
Rapat
Kenapa ada rapat di hari seperti ini.
Daniel berjalan dengan sangat cepat pagi ini ke ruangannya dan segera memerintahkan bawahannya siap menerima tamu dari Tiongkok.
"Kalian siapkan hotel terbaik dan pelayanan terbaik. Aku harus segera keluar dari kantor secepatnya hari ini"
Ini bukan pertama kalinya Presdir membuat perintah untuk segera mengadakan rapat. Tapi kalau Presdir ingin pulang cepat, itulah yang membuat semua bawahannya heran. Selama ini, Presdir mereka tidak pernah pulang cepat dari perusahaan.
"Tuan muda, saya telah menempatkan beberapa orang di sekitar minimarket. Apakah ada perintah yang lain?" tanya pengawal yang mengikutinya tadi pagi.Pengawal itu juga terkejut melihat tuan mudanya begitu teryarik pada seorang perempuan dan tidak ingin melepaskan tangannya.
"Siapkan bunga yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Makan malam dan mainan apa yang disukai anak berumur 10 tahun?"
Pertanyaan yang aneh dari Tuan Mudanya membuat pengawal itu diam sebentar lalu menjawab roket atau pesawat.
"Siapkan itu juga. Aku aka pulang dulu untuk membersihkan diri lalu kita berangkat kesana"
Presdir memulai rapat untuk membangun cabang perusahaan di Tiongkok dengan beberapa perwakilan dari negara tersebut. Rapat berjalan sesuai waktu yang diperkirakan dan makan siang telah siap dihidangkan. Daniel melakukan semua dengan baik dengan harapan pekerjaannya cepat selesai.
Kini saatnya, untuk pulang dan bertemu lagi dengan ... . Tiba-tiba saja ibunya datang membawa Hilda Hardy ke perusahaan. Apa yang mereka lakukan?
"Daniel, hai" sapa Hilda memamerkan deretan gigi 100 jutanya.
"Ibu ingin kau makan malam dengan Hilda. Sejak seminggu yang lalu dia sudah merindukanmu" Daniel menatap ibunya tidak percaya.
"Aku sibuk. Tidak bisa makan malam"
"Danny, ibu tidak ingin memaksamu, tapi ingat perkataan ibu!" Dan disaat seperti inilah Daniel sangat membenci ibunya sendiri.
Presdir itu kembali ke ruangannya dan melempar berkas yang ada di atas mejanya ke lantai.
Setelah pulang kerja, terpaksa Daniel menemani ibunya untuk makan malam dengan Hilda. Semua pembicaraan mereka sangat memuakkan, membuat Daniel bosan.
"Jadi, Daniel pernah kecelakaan dulu?"
"Iya, dia memang masih remaja dan selalu membuat masalah. Tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Setelah itu, dia menjadi anak yang penurut dan Presdir hebat" Ibunya terlihat bangga menceritakan tentang anaknya.
"Iya, aku patah kaki dan memperkosa seorang wanita tua" tambah Daniel membuat Hilda dan ibunya melotot bersamaan.
"Apa yang kau katakan?" tanya ibunya gugup.
"Dia tidak pernah melakukan apapun yang disebutkannya tadi. Itu hanya gurauan" tambah Nyonya besar itu, takut nama besar keluarganya hancur.
Padahal, yang sebenarnya adalah Daniel memang melakukan hal itu kurang lebih saat umur 17 tahun. Sebagai hadiah ulang tahun, teman-temannya mengajak Daniel ke sebuah klub malam yang terletak di sebuah hotel mewah. Disana Daniel yang mabuk memperkosa seorang wanita yang sedang tertidur.
Dan esoknya, masalah itu membuat keluarganya berang. Daniel tidak diperbolehkan keluar rumah dan masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Dan kecelakaan motor yang terjadi sepuluh tahun lalu juga berkat teman-temannya yang membawa pengaruh buruk.
Tapi, berkat itu Daniel mengenal Nora Hardy.
"Saat aku tanya tentang adakah seseorang di keluargamu yang belum menikah. Apakah kau berbohong?" Daniel tidak melihat cincin pernikahan di jari manis Nora.
