
Dalam perjalanan ke ruang bayi. Aku melihat beberapa ibu menggendong bayinya dengan sayang. Mereka seperti senang sekali mendapatkan seorang anak. Jadi, apa yang terjadi padaku? Apa aku memiliki masalah pada otak sehingga tidak merasa ingin memeluk bayiku sendiri?
Setelah berjalan perlahan melewati beberapa ruangan dan naik ke lantai lima. Aku mulai mendengar suara tangis bayi yang lemah. Dokter berhenti dan membawaku ke depan kaca. Terlihat beberapa bayi tidur berbaris di dalam ruangan dan aku melihat rambut coklat yang sama denganku.
"Bukankah mereka semua sangat mempesona?" kata dokter membuatku terdiam. Iya, mereka semua memang mempesona. Dan si rambut coklat itu juga terlihat mempesona. Dia sekarang memakai baju yang kubeli. Itu adalah satu dari dua baju bayi yang kubeli di salah satu departemen store.
Gambar beruang besar bertengger di topinya. Ada rasa hangat yang menyelimuti hatiku tiba-tiba.
Perasaan apa ini?
"Lihat topi beruang yang dipakainya? Dan dia sangat tampan. Benarkan?" Aku hanya bisa mengangguk setelah mendengar pertanyaan dokter.
"Apakah Miss Hardy ingin menggendongnya? Dia pasti rindu suara ibu yang sering didengarnya"
Walaupun kata-kata dokter sangat realistis untukku. Entah kenapa, tubuhku menolak begitu kuat. Aku bergetar hebat dan memilih untuk lari ke arah lift. Teriakan dokter tidak lagi kudengar dan aku menahan air mata agar tidak menetes ke pipi.
Setelah sampai di lantai 1, aku keluar dan memilih pergi ke taman. Rasa sakit akibat jahitan yang dilakukan dokter dini hari tadi, kini terasa lagi.
"Apa kau tidak apa-apa?" Aku tersadar dan melihat ke arah seorang laki-laki dengan gips di kaki kirinya serta tongkat pembantu jalan.
"Aku tidak tahu. Tidak tahu ... tidak tahu" Hanya itu yang kukakatakan sejak tadi dan kini aku merasa sangat bodoh.
Daniel Hamilton (18 tahun) yang dirawat karena patah kaki setelah kecelakaan mobil, terkejut melihat betapa cantiknya wanita yang bersamanya di lift. Rambut coklat ikal terurai panjang, wajah putih pucat dan tubuh indah dengan tinggi sekitar 170 cm, membuatnya tampak sangat indah. Belum lagi dada besar yang menonjol dari baju rumah sakit itu. Laki-laki normal sepertinya pasti akan menelan ludah karenanya.
Tapi, perempuan itu seperti memiliki banyak sekali yang harus dipikirkan dalam otaknya. Pandangannya kosong dan tangannya terus mengepal sejak tadi.
"Apa kau butuh bantuan?" tanyanya lalu dibalas dengan pandangan mata hijau yang cantil dari Nora. Bagaimana bisa Tuhan membuat makhluk secantik ini. Daniel semakin tertarik dengan perempuan yang ada di depannya.
"Tidak ... tidak" jawab Nora yang sibuk dengan dirinya sendiri.
Bagaimana bisa aku tidak bisa mencoba untuk menggendong anak sendiri. Apakah ada sesuatu yang salah denganku?
Saat Nora masih berpikir keras, pintu lift terbuka dan Daniel berusaha keluar dengan langkah yang sulit. Gips nya terlalu panjang, langkahnya menjadi terhalang.
Nora yang masih tidak bergeming di posisinya, tidak melihat hal itu. Daniel menjadi agak bimbang dengan kondisi kejiwaan perempuan yang ada di sebelahnya ini.
"Hei, bantu aku!!" katanya kesal dan agak keras.
Aku menoleh dan melihat kaki yang memakai gips terjulur keluar lift. Sedangkan tubuh laki-laki itu seperti akan jatuh ke belakang. Secara sigap, aku menopang badan kurus itu dan mendorongnya dengan kuat ke arah luar.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyaku pada laki-laki yang masih terlihat remaja itu.
