
Sial. Bagaimana bisa pemilik minmarket kecil ini tahu kalau aku mencari pekerjaan baru di tempat lain. Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi dalam hal ini. Apa daya, kini aku benar-benar harus mencari pekerjan yang baru. Di dalam amplop terdapat biaya hidup selama satu bulan. Kalau aku tidak mendapat pekerjaan dengan cepat maka terpaksa tabunganku yang berharga haus terpakai.
Malam ini aku harus terjaga sampai pagi demi membuat lamaran yang tak terbtas jumlahnya itu. Semoga kali ini ada perusahaan yang mempekerjakanku dan tidak melihat latar belakang hidupku.
Daniel yang menyaksikan semuanya menahan langkahnya untuk masuk ke dalam minimarket. kalau bisa, dia ingin masuk dan memukuli pemilik minimarket itu karena memarahi Nora di depan pelanggan mereka. Atau dia bisa membeli seluruh sisi jalan ini dan memberikannya pada Nora.
hanya saja, Nora bukanlah wanita yang akan terpukau dengan jabatan atau apa yang dimilikinya. Perempuan kaya yang terbiasa hidup dalam kesusahan itu sangat unik dan membuat Daniel semakin menyukainya.
"Tuan muda, ada rapat tentang penurunan produksi minggu ini" lapor pengawal yang akhirnya dapat mengikuti Daniel ke tempat ini.
"Jaga dia dan William. Aku tidak ingin ada orang ang berani memarahinya atau merendahkannya lagi"
Pengawal sekaligus asisten daniel melihat seorang perempuan yang tampak cantik walaupun menggunakan seragam minimarket lusuh. Meskipun tidak mengerti tentang selera tuan mudanya, perintah tetaplah perintah.
"Saya akan menempatkan beberapa orang lagi untuk berada di sekitarnya saat keluar rumah dan di sekolah" jawab asisten Daniel lalu mempersilahkan tuan mudanya kembali ke mobil. Sebagai asisten, dia tahu kalau perempuan itu bukanlah perempuan biasa. Sebagai pengawal, dia tahu kalau perempuan itu akan berakhir menjadi Nyonya rumah keluarga Hamilton karena rahasia yang tidak bisa diungkapkannya selama sebelas tahun ini.
"Ahhh, akhirnya ... aku kembali menjadi pengangguran secara resmi. Bagaimana dengan besok ya?" Aku masih bisa menertawakan hidupku, jadi semuanya akan baik-baik saja. Kalau aku tidak bisa menertawakan semua kejadian buruk dalam hidupku, itu berarti aku ada dalam jurang keputus asaan.
"Ibu!!!" teriak William saat aku menjemputnya di depan sekolahnya.
"Jarang sekali ibu menjemput, apa hari ini Paman Tinggi itu datang dan mengajak kita makan malam?"
"Kenapa kau memanggil paman itu dengan nama seperti itu. Harusnya Willy memanggilnya, Paman Daniel. Dialah yang memberikan nama bagus itu untukmu"
"Apa benar ibu tidak tahu siapa Paman Tinggi itu?" William menyayangi ibunya tapi tidak tahan dengan kenyataan bahwa ibunya tidak peka.
"Dia adalah Daniel, teman ibu yang membantu ibu bangkit saat sedih"
"Nama belakangnya?"
Aku baru saja sadar kalau tidak pernah tahu dan menanyakan tentang nama belakang Daniel. Tapi, yang terpenting bagiku adalah aku mengenalnya dan dia baik. Mungkin aku aakan menanyakan tentang itu saat kami bertemu lagi.
"Ibu akan menanyakannya kalau kami bertemu, mudah kan?" William menepuk dahinya karena jawabanku.
Kami kembali ke rumah setelah makan malam diluar. Setidaknya satu kali kami bisa makan diluar menggunakan uang pesangon minimarket.
Saat kami telah bersiap untuk tidur, terdengar bunyi bel pintu.
"Siapa, Bu?"
"Paman Tinggimu. Ibu heran, kenapa dia selalu datang larut malam"
aku membuka pintu dan menerima kepala berat itu di pundakku.
Aku mendorong tubuh Daniel menjauh dan melihat wajahnya yang memerah. Dahinya sedikit panas saat aku memegangnya. Apa dia sakit?
"Kenapa dengan Paman Tinggi, Bu?" tanya William saat melihatku membopong Daniel ke kamar.
