I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Penjelasan



Jacob, teman  William pulang setelah merasa suasana di partemen  kami berubah buruk. William bukan  bayi lagi, sekarang dia mengerti semua pembicaraan orang lain dan dapat membedakan mana yang benar serta salah. Semoga saja, keputusanku untuk menceritakan masalah ini pada anakku tidak membuatnya kesal, marah ataupun sedih.


"Perlu Willy tahu, ibu sangat menyayangimu sampai kapanpun. Ibu sangat bersyukur Willy lahir dalam keadaan sehat dan sangat tampan" Aku menarik napas panjang setelah melihat wajah WIlliam yang menatapku penuh harap. Tapi, bibirku seperti terkunci dan merasa seperti tidak seharusnya aku menceritakan semuanya pada William.


"Apa benar ayahku masih hidup seperti kata nenek tadi?" tanya William. Aku mengangguk dan tidak berani melihat wajahnya.


"Apa benar kalau ayahku sudah memiliki keluarga lain di luar negeri?"


Aku mengangguk lagi lalu kemudian menjelaskan kalau aku juga tidak tahu apakah kabar itu benar atau salah.


"Nenek tua tadi adalah ibu Paman Daniel, dia tidak suka ibu dekat dengan anaknya"


"Karena Paman Daniel adalah pemilik perusahaan tempat ibu bekerja dulu?"


"Bagaimana Willy tahu?"


"Aku pernah bertemu dengannya yang mengajak beberapa orang berkeliling perusahaan dulu, waktu aku ikut ibu pergi ke perusahaan" terang Wiilliam membuatku sangat terkejut. Jadi mereka pernah bertemu sebelumnya dan aku sama sekali tidak tahu.


"Cincin itu?" tanya WIlliam kembali dan aku melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisku.


"Begini ... paman Daniel ternyata adalah calon tunangan bibi Hilda"


"Bibi Hilda di rumah ibu?"


Dengan jujur, aku menjelaskan semuanya pada Daniel. Termasuk alasan cincin ini ada di tanganku lalu perasaanku sebenarnya pada Daniel.


"Ibu tidak memiliki perasaan pada paman Daniel. Sama sekali. Ibu hanya ingin membantunya menghindari pernikahan yang tidak diinginkannya"


"Kalau paman Daniel menyukai ibu?"


Aku tertawa mendengar pernyataan itu dari William. Tidak mungkin Daniel menyukai perempuan dengan anak berumur sepuluh tahun. Apalagi, aku berumur lima tahun lebih tua darinya. Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin Daniel menyukaiku. Benar kan? Kan?


"Apa Willy boleh mengetahui nama ayah kandung Willy?" tanya William lagi membuatku berpikir keras. Bagaimana kalau William mencari nama ayahnya di internet lalu mencoba mencarinya? Aku pasti akan sangat sedih kalau dia melakukan itu. Tapi ... William berhak tahu.


"Ibu akan menulis  namanya, tapi Willy harus berjanji pada ibu. Tidak akan pernah mencoba mencarinya sendiri. Ibu akan membuat Willy mengerti kenapa selama ini ibu selalu merahasiakannya"


Aku menepati perkataanku dengan menulis nama Reynold di atas kertas. Sengaja tidak kuberi nama keluarganya karena takut William akan mencerinya sendiri. William menerima kertas itu lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Aku tidak menyusulnya karena ingin memberinya ruang sendiri. Akhirnya, hari ini selesai juga. Malam semakin larut dan aku memutuskan untuk segera tidur setelah melihat keadaan William.


Sebelum benar-benar tidur, ada pesan masuk di ponselku. Dari Daniel.


"Kudengar, ibu dastang ke tempatmu?'


"Iya. Dia membuat masalah dengan william. Nenek tua itu ... eh maaf. Ibumu mengatakan tentang ayah William"


"Kau boleh memanggilnya nenek tua atau nenek sihir. Besok, aku akan datang ke apartemen untuk membicarakan masalah itu dan juga pernikahan kita"


"Apakah pernikaohan ini diperlukan untuk menghindarkanmu dari Hilda? Dia juga perempuan yang baik"


Setelah pesanku terbaca, tidak ada balasan lagi dari Daniel. Mungkin dia marah karena aku bicara seperti itu. Yang tidak aku tahu, dadniel membalas pesanku pada saat aku telah terlelap dan kemudian dihapus olehnya lagi.