Ibunya menatap ke arah Daniel dengan serius seperti mencari tahu tentang apa yang diketahuinya. Tapi sia-sia saja, karena menurut ibunya Daniel tidak pernah bertemu dengan Nora.
Daniel terdiam dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang. Dia akan menanyakan semuanya pada Nora hari ini juga. Tapi, kenapa makan malam ini berjalan sangat lambat dan tidak selesai juga. Bagaimana bisa dia bertemu dengan Nora sekarang?
Tengah Malam
Nora baru saja selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya selama menunggu William tidur malam ini. Hari ini dia bercerita tentang reaksi temannya yang mengetahui aku bekerja di minimarket dekat sekolahnya.
"Apa ibu bekerja dengan baik hari ini?" tanyanya saat aku mengajarinya.
"Tentu saja" jawabku
"Jacob sangat senang datang ke rumah kita. Apa dia boleh kemari lagi?"
"Boleh. Tentu saja boleh, asalkan Jacob meminta ke orangtuanya"
Aku tidak pernah melarang William berteman dengan siapapun asalkan mereka bukan anak tanpa perhatian orang tua. Setelah pukul 10 malam, semua tugas William selesai dan dia bersiap untuk tidur.
"Katanya, ibu bertemu seseorang di minimarket hari ini. Siapa?"
"Ohh. Iya benar. Dia mau datang ke rumah malam ini, tapi sepertinya tidak mungkin. Paman itu adalah teman ibu yang memberikan nama padamu"
"Benarkah? Jadi, bukan ayah yang memberi nama padaku?"
Sial, aku lupa kalau pernah mengatakan pada William tentang itu.
"Benar, ibu lupa kalau nama William bukan dari ayahmu. Nama itu diberikan kepada paman Daniel padamu yang baru berumur satu hari"
Teringat lagi masa-masa yang menyedihkan itu. Masa dimana aku masih menjadi ibu yang sangat buruk bagi William.
Setelah akhirnya William tidur, aku mandi dan memakai baju tidur. Bersiap untuk merebahkan punggung di atas tempat tidur yang hangat. Tapi, suara ketukan pintu menggangguku. Siapa yang bertamu di tengah malam seperti ini.
Aku mendekat ke pintu dan melihat kamera pengawas yang sengaja kupasang untuk meningkatkan keamanan apartemen ini. Daniel? Apakah benar itu Daniel? Kenapa dia datang semalam ini.
Saat pintu kubuka, tubuh tinggi itu roboh ke arahku. Aku sangat terkejut dengan keadaan seperti ini.
"Maafkan aku. Terlambat datang untuk makan malam" kata Daniel. Tak lama, beberapa pria berseyelan jas masuk ke dalam apartemen tanpa permisi dan meletakkan beberapa barang termasuk bunga yang banyak sekali.
Dengan susah payah, aku menegakkan tubuh Daniel lagi dan berusaha melihatnya baik-baik. Memastikan bahwa orang yang tadi berada di pelukanku benar Daniel.
"Apa yang kaulakukan? Kenapa datang malam-malam begini?" bisikku, takut William terbangun.
Daniel masuk ke dalam apartemen dan melihat-lihat semua sisinya. Aku tidak punya pilihan selain menutup pintu dan mengikuti kemana dia pergi.
"Dia tidur?" tanyanya saat melihat William yang tertidur menghadap ke arah pintu.
Sejak William mengerti tentang keadaannya, aku tidak pernah menyebut kata ayah terlalu sering. Hanya pada saat yang penting, dan semuanya adalah kebohongan besar.
'Ayahmu meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dan ibu tidak akan menikah lagi' Itulah yang kukatakan sehingga William tidak pernah menanyakan lagi tentang ayahnya. Dia juga tidak pernah merasakan belaian seorang laki-laki.
Seperti saat ini, ketika Daniel membelai rambutnya, ada perasaan sedih dalam hatiku. Kasihan sekali anakku, dia harus hidup hanya dengan ibunya.
"Dia tumbuh menjadi anak yang berani. Syukurlah" kata Daniel membuatku semakin merasa bersalah menjadi ibunya.