I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Menyesal



Sara melihat kedekatan antara ketiga orang yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dan Martin, pengawal dan asisten Daniel terlihat sangat lega setelah mengetahui anak kecil itu berada di pelukan ibunya.


"Ayo kita pulang" kata Nora lalu berdiri dan menarik anaknya. Sayangnya, William tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri.


"Aku tadi berjanji akan tetap disini dan menunggu kakek tua datang setelah rapat" jawab William membuat Nora menampilkan wajah berkerutnya. Daniel melihat ke arah Sara dan meminta penjelasan.


"Ayahmu, mengajaknya masuk ke dalam lumbung dan menjanjikan sesuatu setelah pertemuan dengan temannya usai. Mungkin anak itu akan mendapatkan mainan dari ayahmu" jawab Sara membuat Daniel dan Nora heran. Dikiranya, William membuat masalah dengan berada disini, tapi ternyata dia diterima dengan baik.


"Kalau begitu, sebaiknya kalian disini selama menunggu ayah. William, kakek tua memiliki koleksi kendaraan tempur yang banyak dan berbagai mobil yang kau suka. Pasti menyenangkan menghabiskan waktu dengannya" kata Daniel kepadaku. Tentu saja itu hal yang sangat mustahil kulakukan. Tidak mungkin aku bisa berada di rumah keluarga Hamilton dengan alasan menunggu Tuan besar pulang dan menunjukkan koleksi berharganya pada William.


"Sebaiknya tidak, William sudah terlalu merepotkan pagi ini dan akan sangat merepotkan Tuan Besar Hamilton untuk mengajak William" Alasanku ternyata tidak cukup kuat untuk membuat Daniel membawaku dan William untuk pergi dari rumah ini.


Dan sekarang, aku dan William terpaksa duduk di seberang nenek tua yang sudah membuat masalah untuk kami dari awal. Kalau saja dia tidak bicara tentang ayah William, pasti kejadian pagi ini tidak akan terjadi. Seorang pelayan menghidangkan teh di cangkir berwarna hijau yang cantik dengan beberapa kue untuk kami. Tapi, mata nenek tua itu terlihat menilai semua gerak yang kubuat.


"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Nora" Baru kali ini dia memanggil dengan namaku. Sebelumnya, nenek tua itu selalu memanggilku dengan julukan yang membuatku kesal. Aku melihat ke arahnya dan tetap memegang tangan William.


"Kapan anak itu lahir?" tanyanya. Apa maksudnya William? Pasti William.


"15 Oktober 2010" jawabku singkat. Tapi kenapa nenek tua ini menanyakan tentang tanggal lahir William.


"Apa benar ada tanda lahir berbentuk cincin di punggungnya?"


Aku tercengang. Dari mana Nyonya Besar keluarga Hamilton mengetahui tentang tanda lahir anakku? Apa William mengatakannya ketika mereka hanya berdua saja tadi pagi.


"Dari reaksimu, sepertinya benar kalau anak ini memiliki tanda lahir itu di punggungnya"


"Iya benar. Willy memang memilikinya sejak lahir. Tapi, kenapa Anda bertanya?"


"Aku mengenal seseorang yang memilikinya"


Siapa? Kenapa dia tidak melanjutkan perkataannya.


"Dimana kau di tanggal 1 Januari 2010?"


Hah?? Lagi-lagi pertanyaan yang sangat aneh dari nenek tua ini. Kenapa juga dia menanyakan tentang dimana aku di tanggal itu. Tapi ... setelah kuingat, disaat itulah aku dan ayah William merayakan tahun baru dan menyewa sebuah kamar di hotel yang terkenal itu. Dan sejak malam itu, kehidupanku seperti berputar seratus delapan puluh derajat.


"Sepertinya saya tidak perlu mengatakan dimana saya berada di tanggal itu karena saya sendiri tidak ingat" jawabku lalu melihat William mengambil kue yang dihidangkan di atas piring berwarna senada dengan cangkirnya.


Perkataan nenek tua itu membuatku sangat terkejut. Bagaimana bisa dia tahu dimana aku dan ayah William menginap malam itu? Dan lagi, kenapa nenek tua itu juga terlihat terkejut dengan reaksiku dan segera melihat William dari ujung rambut sampai kaki?


