
Daniel menutup rapat yang membosankan baginya ini lalu memutuskan untuk pergi dari kantor. Tanpa sengaja, Daniel melihat mobil keluaran Jepang dengan anak laki-laki yang terlihat murung di dalamnya. Bukankah itu anak yang tadi?
Ternyata benar kalau ibunya yang bekerja disini memiliki mobil yang tidak disukainya. Pemikiran dan perkataan anak itu begitu menghibur Daniel yang bosan.
"Selidiki, siapa anak itu. Aku ingin bertemu lagi dengannya"
"Baik, Tuan Muda" jawab pengawalnya yang setia mengikuti Daniel sejak lima tahun yang lalu.
Mobil produksi Jerman mewah berwarna hitam itu akhirnya keluar dari kawasan perusahaan dan menuju salah satu restoran. Daniel menghembuskan napas panjang setelah mengetahui rencana ibunya malam ini.
"Siapa?"
"Hanya ada Nyonya Besar di dalam restoran, Tuan"
Pasti ini siasat baru ibunya yang ingin menjodohkan Daniel dengan salah satu perempuan tidak menarik yang hanya bisa menghabiakan uang itu. Pasrah, Daniel masuk ke dalam restoran dan mencium kening ibunya dengan hangat.
"Ibu senang sekali, bisa makan malam dengan anak Ibu"
"Siapa kali ini, Bu?"
Bukan rahasia lagi kalau Nyonya Besar keluarga Hamilton berulang kali mengatur perjodohan anaknya. Kabar tentang putra tunggal pemilik perusahaan besar itu mencari istri, membuat ibunya sibuk luar biasa.
"Putri keluarga Kirby, mereka pemilik hotel di kawasan pariwisata kota D. Anaknya cantik sekali, mirip dengan kriteria wanita yang kau inginkan"
"Aku tidak ingin membuat ibu susah. Hentikan saja semua ini dan uruslah ayah dengan baik" jawab Daniel yang kesal.
"Danny, kau sudah berumur 28 tahun. Sudah waktunya bagimu menentukan pasangan yang akan menemanimu hidup selamanya" Itulah kata-kata yang selalu diucapkan ibunya saat mengharapkan Daniel berkencan.
"Bertemu dengannya lalu makan malam, hanya sekali saja. Nanti, kau bisa memilih diantara semua perempuan yang ibu kenalkan"
Daniel tidak suka dengan acara perjodohan seperti ini. Sangat sulit menghadapi semua jenis peremuan yang tidak disukainya. Tapi, melihat betapa bersemangat ibunya, Daniel menjadi tidak tega.
"Aku tidak ingin menjanjikan ibu apapun" katanya menyerah.
Ibunya seperti memberi tanda kepada pelayan dan membawa seorang perempuan dengan barang bermerk dari atas kepala sampai kaki. Tasnya yang terlihat mahal dan diletakkan di atas meja, seperti tidak ada yng lebih penting dari itu. Pasti orang yang baru saja kaya. Mereka ingin sekali cepat menuju puncak.
"Hai, namaku Diana Kirby, bukankah nama kita hampir sama? Daniel dan Diana, apakah kita memang berjodoh?"
Bodoh, dia lebih buruk dari perempuan yang terakhir kali Apa iu tidak tahu kalau aku tidak suka engan perempuan yang seperti ini. Membanggakan kekayaan ayahnya dan berharap kami memiliki jodoh hanya karena hal-hal kecil.
"Apa yang kau inginkan dari pernikahan kita?" tanya Daniel tanpa basa-basi. Ibunya yang menunggu di tempt duduk lain pasti ingin melihatya setidakya berbicara pada semua perempun yang dibawanya,
"Apa kita akan menikah?" Diana kembali berteriak riang seperti sudah mendapatkan lotere yang besar.
"Aku tidak ingin apa-apa, hanya dirimu saja sudah cukup bagiku" katanya membuat Daniel semakin kesal. Mana ada perempuan yang ingin menikah dengannya tanpa mengharapkan sesuatu.
"Silahkan dimakan!" Daniel menunjuk paa makanan yang sudah disiapkan ibunya untuk mereka berdua.
Makanan pembuka dan utama telah dihidangkan dan Daniel masih berusaha untuk sopan demi ibunya. Tapi, kejadian berikutnya tidak pernah Daniel bayangkan sebelumnya. Makanan penutup akhirnya diantar. Daniel yang selama ini tidak pernah memperhatikan pelayan sebelumnya, secara tidak sengaja melihat rambut cokelat bergelombang di depannya.
