
Selama lima hari berada di Tiongkok, Daniel terus menerus merenungkan perbuatannya selama ini. Dia tetap menunggu pertemuan dengan perempuan yang dicarinya selama sepuluh tahun.
Walaupun ibunya menyebalkan, keinginannya ada benarnya juga. Daniel sebentar lagi berusia 29 tahun dan belum juga memiliki kekasih atau calon istri. Mungkin, hal inilah yang membuat ibunya khawatir dengan orientasi seksualnya.
"Tuan muda, saya minta maaf. Sepertinya saya harus pergi ke toilet sebentar. Bisakah kita berhenti sekitar lima menit saja?" kata pengawalnya yang dari tadi terus memegang perutnya.
"Kenapa kau menahannya saat kita di bandara? Bodoh. Pergilah!"
Pengawalnya turun ke sebuah minimarket kecil dan aku melihat daerah itu dari dalam mobil. Lingkungan yang sangat ramai, ada sebuah sekolah dasar di ujungnya. Banyak sekali pedagang dan orang yang berlalu lalang sedari tadi.
Sungguh menyenangkan menjadi orang biasa seperti mereka. Tidak perlu memikirkan tentang bagaimana meneruskan bisnis dan bingung dengan masalah calon istri yang akan mengandung keturunan mereka.
Seorang perempuan keluar dari minimarket dan Daniel terkejut. Bukankah itu?
Apa dia terlalu banyak berpikir tentang semua masalah dan melihat dengan salah?
Itu rambut cokelat panjang yang diikat, mata berwarna hijau yang sayu dan ... tidak mungkin. Apakah dia bisa menemukan perempuan itu dengan semudah ini? Daniel keluar dari mobil dan menghampiri perempuannyang sedang menata kaleng minuman di luar minimarket. Tanda promo diletakkannya di atas semua kaleng itu lalu melewati Daniel begitu saja.
Daniel masuk ke dalam minimarket dan mendekat ke arah kasir. Perempuan itu sibuk membersihkan tempat kerjanya yang kecil dan mulai berdiri tegak saat Daniel mendekat.
Matanya yang hijau menatap Daniel tanpa ragu lalu bibirnya bergerak-gerak seperti ombak yang tenang.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya tenang.
"Apa kau tidak ingat padaku?" Terlihat wajahnya sangat bingung, Daniel tersenyum melihatnya.
"Saya tidak pernah mengenal seseorang yang memakai setelan jas mahal seperti Anda. Maaf, kalau Anda tidak berniat membeli sesuatu, bisakah ... "
"Apa monyet kecil sedang ada di sekolah?"
Daniel sangat terpesona melihat semua gerakan halus yang dibuat oleh perempuan ini.
"Siapa Anda?" tanyanya
"Aku yang memberi nama William pada monyet kecil"
Mata berwarna hijau cerah itu terbuka lebar dan perempuan itu akhirnya menyebutkan namanya.
"Daniel?"
Sepuluh Menit Sebelumnya
Ada sebuah mobil mewah yang terparkir di depan minimarket lalu seseorang masuk ke dalam minimarket menanyakan keberadaan toilet. Yah ... kalau memang ingin keluar ya harus dikeluarkan.
Tapi, mobil itu benar-benar merusak pemandangan di depan minimarket. Keluarga kaya siapa yang memiliki mobil import mahal itu? Ahh ... itu tidak ada kaitannua denganku. Biarkanlah mereka disitu.
"Nora, letakkan tanda ini di depan toko. Diatas semua kaleng minuman soda itu. Karena udara semakin dingin, penjualan minuman bersoda kami turun drastis. Baru saja keluar dan kembali menata soda, ada seruan dari beberapa penjaga toko jajanan di sekitar minimarket. Aku melihat pandangan mata para pedagang yang jatuh kepada seorang laki-laki tinggi dan tampan namun bergaya kelas atas.
Rupanya, dia yang ada di dalam mobil mewah itu. Sepertinya dia masih muda tapi sudah membawa mobil mewah seperti ini, pasti karena orang tuanya memang kaya raya. Tapi, kenapa dia melihatku dengan tersenyum aneh.
Sampai aku masuk ke dalam minimarket dan kembali bekerja, dia masih tersenyum lalu mengikutiku. Dan pengakuannya sangat mengejutkan bagiku. Aku masih mengingat dengan jelas siapa yang memberikan nama William pada anakku.