Daniel menarik napas dan merasa kesal karena ibunya mulai mencampuri urusannya. Sejak kecil sampai menjabat menjadi Presiden Direktur di perusahaan suku cadang ini, menggantikan ayahnya. Ibunya sama sekali tidak peduli tentang hidupnbya. Sakit, masalah sekolah bahkan saat dia harus menghabiskan berbulan-bulan lamanya di rumah sakit karena patah tulang kering, ibunya tidak pernah datang. Hanya Martin yang selalu menemaninya kemanapun dan dimanapun. a


Sungguh lucu kalau sekarang ibunya bersikeras menyodorkan Hilda Hardy padanya. Martin memberikan laporan lengkap dimaona ternyata ibunya membuka pabrik besi tua yang sama dengan ayah Nora di luar negeri. Tentu saja dengan uangr tersembunyi miliknya. Dabn sebagai balas budi, kaluarga Hardy menyodorkan calon menantu pada ibu. Sungguh sial, Daniel tidak menyukai Hilda seperti keinginannya, tapi Nora dan anaknya.


Mengenal sifat ibunya, Daniel tahu kalau apartemen Nora akan didatanginya. Tapi Daniel tidak pernah mengra bahwa ibuneya berani mengeluarkan kata-kata yamng menyakiti hati Nora dan cerita ayah William. Untung saja Nora tidak terpancing dan bisa mengendalikan situasinya.


"Aku akan menikahimu walaupun ada banyak Hilda yang lain"


Begitulah insi pesan terakhirnya pada Nora malam ini yang kemudian dihapus lagi setelah Daniel berpikir panjang. Sebaiknya mendekati Nora secara perlahan atau perempuan itu bisa kabur begitu saja sebelum menikah dengannya.


Paginya, Daniel berencana mengajak William pergi ke taman hiburan di kota. Karena bunya sering bekerja, William pasti jaraeng mengadakan perjalanan seperti ini. Awalnya, Daniel ingin perjalan ini sederhana, hanya dia, Nora dan William. Tapi Martin bersikeras untuk tetap menjaganya karena banyak sekali orang yanga akan ada disana. Tentu saja, namanya juga taman hiburan di akhir pekan.


Daniel mmenyerah pada keinginan pengawal sekaligus asisten yang telah mengikutinya selama lebih dari lima belas tahun itu. Dua mobil berarak beriringan menuju apartemen kecil di ujung kota yang sederhana itu.


Baru saja pukul 8 pagi, tapi ada seseorang yang mengetuk pintu dan membunyiksn bel rumah beberapa kali. Aku ingin sekali tidur selama satu jam atau setengah jam lagi sebeum menyiapkan sarapan. William juga masih tertidur di ranjangnya ketika aku berjalan ke arah pintu.


"Siapa ? Aku tidak ingin berlangganan ...  Daniel? Apa yang kaulakukan pagi-pagi begini?"


Daniel terlihat sangat ... segar pag ini. Mungkin karena aku yang baru saja bangun dari mimpi tapi melihat pangeran di dunia nyata sedang berdiri dengan pakaian santai yang berwarna hijau dan coklat.


"Baru saja bangun? Mana William?"


Daniel menerobos masuk ke dalam apartemen saat aku baru saja meregangkan pinggangku karena merasa lelah.


"Di kamarnya, masih tidur"


Dengan bebas, Daniel masuk ke dalam kamar William lalu membisikkan sesuatu di telinganya yang membuat anakku terbangun dengan cepat. Apa yang dibisikkannya?


"Yeeeyy kita akan pergi ke taman hiburan!!!" teriak William kegirangan lalu meloncat dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Taman hiburan? Di hari Sabtu yang tenang dan dingin ini?


Daniel melihatku yang masih dalam pakaian tidur.


"Lebih baik kau berganti pakaian dan bersiap sebelum kami berangkat ke taman hiburan sendiri"


"Apa benar kau akan mengajaknya ke taman hiburan? Pasti lelah sekali nanti. Aku juga belum menyiapkan saranan dan sebagainya. Bagaimana ini?"