Daniel terpaku saat pelayan yang melayaninya memiliki kemiripan dengan perempuan sepuluh tahun lalu. Rambut cokelat itu seperti perempuan yang dicari-carinya selama ini.
Tapi, wajahnya tidak sama dengan yang ada dalam ingatannya. Dia bukan perempuan yang dicarinya.
"Apa kau ingin sesuatu, Daniel? Aku bisa menyuruh pelayan restoran membuatkannya untukmu" Merasa bosan dengan perjodohan ini, Daniel bangkit dari kursinya dan pergi. Bagaimana bisa, berbicara dengan anak kecil lebih menarik daripada bicara dengan wanita itu.
"Danny, apa yang kau lakukan?" tanya ibunya yang menyusul keluar restoran.
"Aku sudah melakukan keinginan ibu. Aku lelah" Nyonya besar keluarga Hamilton itu memang keras masalah pernikahan anaknya. Tapi, bagaimanapun, dia sangat menyayangi anaknya dan memperbolehkan Danny kesayangannya pergi dari acara perjodohan.
Terpaksa, dia memberitahu anak keluarga Kirby untuk pulang dan akan dihubungi lagi. Mereka pasti tahu alasan anaknya dipulangkan begitu saja, malam ini.
Daniel kembali ke apartemen di lantai paling atas yang sudah dimilikinya sejak berumur delapan belas tahun. Dia melihat keluar jendela besar di ruang tengahnya dan teringat kembali pada seorang perempuan yang belum ditemukannya juga.
Lama sekali, sepuluh tahun lebih dia menunggu pertemuan yang tidak pernah direncanakan setelah sebelumnya sekuat tenaga mencarinya kemana-mana. Daniel memang menghentikan pencarian selama kuliah di luar negeri, tapi bagaimana bisa perempuan itu hilang tanpa jejak sama sekali.
Dimana perempuan dan anaknya yang mirip monyet kecil itu. Daniel masih memiliki harapan bertemu drngan mereka suatu hari nanti.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini terus menerus. Kau harus segera menikah untuk meneruskan keturunan ayah dan kakekmu. Usiamu sudah 28 tahun. Ayahmu menikah dengan ibu saat umur 23 tahun lalu kami langsung memilikimu. Akan sangat merugi kalau kau terus menunda pernikahan, Danny"
Ibunya terus saja mengatakan semua itu, baik di telepon atau secara langsung. Rasanya sangat membosankan.
Daniel merasa tidak bisa bernapas dengan kehidupan yang sudah diatur ini. Sejak kecil sampai sekarang, tuntutan keluarga, membuatnya sesak. Dan kecelakaan motor sepuluh tahun lalu, bisa dibilang menyelamatkan hidupnya.
Seorang perempuan yang polos itu masuk ke dalam hatinya. Bahkan bayi kecil yang mirip monyet kecil itu bisa membuatnya tersenyum. Dimana mereka?
Apartemen Madison Lantai 4
"Bisakah ibu mempertimbangkan untuk mengganti mobil?" Nora heran dengan anaknya yang terus menerus mengatakan hal itu sejak mereka pulang.
"Mobil apa yang kau mau, Willy?" tanya Nora dengan tetap melaksanakan tugasnya sebagai ibu.
"Humvee" Nira tertawa keras mendengar permintaan anaknya yang tidak masuk akal.
"Ibu harus memiliki perusahaan dulu kalau begitu. Bisakah Willy yang membeli mobil itu sendiri?"
Nora sayang pada anaknya, tapi sangat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya dengan gaji seorang staff gudang sepertinya. Apartemen mewah dua kamar ini saja merupakan pemberian ayahnya yang kasihan melihat keadaannya kurang lebih tujuh tahun lalu. Sampai sekarang, Nora masih berjuang untuk membayar iuran apapun di apartemen ini.
"Aku bertemu seseorang yang terlihat kaya hari ini, di perusahaan ibu" Nora terkejut dengan pengakuan anaknya.
"Willy takut kalau Willy menyebablan masalah di tempat kerja ibu"
Ya Tuhan, beruntungnya Nora diberikan seirang anak yang tidak hanya tampan tapi baik hati, tidak seperti ayah kandungnya.
"Tidak apa, tidak akan ada masalah. Tidur sana!" kata Nora lalu memeluk anaknya erat lalu kembali mencuci dan membersihkan rumah sebelum besok kembali seperti hari-hari biasanya.