
Petang dan suasana rumah sepi yang seperti biasa ini membuat erasaanku tenang. William sudah mengerjaa semua tugas sekolahnya dan aku dapat bersantai dengan membuat kue kering choco chip kesukaan anakku. Televsi masih menayangan masalahh pertunangan Daniel dan Hilda, membuatku mematikannya sampai sekarang.
"Kenapa kita tidak diundang ke pertunangan Paman Tinggi dan Bibi Hilda, Bu?" tanya William tiba-tiba, membuatku berhenti mengaduk adonan kue kering.
"Disana banyak wartawan dan teman kakekmu yang membosankan. William pasti bosan disana, begitu juga ibu" jawabku lalu melanjutkan membuat ue.
"Tolong ibu"
William membantuku mengoleskan mentega di loyang sebelum memasukkan adonan ke dalam ven.
"Jacob akan pergi berlibur dengan orang tuanya hari Sabtu besok"
"Maafkan ibu. Kita tidak bisa pergi sampai dua atau tiga bulan ke depan. Maafkan ibu, ya?"
William mendengus sedih lalu tetap membantuku membuat bola-bola adonan.
Kegiatan seperti ini sangat menyenangkan. Bisa sedekat ini dengan anak laki-lakiku saja, sudah merupakan kegembiraaan yang sangat berharga bagiku.
"Ibu akan membuat adonan untuk kue mentega kesukaan ibu. Bisakah Willy memberikan tepung itu?'
Willy menyerahkan tepung lalu terdengar suara bel pintu berbunyi. Siapa yang datang ke rumah? Semua keluargaku pasti sibuk di pesta, mereka tidak mungkin kemari.
"Bukakan pintunya, Willy!"
Willy membukakan pintu dan terlihat Daniel berdiri di depan pintu. Bukankah seharusnya dia ada di pesta pertunangannya? Kenapa dia ada disini? Dan lagi, kenapa sekarang dia mengatakan bahwa William adalah anaknya? Apa kepalanya terbentur sesuatu sebelum kesini?
Sekarang dia menuju ke arahku dan mengatakan tentang kejadian sebelas tahun lalu. Saat aku melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan diriku ke Reynold. Dan dia berkata kalau aku melakukannya dengan dia dan bukan Reynold? Mangkuk adonan yang ada di tanganku sampai terlepas karena terkejut dia mengatakan semua itu di depan William.
"Willy, sebaiknya kau pergi ke kamar!" kataku setelah Daniel mengatakan beberapa hal yang tidak masuk akal. Ketika akhirnya William pergi ke kamarnya aku melihat laki-laki yang seharusnya berada di tempat lain itu. Tidak pernah datang atau sekedar menanyakan kabar apapun setelah ciuman singkat kami di kantornya, tiba-tiba dia mengatakan omong kosong tentang anaknya dan bukti-bukti. Mengesalkan.
"Nora, kita memang ditakdirkan untuk bersama" katanya membuatku semakin merinding.
"Tunggu!" kataku mencoba membuat Daniel menutup mulutnya.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan sekarang?" lanjutku mencoba mencari kebenaran dari aksinya ini.
"Daniel, kejadian itu memang sudah berlalu sebelas tahun tapi aku masih ingat semua yang terjadi. Kau tidak ada di dalam ingatanku sama sekali di saat itu" jawabku membuat Daniel semakin mendekat. Kini aku takut dengan apa yang akan diperbuatnya kepadaku.
"Coba kau ingat lagi, Nora. Malam disaat pergantian tahun datang. Kau berada di hotel Imperial dan sedang tidur dalam kamar yang gelap. Lalu ... datanglah seseorang yang mabuk dan melakukannya denganmu. Itu aku, bukan kekasihmu"
Apa??? Bagaimana dia bisa tahu tentang hotel Imperial di malam pergantian tahun itu? Dan kenapa wajahnya sama seperti ibunya saat menanyakan hal yang sama saat terakhir kami bertemu di rumah mereka?