"Iya ... eh ... tunggu. Kau yang tidak beres. Ditanya dari tadi, tidak menjawab. Apa kau gila?"
Apa? Beraninya dia mengatakan aku gila? Dan laki-laki itu lebih muda dariku. Bagaimana bisa dia sangat tidak sopan padaku.
Daniel melihat mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. Seperti ingin menangis. Seharusnya dia yang menangis karena pukulan perempuan itu sekeras besi, dan tepat mengenai bekas luka yang tidak terlalu parah di bahu kirinya.
"Apa kau ingin minum kopi?" tanya laki-laki itu dan aku mengangguk pasrah.
Kami duduk di taman yang terang, karena banyak lampu seperti kunang-kunang dipasang disini.
Perlahan, aku meminum kopi di cangkir kertas yang disodorkan Daniel. Dia benar-benar berusia empat tahun lebih muda dariku. Teringat bagaimana aku pada saat berumur delapan belas tahun. Masa muda yang sangat indah. Dan teringat lagi, bayi kecil dengan topi beruangnya di ruangan tadi.
Apa dia sudah makan? Mungkin anak itu sudah tidur sekarang.
"Apa kau sakit?" tanya Daniel, membuyarkan pikiranku yang penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak" Ada keheningan lama diantara kami saat aku selesai menjawab.
"Apa kau tidak bisa membayar tagihan rumah sakit?" tanya Daniel lagi, membuat aku agak tersinggung.
"Tidak. Bukan masalah yang berhubungan dengan uang" jawabku sambil terus tersenyum.
Ingin rasanya aku bicara tentang yang ada di dalam pikiranku saat ini. Tapi, keraguan muncul karena laki-laki ini masih terlalu muda. Dia tidak akan mengerti tentang apa yang kurasakan. Lebih tepatnya, mungkin tidak akan ada yang mengerti tentang kelakuanku saat ini.
"Apapun masalahmu, cepat putuskan. Jangan melamun seperti tadi. Sangat berbahaya" Daniel mengubah posisi kakinya dengan susah lalu duduk di sampingku.
Aku menghela napas panjang dan kembali memikirkan perkataan dokter tadi. Anak itu membutuhkan aku karena hanya akulah satu-satunya keluarga baginya. Tidak ada yang lain. Dan, akulah yang memutuskan untuk tetap melahirkannya walaupun Reynold tidak lagi ingin bersamaku.
Aku menoleh dan melihat wajah tampan Daniel. Sungguh menyenangkan memang, menjadi muda. Tapi aku memiliki kewajiban karena telah melakukan sesuatu yang salah. Jadi, walaupun nantinya akan menjadi hidup yang berat. Aku harus menjalaninya sendiri.
Karena semuanya adalah kesalahanku. Anak itu tidak memiliki kesalahan sama sekali.
Aku tersenyum lebar lalu memegang wajah Daniel dengan kedua tangan lalu mencium keningnya.
"Terima kasih" kataku singkat lalu pergi sesegera mungkin ke ruangan anak.
Tidak peduli rasa sakitt yang masih terasa di perut bagian bawahku. Aku harus segera menemui anakku. Anak yang ada dalam perutku selama sembilan bulan.
Akhirnya, aku tiba di ruangan bayi dan meminta ijin masuk. Mencoba menggendongnya pertama kali pasti tidaklah mudah. Aku harus menempatkan tangan dengan baik, agar bayiku tidak terganggu tidurnya.
Bibir merah, kulit pucat dan jari yang sangat kecil. Tangan, kepala dan semuanya sangat kecil, membuatnya terlihat rapuh. Matanya masih tertutup dan topi beruang ini sangat sesuai dengannya.
"Selamat. Miss Hardy memiliki anak laki-laki yang sangat tampan" ucapan itu datang dari dokter dari luar kaca. Dia melihatku penuh syukur dan kubalas hanya dengan senyuman
"Terima kasih, Dokter" jawabku dengan sangat pelan, takut bayi ini bangun.
Memeluknya ternyata membuat aku merasa tenang. Ibu akan membesarkanmu dengan usaha dan kerja keras. Bersabarlah menjadi anak ibu dan kita akan bahagia berdua.