"Sepertinya Paman Daniel sakit, bisakan William membawakan air hangat ke kamar ibu dan ... sapu tangan?"
Gila, berat sekali badan Daniel, untung saja aku terbiasa mengangkat barang berat. Kalau tidak, pinggangku pasti sudah patah sekarang.
"Kenapa Paman sakit?"
"Memangnya ibu tahu? Dia tidak bicara sejak tadi. Tidurlah atau Willy tidak bisa bangun besok pagi" kataku pada William. Ranjangku seperti penuh karena badan Daniel, tapi, kenapa dia datang kemari kalau sedang sakit?
Dengan usaha keras, aku bisa melepas jas, dasi dan rompi yang menekan itu. Terlihat otot Daniel yang ada dibalik kemeja putih itu. kekar dan terlihat padat. Sudah lama sekali aku tidak melihat tubuh laki-laki dewasa dalam jarak sedekat ini. Apalagi, Daniel sepertinya menjaga berat badan dan tubuhnya.
"Nora, aku merindukanmu dan Willy. Mana Willy?"
Racauan Daniel membuatku sadar kalau laki-laki yang ada di atas ranjangku ini sedang sakit. Badannya semakin panas. Dia harus meminum obat, tapi, apa dia sudah makan?
"Daniel kau ada di rumahku sekarang. Apa kau sudah makan?" tanyaku berbuah kesunyian.Seharusnya aku tidak pernah bertanya pada orang yang sedang sakit.
Setelah mengganti kompres di belakang kepala Daniel, aku pergi ke dapur untuk membuat bubur encer. Semoga Daniel cukup sadar untuk makan dan meminum obat. Dan perkiraanku salah. Untuk mengangkat kepalanya saja, aku harus seperti tukang hipnotis.
"Daniel, kau harus makan dan meminum obat agar sembuh. Kumohon, bangunlah" Aku merasa hilang kesabaran karena merawat Daniel sakit lebih merepotkan dari William.
"Nora, dimana aku?"Akhirnya, aku merasa sangat senang karena akhirnya Daniel sadar. mungkin demannya berkurang?
"Kau di rumahku dan sakit. Apa kau sudah makan?" tanyaku khawatir melihat matanya menjadi tidak fokus. Badannya masih panas, aku harus segera menyuapinya dan membuatnya minum obat. Baru saja aku mengangkat sendok untuk menyuapinya bubur, badanku tiba-tiba tertarik ke arah Daniel dan bibirku tepat menempel di bibirnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tentu saja aku berusaha men dorong tubuhu sendiri ke atas tapi lengan Daniel menahan pinggangku.
"Aku sangat merindukanmu dan Willy" kata Daniel lemah. Rasa marahku langsung menghilang saat mendengar desahan napas yang panas itu.
"Ayo, kau harus makan lalu meminum obatmu" Dengan sabar, aku menahan kepala Daniel dengan bantal dan mulai menyuapinya. Walaupun tidak banyak bubur yang masuk ke dalam mulutnya, aku sedikit merasa tenang karena dia menelannya. Aku bisa memasukkan obat ke dalam mulutnya tanpa kesulitan, hilanglah sedikit khawatirku.
Saat aku keluar kamar untuk meletakkan mangkuk bubur di tempat cuci piring, teringat lagi sedetik bibirku bersentuhan dengan bibir Daniel. Panas. Mungkin karena dia memang sedang demam. Ini bukan saatnya aku memikirkan tentang hal itu. Sebaiknya aku memeriksa William lalu kembali ke kamar.
Syukurlah, William telah tertidur nyenyak dan demam Daniel mulai turun. Keringatnya mulai keluar dan membasahi kemeja putih itu. Memperlihatkan semua lekuk otot yang ada di tubuhnya. Kalau tidak dilepas, akan membuatnya tidak nyaman. Tapi, bagaimana bisa aku melepas kemejanya dan melihat Daniel yang telanjang dada?
Aaahh dasar pikiran gila. Seharusnya aku tidak berpikir seperti itu pada orang sakit. Anggap saja dia William besar. Dan dalam lima menit, aku berhasil melepas kemejanya tanpa melihat dada telanjang Daniel. Setelah memastikan demamnya benar-benar turun, aku pergi tidur di kamar William sekitar pukul 2 pagi.