I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
William



"Apa yang terjadi? Katakan dengan perlahan"


"Willy, Willy ... tidak ada dimana-mana"


Aku terus mencari keberadaan William yang tiba-tiba tidak ada di ranjangnya pagi ini. Semua tempat telah kudatangi, bahkan sekolah, ruang guru, minimarket, rumah Jacob dan taman. Tapi tidak ada. William seperti menghilang tanpa jejak dan aku merasa tidak baik.


Merasa tidak tahu lagi harus bagaimana, aku menghubungi Daniel. Berdoa semoga dia bisa membantuku.


"Nora? Senang sekali kau menghubungiku pagi sekali" Daniel baru saja selesai mandi setelah berolahraga dan sedang memakai kemejanya ketika Nora menghubungi. Tidak biasanya Nora menghubungi dia terlebih dahulu.


"Tolong, tolong aku ... " Terdengar suara Nora yang putus-putus, membuat Daniel merasakan ada yang tidak baik terjadi.


"Apa yang terjadi? Katakan!"


"Willy ... aku tadi bangun tidur lalu menyiapkan makanan lalu kembali ke kamar ternyata Willy sudah tidak ada disana" Suara isak tangis di telepon membuat Daniel yakin kalau sekarang Nora bersungguh-sungguh mengatakan William hilang. Hilang? Hilang kemana?


"Apa kau sudah memeriksa semua tempat?" Daniel segera memakai jasnya, memanggil Martin dan beberapa pengawalnya untuk segera mengikutinya pergi.


"Sudah, aku sudah pergi ke sekolah, rumah Jacob, taman, minimarket dan semua jalan yang ada disini sudah kudatangi. Tapi ... bagaimana ini?" Karena Nira terdengar sangat bingung, Daniel memutuskan untuk segera berangkat.


"Aku datang. Pulanglah, mungkin William sudah pulang setelah membeli sesuatu" perintah Daniel lalu menutup ponsel. Martin yang masih menunggu penjelasan tuan mudanya setia berdiri di samping mobil.


"Siapkan banyak orang, Willy menghilang"


Sial, pikir Martin. Dia menurunkan penjagaan ketat di rumah tuan muda kecilnya karena berpikir kalau semua orang akan beristirahat setelah dari taman bermain. Tapi, dia ingat memerintahkan satu orang untuk menjaga tuan muda kecil sejak bayi. Martin menghubungi anak buahnya dan mendapatkan lokasi tempat tuan muda kecil berada.


"Tuan muda, saya menemukan keberadaannya" Daniel terkejut mendengar Martin telah mengetahui keberadaan William sekarang.


"Dimana?"


"Rumah Keluarga Hamilyon. Sepertinya, tuan muda kecil meminta bertemu dengan Nyonya Besar"


William ingin bertemu ibunya? Kenapa? Yang penting William aman sekarang. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Daniel memerintahkan Martin untuk pulang ke rumah keluarga besarnya dan mengawasi William sedangkan dia akan menjemput Nora.


William bangun pagi-pagi sekali dan melihat ibunya masih tertidur pulas disampingnya. Kemarin malam, William mendengar lagi namanya disebut sebagai alasan ibunya menderita. Keberadaannya mungkin sebenarnya tidak diperlukan disini. Apa dia harus menghilang dan pergi saja? Tapi kemana? William tidak tahu keluarga atau teman yang akan menampungnya untuk selamanya.


Ayah. Benar. Kata nenek sihir yang dikenal ibu, ayah kandung William masih hidup. Dan nenek sihir itu tahu keberadaan ayah kandungnya. Apakah dia bisa pergi ke ayahnya dan tinggal disana? Mungkin itu bisa membuat hidup ibunya lebih mudah.


Memakai baju hangat, membawa tas ransel berisi cookies yang dibuat ibunya, pakaian dan air minum, William pergi memanggil taksi. Nenek sihir itu adalah ibu paman Tinggi. Karena paman Daniel bernama akhir sama dengan perusahaannya, William memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Hamilton.


Tidak pernah disangka olehnya, rumah keluarga Hamilton begitu besar dan tidak bisa dijangkau denfan taksi dari gerbang utamanya. Paman yang berjaga di depan gerbang menanyai keperluannya.