Apa ada sesuatu yang dia tahu tapi tidak denganku? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa yang Anda ingin tahu sebenarnya?" tanyaku membuatnya berpura-pura tidak melihat William.


"Tidak ada. Kalian tunggu saja ayah William disini karena aku memiliki urusan penting"


Aneh sekali. Nenek tua itu pergi begitu saja ke dalam ruangan yang tidak kuketahui. William melihatku dan aku mengangkat bahu tanda tidak mengerti juga. Kami menunggu sekitar tiga puluh menit dan melihat seorang pria drngan rambut abu-abu dengan perawakan tinggi dan gagah. Pasti ini Tuan Besar keluarga Hamilton yang berjanji menunjukkan koleksinya pada William tadi pagi.


"Ho ho, William, ternyata kau menunggu kakek" katanya ramah, beda sekali dengan istrinya.


"Maafkan saya. Seharusnya kami tidak berada disini dan William sudah sangat merepotkan Anda"


Tiba-tiba pundakku terasa berat dan rasa takut mulai menjalar ke punggungku ketika Tuan Besar melihatku. Ternyata, aura pemilik perusahaan suku cadang besar ini mampu membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan.


"Tidak apa. William sangat mirip dengan Daniel waktu kecil. Sangat menyukai mobil dan aku senang memiliki seseorang untuk berbagi kesenanganku" Rasanya lututku lemas saat akhirnya tuan besar itu menjawabku dengan tenang.


Tuan besar yang kutahu bernama Dimitri Hamilton itu adalah salah satu anak dari William Hamilton yang merupakan pengusaha milyunair dengan perusahaan otomotifnya. Karena tidak mewarisi perusahaan ayahnya, Dimitri mendirikan perusahaan suku cadangnya sendiri dan berhasil membawanya ke tingkat kesuksesan yang sekarang. Karena itulah aku sangat menghormatinya.


Dan saat ini, orang yang sangat kuhormati itu dengan hangatnya memegang tangan William dan membawa kami ke sebuah lumbung tua besar.


Harusnya aku tidak mengatakannya sebagai lumbung tua. Karena di dalamnya, terdapat banyak sekali mobil yang terlihat mahal dan sangat terawat. William senang sekali dan mulai menyebutkan type mobil serta tahun pembuatannya. Hal itu membuat Tuan Besar Dimitri sangat senang, sedangkan aku ketakutan setengah mati. Kalau saja kami menggores sedikit saja salah satu mobil diaini, mungkin kami akan bangkrut dan tidak dapat hidup lagi.


Beralih ke lantai kedua lumbung, aku terkesan dengan semua koleksi miniatur kendaraan perang yang tersusun rapi di lemari dan meja. Sungguh, inilah hobi orang yang super kaya. Mereka bisa mendapatkan semuanya dengan uang mereka itu.


William sangat senang berada di lumbung harta karun ini dan mendengarkan cerita tiap mobil yang diutarakan Tuan besar. Sedangkan aku hanya dapat menatap William dengan senyuman. Baru lali ini aku melihat William begitu senang mendengarkan seseorang bicara. Apalagi, orang itu bukanlah keluarga kami.


"William benar-benar mirip sekali dengan Daniel. Aku senang akhirnya Daniel memilih seseorang yang memiliki kemampuan merawat anak dengan benar seperti ini" pujian itu membuat hatiku terasa jatuh dari tempatnya. Bagaimana bisa aku mendapatkan pujian seperti itu?


"Anda terlalu memuji. Saya hanya bisa memberikan kasih sayang dan perhatian pada Willy karrna dia adalah satu-satunya harta yang saya miliki"


"Cincin yang kau pakai adalah pemberian nenek Daniel untuk istrinya kelak. Aku tidak mengira di usianya yang ke dua puluh delapan tahun. Akhirnya Daniel memakaikannya ke seorang perempuan"


Ah ... benarkah? Jadi, Daniel melamarku dengan cincin yang sangat berharga bagi keluarganya? Kenapa? Harusnya bukan aku yang memakainya. Aku hanya menerimanya karena kesal dengan nenek sihir itu dan bukan karena mencintainya. Apa yang sudah kulakukan?