibu. Keluarga Hardy. Besok malam di tempat biasa"


Masalah perjodohan lagi, rasanya Daniel muak dengan semua perempuan yang dipersiapkan ibunya.


"Aku harus ke Mesir, melihat pabrik baru disana. Baru pulang satu minggu lagi" kata Daniel lalu pergi meninggalkan ruangan berantakan dan ibunya yang kesal. Susah sekali membuat anak itu menurut.


Disaat Daniel melakukan perjalanan ke Mesir selama tujuh hari enam malam. Nora masih membereskan barang dan mencari tempat baru untuk tinggal.


Untung saja, aku sudah berhenti bekerja di perusahaan nenek sihir itu. Dengan begini, aku bisa melihat-lihat rumah dan apartemen yang sesuai dengan uang dan kebutuhan. Karena berada di dekat sekolah, banyak swalayan dan restoran kecil yang membuka lowongan pekerjaan.


Aku benar-benar beruntung, selain mendapat apartemen murah, pekerjaan pun bukan menjadi masalah sekarang.


Memang, aku harus bekerja di swalayan yang gajinya hanya cukup untuk membuat kami hidup dalam satu bulan. Aku harus menyimpan banyak uang untuk pelajaran William nanti.


"Kapan kita akan pindah kemari, Bu" William terkesan senang dengan rencana kami pindah. Itu karena rumah temannya Jacob juga berada di lokasi yang sama.


"Besok. Ibu juga sudah membeli tempat tidur, lemari es kecil dan almari. Untuk yang lain, sepertinya kita harus menahannya." kataku agak sedih.


"Tidak apa. Aku senang. Tempat ini sangat bagus" puji Willlian.


"Kita harus bersiap untuk besok. Tidak ... ibu yang harus bersiap, Willy tetap harus belajar" kataku lalu mengajak William makan di sekitar apartemen.


Besoknya, aku memanggil jasa pindahan setelah William pergi bersekolah. Semuanya sudah siap diangkut dan dipindahkan ke tempat baru. Aku melihat lagi apartemen mewah yang dibelikan ayah. Setidaknya, sekarang aku tidak perlu membayar biaya perawatan mahal apartemen ini.


"Apa sudah semua Miss?" Aku mengangguk senang karena merasa muda dipanggil seperti itu.


"Sudah" jawabku dengan tersenyum


"Kursi dan yang lain?"


"Itu bukan milik saya. Saya akan menunggu di bawah. Tolong saya membawa semuanya, Pak"


Aku segera turun ke lantai satu menggunakan tangga darurat dan berpapasan dengan seseorang yang sedang berlari di tangga. Aneh sekali, olahraga di tangga darurat. Orang itu melewatiku dan aku tidak peduli.


"Miss bisa ikut kami, kita akan ke tempat yang sama" Aku mengangguk setuju dengan ide pegawai jasa pindahan. Setidaknya, aku tidak perlu keluar ongkos taksi untuk pergi ke apartemen baru.


Daniel merasa pernah mencium aroma saat perempuan dari lantai lima itu lewat. Tapi, musik yang sedang diputar di ponsel, menghalanginya untuk bisa melihat perempuan itu dengan baik.


"Siapa yang pindah?" tanya Daniel pada pengurus gedung yang menerima kunci dari Nora.


"Nora Hardy, salah satu anak dari keluarga Hardy" Daniel ingat nama keluarga itu karena ibunya selalu mengingatkannya untuk bertemu dengan keponakan Nyonya Hardy.


"Kenapa dia pindah? Apa ada masalah dengan apartemennya?" tanya Daniel serius. Kenapa salah satu anggota keluarga kaya itu keluar dari gedungnya.


"Saya tidak yakin bisa mengatakan ini. Tapi, Miss Hardy berkata kalau ibunya sedang gila"


Daniel tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa seorang anak keluarga kaya mengatakan hal itu kepada orang asing. Apalagi, yang dihinanya adalah anggota keluarganya sendiri. Sepertinya, Daniel harus lebih memperhatikan perjodohan kali ini.


Daniel masuk ke dalam apartemennya dan menghubungi asisten pribadi sekaligus pengawalnya.


"Cari semua informasi tentang Hilda Hardy yang akan bertemu denganku malam ini!"


"Baik, Pak. Saya akan mengirimkannya dalam lima belas menit" Daniel masuk ke dalam kamarnya dan mencari setelan jas yang akan digunakannya ke kantor hari ini. Sesudah mandi dan memakai jasnya, Daniel mendengar dering ponsel.


"Saya telah mengirimkan semua data tentang Nona Hilda Hardy" kata pengawalnya. Daniel segera membuka data itu dan terkejut dengan foto perempuan yang dilihatnya. Warna mata hijau, kulit putih dan rambut cokelat yang sama. Apakah ini kebetulan atau ... .


Daniel tidak perlu menebak jawaban atas pertanyaannya karena data yang diberikan pengawalnya sangatlah lengkap. Termasuk foto Hilda Hardy sebelum menjalani operasi. Keluarga Hardy benar-benar ingin dia menikah dengan penipu seperti ini. Ibunya sungguh ingin membuatnya menikah sampai menyuruh temannya melakukan semua ini.


Daniel berdiri di samping mobilnya dan merasa sangat aneh. Perempuan yang dilewatinya di tangga tadi juga memiliki rambut coklat berombak yang panjang. Apakah mungkin?


Daniel pergi ke tempat pengurus gedung dan menanyakan mobil yang dipakai Nora Hardy saat tinggal disini. Walaupun bingung, pengurus gedung menjawab dengan santai.


"Mobil Jepang berwarna perak"


Daniel merasa sangat bodoh bisa kehilangan perempuan itu di depan matanya.


"Apakah kau tahu keman Nora Hardy pergi? Tempat tinggal barunya?" tanya Daniel.


"Tidak, maaf Tuan Muda"


Walaupun belum pasti kalau perempuan itu adalah Nora Hardy, Daniel merasa harus mencari tahu. Nora Hardy, Daniel tidak sabar dengan perjodohan selanjutnya yang akan dia lakukan.