Nyonya Hamilton saat itu juga menanyakan tentang keberadaanku di tanggal yang sama. Ibu Daniel juga bertanya banyak hal tentang tanda lahir yang dimiliki oleh William. Apa hal itu karena ini? Tidak mungkin. Reynold benar-benar mengatakan kalau bayi yang ada dalam perutku adalah anaknya. Kepalaku menjadi sangat pusing karena pertanyaan yang diajukan oleh Daniel sekarang. Seharusnya aku tidak menyuruh William membuka pintu tadi.
Tapi ... bagaimana bisa dia tahu tentang seseorang yang mabuk di malam itu?
Malam itu, aku memang datang bersama Reynold untuk merayakan tahun baru di sebuah hotel mewah bernama Imperial Hotel. Kami makan malam terlebih dahulu dan aku melihat tamu restoran yang baru saja datang. Sebanyak kurang lebih sepuluh anak muda dengan gadis mereka datang ke restoran dan memesan banyak sekali makanan. Mereka terlihat sangat kaya dengan beberapa pengawal yang berdiri mengawasi setiap tingkah lakunya.
Saat itu, aku melihat satu anak muda yang lebih menonjol dari yang lainnya. Selain tinggi dan wajahnya yang tampan, anak muda itu memiliki sesuatu yang bisa kusebut aura orang yang sangat kaya. Mereka makan di dekat meja kami lalu pergi setelah anak muda itu bangkit dari duduknya. Sepertinya dia pemimpin mereka.
Saat mendekati waktu pergantian tahun, Reynold mengajakku untuk masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di lantai teratas. Dan mengejutkannya, kamar kami berada di lantai yang sama dengan para pemuda tadi. Suara pesta yang memekakkan telinga terdengar sampai di lorong hotel. Dan beberapa pengawal berjaga di sana. Membuatku agak takut.
Reynold mengatakan padaku untuk menunggu di kamar dalam kegelapan karena dia ingin suasana yang hangat malam itu. Aku tersipu dan benar-benar menunggunya dalam kamar yang gelap. Lama sekali Reynold tidak datang juga ke dalam kamar membuatku sedikit mengantuk. Aku terbangun karena sentuhan di punggungku. Tangan Reynold rupanya sudah masuk ke dalam bajuku dan menyentuh punggung telanjangku.
Aku mencium sesuatu yang sangat menyengat dari mulutnya yang menjelajahi seluruh bagian tubuhku. Dan saat dia melepas semua bajuku, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima semua yang akan Reynold lakukan. Aku menancapkan kuku di punggungnya ketika kami sama-sama mendapatkan kenikmatan luar biasa dan tiba-tiba dia pergi begitu saja.Merasa lelah karena melakukan semua itu, aku memutuskan untuk tidur selama beberapa waktu.
Sesaat setelah bangun, aku tidak menemukan tanda-tanda Reynold di dalam kamar dan menemukan pesan bahwa dia terpaksa pulang karena masalah keluarga. Aku tidak mempermasalahkannya karena kami sudah melakukan sesuatu yang sangat indah untukku waktu itu. Ternyata itu kesalahan besar yang membuatku hancur.
Reynold awalnya tidak mau mengakui bahwa kami pernah berhubungan badan. Tapi setelah aku mengatakan siapa ayahku, dia mengakui semuanya. Saat itu sampai sekarang, aku benar-benar berpikir kalau Reynold adalah ayah anakku.
Daniel melihatku dari dekat sekali lalu membisikkan sesuatu yang membuatku tidak yakin dengan pikiranku sendiri.
"Ada bekas kuku di punggungku saat itu. Dan ... aku sangat menikmatinya"
Mataku membulat besar seakan tidak percaya dengan yang dikatakannya. Kuku? Tidak mungkin. Kebiasaan Daniel saat memasukkan tangannya ke dalam bajuku juga sama seperti laki-laki itu. Tapi ... itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku melakukannya dengan seseorang yang lebih muda lima tahun dariku. Tidak mungkin kalau aku melakukan hal itu dengan seseorang yang bahkan belum cukup umur. Lalu hamil dengan anaknya. Tidak ... tidak.
Kepalaku tiba-tiba terasa pusing sekali lalu jatuh di atas pantatku. Rasanya tidak sakit karena Daniel menahan beban tubuhku. Aku melihat ke arah wajahnya dan melihat senyuman kecil yang membuatku takut.