"Aku ingin bertemu nenek sihir ... eh ibu paman Daniel"


"Jalan saja sampai bertemu rumah seperti istana yang berwarna putih" William tidak lupa berterima kasih pada paman penjaga mengerikan di depan lalu masuk ke dalam rumah keluarga Hamilton.


Tapi, jalan yang dilaluinya tampak seperti taman kota yang sering dikunjungi dengan ibunya. Pohon-pohon tinggi yang berjejer di pinggir jalan sedikit membuat William takut apalagi dia hanya berjalan sendirian disana.


Setelah agak lama, William akhirnya menemukan jalan yang disinari matahari dan melihat sebuah rumah berwarna putih yang sangat besar dan tinggi. Belum pernah dia datang ke rumah seseorang yang seperti ini.


"Apa Anda putra nona Nora?" Seorang bibi memakai baju serba putih datang berlari ke arahnya. Setelah William mengangguk, bibi itu membawanya berjalan ke arah rumah besar itu. William menengok ke kanan dan melihat dua buah bangunan besar lagi. Keluarga Paman Tinggi ternyata kaya sekali.


"Silahkan duduk disini, Nyonya Sara akan menemui sebentar lagi" William tersenyum ke arah bibi yang sekarang meninggalkannya sendiri di sebuah ruangan besar dengan kursi yang banyak dan besar-besar. Di dindingnya tertempel beragam lukisan yang berbeda dan banyak sekali bunga diletakkan di pojok-pojok ruangannya.


Terdengar suara langkah kaki dan William melihat nenek sihir yang tidak disukai ibunya berdiri di seberang meja.


"Kau anak Nora? Kenapa kau kemari?"


William menghela napas lalu memberanikan diri berbicara.


"Nama saya William Hardy dan saya kemari karena ingin menanyakan alamat tinggal ayah kandung saya kepada nenek"


"Nenek? Beraninya kau memanggilku nenek? Dan kenapa juga aku harus memberitahumu alamat ayah kandungmu? Tanyakan sendiri pada ibumu! Sekarang pergilah!"


Ternyata ibu paman Daniel ini tidak bersifat baik seperti anaknya. Benar kata ibunya, dia alah nenek sihir jahat. Tapi, apa yang harus dilakukannya sekarang? Tidak ada yang tahu keberadaan ayahnya selain nenek sihir ini.


"Tolong Nyonya. Saya ingin pergi ke ayah kandung saya agar ibu bisa terbebas" pinta William lalu mendekat ke arah nenek tua itu.


Sara melihat ke arah anak Nora yang berani datang jauh-jauh kemari hanya untuk menanyakan alamat ayah kandungnya. Memangnya selama ini Nora berkata apa pada anaknya? Tapi, saat Sara melihat William dari dekat, ada sesuatu yang mengganggunya. Entah kenapa, Sara merasa anak ini mirp dengan Daniel diwaktu kecil.


Alis, rambut, bentuk bibir dan hidung mancung, membuat anak ini terlihat mirip dengan Daniel saat berumur sepuluh tahun. Apa Sara hanya berhalusinasi karena merindukan anaknya? Tidak mungkin Daniel memiliki anak sebesar ini.


"Apa golongan darahmu?"


Hah? William merasa nenek sihir ini aneh sekali. Kenapa dia bertanya tentang golongan darah William sekarang?


"A" Tapi William menjawab saja.


"Apa kau punya tanda lahir?" tanya nenek itu lagi semakin membuat William bingung.


"Kata ibu ada di punggung. Sebuah lingkaran berbentuk cincin hitam" William tetap menjawab pertanyaan aneh nenek sihir itu dengan harapan agar nenek itu mengatakan alamat ayah kandungnya.


Sara terperanjat mendengar jawaban William yang mengatakan bentuk tanda lahirnya dengan sangat jelas. Tidak mungkin. Daniel juga memiliki tanda lahir berbentuk cincin hitam kecil di punggungnya dan tidak ada yang tahu tentang itu selain dia dan Martin.


Apakah mungkin anak ini? Tapi, bagaimana bisa? Sara sibuk dengan pikirannya sendiri dan William tidak juga mendengar jawaban yang dia inginkan.