Dia adalah laki-laki muda yang kecelakaan dan kakinya terluka sepuluh tahun lalu. Apakah aku bermimpi? Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan seseorang yang mau mendengarkanku saat hidupku hancur.
Laki-laki itu tersenyum dan aku segera mendatanginya.
"Aku tidak percaya, kau masih mengingatku?" tanyaku membuatnya berdiri tegak dan memperlihatkan betapa tegap dan tinggi badannya.
"Akhirnya, apakah aku bisa mengetahui namamu?"
Ahh, aku lupa. Sepuluh tahun lalu, kami memang tidak pernah berkenalan. Yang kutahu hanya namanya saja dan dia tidak mengetahui namaku.
"Nora, Nora Hardy. Senang sekali bertemu denganmu" Aku memeluk Daniel dan buru-buru melepasnya karena merasa bahwa aku melakukan kesalahan.
Daniel tidak bisa mempercayai pendengarannya. Nora Hardy? Jadi benar, perempuan yang berpapasan dengannya itu adalah perempuan yang dicari-carinya selama ini. Dan seharusnya, dia bisa menemukannya dengan mudah.
"Kenapa?" tanyaku setelah melihat Daniel termenung.
"Tidak apa. Dimana William?"
"Willy? Dia bersekolah, disitu. Apa kau ingin bertemu dengannya? Tapi dia masih bersekolah dan sepertinya kau sibuk" Aku melihat seorang pria yang menanyakan toilet berdiri dengan sopan di belakang Daniel.
"Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanyanya dan aku baru sadar kalau dari tadi, Daniel tidak melepaskan pegangan tanganku.
"Iya, baru saja pindah beberapa hari lalu. Apartemen di dekat sini" jawabku.
"Mana ponselmu?"
Hah?? Aku mengeluarkan ponsel dari kantung celana dengan satu tangan dan memberikannya pada Daniel.
"Tidak ada pasword?" Aku menggeleng, ponsellu tidak pernah memiliki pasword karena Willy selalu bisa membukanya.
"Aku akan menghubungimu. Pasti. Sekarang ada pekerjaan yang harus kulakukan. Tidak, aku akan datang ke apartemenmu nanti malam. Apa kau maaih bekerja nanti malam?"
Aku merasa sangat bingung dengan pertanyaan yang datang bersamaan dari Daniel dan tanganku belum juga dilepaskan olehnya.
"Tidak bekerja nanti malam. Tapi ... bisakah kau melepaskan tanganku?"
Daniel melihat sekilas ke arah tanganku dan seakan tidak peduli dengan keinginanku. Kenapa laki-laki yang umurnya jelas lebih muda dariku ini aneh sekali.
"Aku tidak akan melepasmu mulai sekarang" katanya membuatku semakin tidak mengerti. Apa maksudnya tidak melepasku?
"Tuan muda, pihak Cina menghubungi kalau mereka sudah sampai di perusahaan" lapor pria yang ada di belakang Daniel. Tuan muda, panggilan yang terdengar sangat berkelas. Melihat dari mobil mewahnya, sudah pasti dia kaya.
"Aku pasti akan datang menemuimu. Tunggu aku" Daniel menyeretku ke depan minimarket dan baru melepaskan tanganku saat dia masuk ke mobil. Apa-apaan laki-laki ini, kenapa dia aneh sekali.
Sedetik setelah aku masuk kembali ke minimarket, ada pesan masuk ke ponselku.
'Ini Daniel, simpan nomorku dan jangan sampai menghilangkannya. Setiap kali aku menghubungi, kau harus menjawabnya. Dan setiap saat aku ingin menemuimu, kau harus merasa senang dan menyambutku dengan senang. Senang rasanya bisa bertemu lagi denganmu'
Aku melihat pesan ini dengan tidak nyaman. Apa sebenarnya yang Daniel pikirkan? Kenapa laki-laki ini menjadi sangat aneh seperti ini.
Meskipun aku juga senang karena bertemu dengannya, kami bukanlah diri kami yang dulu. Setelah sepuluh tahun, aku sudah berubah dari ibu yang tidak bisa dipercaya menjadi ibu yang harus bekerja keras. Sedangkan dia? Sepertinya dia baik-baik saja dengan semua barang-barang mewah itu.